Konflik Saudi Versus Iran Ditengah Konstelasi Dunia yang Berubah

Sepeninggal Raja Abdullah pada Januari 2015, Arab Saudi menampakkan taringnya di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dibawah penggantinya, Raja Salman. Arab Saudi tampaknya merasa terancam seiring naiknya pengaruh Iran sebagai kekuatan regional di kawasan tersebut. Monarki Saudi jelas tidak ingin lagi memainkan peran minimal dalam menghadapi misi Teheran yang hendak mendominasi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Dalam beberapa minggu di awal kekuasaannya, Salman membuat gebrakan dengan melakukan operasi militer independen untuk pertama kalinya. Pada 26 Maret, Saudi melancarkan operasi koalisi untuk menyingkirkan para pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran dan memulihkan kembali pemerintahan Presiden Vaul Rabbuh Mansur Hadi. Para analis segera membuat analisis apa yang akan terjadi di masa mendatang. Apakah perang di Yaman merefleksikan kebangkitan hegemoni Saydu? Apakah Iran akan membalas dengan menyerang target didalam negeri Saudi?  Seberapa kekuatan riil militer Houthi? Dan apakah Yaman akan menjadi Vietnam-nya Saudi?

Ketika bilangan bulan telah berlalu, diluar koalisi Saudi memukul mundur Houthi dan pasukan yang loyal kepada Presiden Ali Abdullah Saleh dari Yaman Selatan, tampak jelas bahwa ide koalisi mengalahkan mereka dengan pemboman dari udara bukanlah strategi jitu seperti yang diperkirakan. Houthi dan para pendukung Saleh mulai mengintensifkan pengepungan kota Taiz, menahan semua upaya pasukan pemerintah pro Hadi dan para pejuang lokal untuk merebut ibukota Sanaa. dan bahkan juga mulai menyerang target di wilayah Saudi. Tidak hanya gagal mengatasi serangan lintas batas di Jizan dan Najran, alih-alih, pemberontak Houthi  mulai menyerang wilayah terdalam Saudi dan menarget Taif dan Makkah, seolah memberi pesan bahwa mereka juga bisa menyerang Jeddah jika mau. Maka dapat dipahami jika banyak yang menilai bahwa kerajaan Saudi sekarang berada dalam posisi mundur permanen.

Pada 2006, Resolusi Dewan Keamanan PBB 1969 menuntut bahwa Iran harus mengakhiri program pengayaan nuklirnya. Resolusi ini diikuti dengan sanksi PBB yang menarget ambisi nuklir Iran dan pertumbuhan ekonomi mereka.  Banyak yang menilai pula bahwa sanksi terhadap Iran tersebut akan menggoyang pemerintah mereka.

Namun, Iran ternyata masih menggaransi kepentingannya dengan mempersenjatai, melatih dan mendanai semua kekuatan proxy-nya di seluruh Timur Tengah, khususnya di Suriah, Irak, Yaman dan Lebanon.  Ketika sanksi dicabut, ekonomi Iran diperkirakan akan semakin membaik. Berdasarkan laporan IMF, ekonomi Iran untuk 2016-2017 “akan mengalami perbaikan secara substansial” dan bahwa “GDP Iran akan diproyeksikan tumbuh setidaknya 4,5 persen”. Inflasi juga diprediksikan berada dibawah 10 persen. Teheran berhasil membuktikan salah atas siapa saja bahwa sanksi yang dihadapinya membawa kepada kejatuhan jangka panjang atas Iran.

Dibandingkan ekonomi Iran yang mengalami pemulihan seiring pencabutan sanksi, maka tidak realistis pula untuk membandingkannya dengan Arab Saudi, karena kemunduran yang dirasakan oleh Saudi lebih merupakan produk dari tindakannya sendiri ketimbang tekanan internasional. Oleh karena itu, Saudi harus dilihat dalam konteks sebagai kekuatan regional dan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia atau sekitar 20 persen cadangan minyak dunia. Militer tidak ketinggalan jauh dari Iran, menempati posisi 24 dunia, sementara Iran pada posisi 21.

Riyadh baru saja mengeluarkan rencana APBN yang menunjukkan bahwa negeri ini telah mampu memotong defisit anggarannya sepertiga, menjadi 79 milyar dollar berbeda dengan 98 milyar dollar pada 2015. Riyadh kini dapat membanggakan diri karena melampaui targetnya 87 milar dollar pada tahun ini, meningkat menjadi 8 milyar dollar. Oleh karena itu, jika terjadi “kemunduran” setelah “setahun yang berani”, banyak tanda yang menunjukkan bahwa diskursus kemunduran Saudi dapat diuji kembali.

Pembandingan perang Saudi di Yaman dengan AS di Vietnam juga memiliki banyak cacat. Membandingkan rivalitas Saudi-Iran dengan kedinamisan Perang Dingin tidak tepat. Perang Dingin adalah pertarungan dua kekuatan dunia dalam tata dunia yang bipolar.Bagi AS dan Uni Soviet, perang mereka adalah perang untuk menjamin kekuatan dan kepentingan mereka dengan skenario menang atau kalah. Invasi Uni Soviet di Afghanistan meninggalkan luka yang mendalam sehingga merusak kekuatannya secara permanen. Namun, Iran dan Arab Saudi sedang menggunakan rivalitas militernya dalam konteks bahwa ada banyak negara kuat di kawasan itu yang siap mengamankan kepentingannya tersebut.

Apa yang unik tentang rivalitas antara Teheran dan Riyadh saat ini adalah bahwa rivalitas itu terjadi di dunia yang tidak ada lagi konsep bipolar, meskipun juga tidak multipolar. Kedua negara itu telah menunjukkan cukup otonominya dengan mengendalikan proxy-nya dan berperang dengan tanpa memberitahu AS. Pada saat yang sama, mereka masih terdampak dengan kebijakan luar negeri dari kekuatan dunia lainnya.

Belum terlalu jelas bagaimana  presiden Donald Trump akan berdampak kepada kawasan, namun baik Arab Saudi maupun Iran memiliki alasan untuk khawatir dengan masa depan mereka. Sentimen hawkish dan anti Iran Menhan Donald Trump James Mattis menjadikan Iran marah; Menhan tersebut menganggap Menlu Saudi Adel Al Jubeir sebagai sahabat dekatnya. Ketika para agen Iran mencoba membunuh Jubeir pada 2011, Mattis dengan cepat menyatakan kemarahannya dan mendukung duta besar Saudi ini.

Pada saat yang sama, Trump berulang kali menyerukan untuk menutup impor minyak dari Arab Saudi. Tidak jelas bagaimana dan kapan dia akan melakukannya. Apakah dia akan benar-benar melakukannya. Dia juga memberikan dukungan UU JASTA yang akan mengijinkan warga AS untuk menuntut Arab Saudi karena menjadi kaki tangan serangan 9/11. Ketika Obama memveto UU, Trump menganggap tindakan Obama itu sebagai “memalukan dan akan menjadi salah satu titik rendah era kepresidenannya.” 

Jika prediksi ini benar, maka kedua negara harus bersiap-siap untuk menghadapi skenario terburuk dalam kepemimpinan Trump. Ini termasuk kebijakan luar negeri yang akan menjadikan Teheran dan Riyadh tetap menebak apa yang akan terjadi kedepan. Mereka akan terus menebak pada sisi mana Washington akan berpihak.

 

Kebangkitan dan kemunduran Saudi dan Iran tidak dapat diukur dengan performan ekonomi mereka semata. Sanksi telah diberikan kepada Saudi dan Iran pada masa lalu, dengan tujuan menghalangi pertumbuhan mereka dengan pelbagai cara. Ketika rivalitas kedua negara itu terus berlanjut melalui perang proxy mereka, baik Saudi dan Iran akan terus melihat stabiliras mereka dan status yang naik turun di tata dunia yang tengah bergeser.

The rise and retreat of both Saudi and Iran cannot be measured by their economic performance alone. Sanctions have been placed on both Saudi and Iran in the past, with the aim of impairing their growth in various ways. As the rivalry between them continues to be manifested through proxy wars, both Saudi Arabia and Iran are going to see their stability and status fluctuate in a changing world order.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *