Koalisi Arab Rela Kehilangan Kota Suci Yerusalem, untuk Lawan Iran

AS dan sekutunya telah memberi jalan bagi Israel untuk memperluas penjajahannya atas Palestina. Perjuangan Palestina sekarang jelas menjadi tidak penting bagi mereka karena apa yang mereka persepsikan sebagai acaman di kawasan Timur Tengah adalah Iran. 

Dan hasilnya, Yerusalem kini dicuri di siang bolong, hilang begitu saja tanpa ada satupun tembakan peluru, kecuali kasak kusuk para diktator Arab yang tidak pernah dipilih rakyatnya untuk mendapatkan tempat spesial di hati para politisi Washington dan Tel Aviv.

Ambil contoh Saudi. Pengklaim penjaga Dua Masjid Suci yang kini dipimpin Putera Mahkota Mohammed bin Sultan, putera mahkota yang hati dan otaknya lebih terpaku dengan fantasi tentang Silicon Valley di gurun pasir ketimbang masjid suci (Al Aqsa) di padang pasir lainnya.

Arab Teluk kini dipenuhi oleh para “moderat Arab pro Barat”, seperti MbS. Pangeran muda yang baru berumur 30-an ini dibesarkan oleh kotak game Xboxes, dicekoki terus menerus dengan informasi yang terkontrol dari para penasehatnya yang menjilat dan buta terhadap sejarah Islam. Orang dengan mudah dapat membayangkan MbS sedang duduk bersila di salah satu ruangan Majlis pribadinya,  menggosok karpet tempat duduknya, sembari mengangguk setuju ketika Jared Kushner, Yahudi fanatik, menantu Trump ini menawarkan kesepakatan “berharga” Israel-Palestina dan bagaimana blok Saudi-Emirat dapat menghadapi Iran dengan bantuan Israel, dan bagaimana ujungnya, tim Trump dapat menggaransi kekuasaannya di masa depan. Dan setiap orang bergembira dengan kesepakatan tersebut. 

Sebuah hadiah yang tidak ternilai harganya dari seorang politisi yang kini sedang menghadapi penyelidikan kriminal maupun politisi sejenisnya,  yang menjadi pengingat memalukan betapa dunia Arab kini tenggelam di mata Amerika. 

Pendeknya, Saudi dan Emirat telah membenarkan semua komentar lembaga think tank pro Israel yang bertahun-tahun menyerukan “para negara moderat Arab” untuk melawan Iran dan tidak  lagi peduli  urusan Palestina, setidaknya dalam ruang privat mereka. 

Ketika pendudukan Israel dan penderitaan rakyat Palestina semakin meluas, Saudi justru mengulurkan tangannya memeluk Israel dengan telanjang.

Duta besar Uni Emirat Arab, tampak berbicara di TV untuk melegakan pemirsa Amerika, bagaimana negaranya ingin mendukung “pemerintahan sekuler yang kuat, makmur dan stabil” di dunia Arab. 

Baik Arab Saudi dan UEA bekerja tanpa henti memindahkan negara-negara sekitar menuju “moderasi” versinya, sementara -yang mereka tidak mereka pahami adalah bahwa Israel dan Amerika kini tengah bergerak menuju kearah Islamophobia ekstrim. Trump sendiri menang karena platfromnya tersebut. 

Diawali dengan kebijakan larangan Muslim oleh Trump yang hampir tidak ditentang  negara-negara Arab. Setelah  menebar kebencian terhadap Islam dan Muslim di sepanjang kampanye mereka, Saudi malah mengundang Bannon, Trump dan seluruh gang jahatnya ke Riyadh dan memuja-mujinya. Apa yang mereka lakukan sama seperti orang-orang yang kehilangan kejantanannya. 

Dan benar, negara-negara Arab telah kehilangan kredibilitas kejantanannnya terhadap Israel baik secara ekonomi, politik dan militer, membiarkan negara Zionis itu memporak-porandakan Gaza, membangun permukiman ilegal di tanah Arab, dan secara perlahan membersihkan rakyat Palestina dari tepi Barat dan kini Yerusalem dengan dukungan Amerika. Lupa bahwa dulu pada perang Oktober 1973, pasukan Arab pernah melukai hidung Israel, sehingga berujung kepada penarikan mundur Israel dari wilayah pendudukan Sinai dan sebagian Dataran Tinggi Golan. Kekuatan Arab yang bersatu ada  di balik aksi embargo minyak. Namun sejak itu, Arab tidak lebih guyonan. 

Maju ke 2017, negara-negara Arab sulit untuk bersetuju atas segala sesuatu. Alih-alih, Uni Emirat Arab dan Saudi mencoba meyakinkan dunia bahwa Qatar  dan TV Al Jazeera adalah ancaman perdamaian kawasan. Negara-negara tersebut menjalin perdamaian dengan Israel dan meninggalkan saudara-saudaranya, Arab di Palestina. Mesir dan Yordania bahkan lebih jauh melakukan apapun yang menyenangkan Israel untuk mendapatkan uang AS, sekalipun menyebabkan kemarahan rakyatnya. 

Dengan suap Amerika itu, perdamaian dengan Israel tetap terjaga, dengan senjata senjata canggih yang dipasok Amerika pula, para diktator Arab itu dapat membungkam rakyatnya. 

Kini perhatian para diktator itu ada pada Iran, khususnya setelah tewasnya Ali Abdullah Saleh di Yaman. Hanya, tunggu waktu, Trump, Netanyahu, aliansi Saudi/Emirat dengan tangannya Blackwater (yang kini bernama Academi) akan bergabung menggasak Iran. Saudi dan Emirat akan menggunakan keunggulan kekuatan udara, mesin perang dan dukungan AS untuk berperang melawan Iran lebih dekat. 

Lihat akibatnya, Yerusalem menjadi korban yang dibutuhkan untuk menarik Israel. Pada saat bersamaan, langkah itu akan menjadi puncak dari segala ironi bahwa Iran -pendukung Yerusalem yang terus melawan Israel- akan  mengambil keuntungan secara politik di mata rakyat Arab dan Muslim di jalanan.

Iran akan menjadi pemenang di mata Arab dan Muslim dunia, sebaliknya tindakan para diktator tadi justru akan menunjukkan kebangkrutan mereka, jauh lebih besar ketimbang kekacauan yang mereka buat untuk Yerusalem. Yang jelas, Israel akan menjadi penikmat terbesarnya ketika Trump dan Kushner menjalankan gagasannya. 

Tragedi ini tidak untuk Trump maupun Netanyahu karena manuver mereka. Setelah bertahun konflik sektarian di dunia Islam, kita menyadari  adanya keyakinan bahwa membunuh Muslim lain tampaknya lebih penting ketimbang mempertahankan tempat suci dari penodaan dan penjarahan Israel. Dan Yerusalem kini terbukti menjadi katalisnya. 

Sumber: TRT World Turki

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *