Kudeta Turki: Perang Intelejen State Versus ‘State Within State’

Mengikuti kudeta di Turki 25 Juli lalu memperlihatkan bagaimana pertarungan antara pemerintah yang didukung rakyat melawan struktur parallel dalam negara (Yeni Kapi) yang well-established  dan sangat rahasia.

Konon seorang menteri pada kabinet Binali Yildirim ditelpon seorang teman masa kecilnya yang mengaku suaminya ditahan karena dituduh terlibat kudeta. Dia adalah pejabat penting di sebuah provinsi di Turki. Sang menteri sendiri tidak begitu yakin dengan tuduhan tersebut. Dia tidak seperti para pelaku kudeta lainnya yang tampak memiliki keterkaitan formal dengan Gulenis. Apakah ikut dalam aktivitas formal mereka, atau memiliki akun rekening di bank Asya atau setidaknya berlangganan koran Zaman milik mereka. Sementara anaknya sendiri juga tidak bersekolah di lembaga jaringan Gulen.

Oleh karena itu, dia berjanji membantu dan mencari informasi ke aparat keamanan. Namun di luar dugaannya, aparat keamanan memberikan data dari Badan Intelejen Turki yang menjelaskan bukti keterlibatan sang suami itu dalam jaringan Gulenis. Rupanya, suaminya adalah pengguna aplikasi komunikasi Bylock yang digunakan kelompok Gulenis dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Selama 1 tahun, dia berkomunikasi secara khusus dengan seorang yang disebut “Imam” dalam jaringan militer Gulenis di provinsi itu sebanyak 109 kali. Imam adalah terminologi yang dikembangkan kelompok Gulenis yang mengacu pemimpin politik di suatu tempat. Sejak itu, sang menteri kemudian lepas tangan setelah melihat dokumen tersebut. Data Bylock sudah lebih dari cukup untuk meyakinkannya.

Bylock adalah aplikasi komunikasi rahasia yang dikembangkan para pelaku kudeta untuk berkomunikasi diantara mereka. Dari cara kerja aplikasi ini sendiri juga sudah cukup menimbulkan kecurigaan aparat keamanan. Bagaimana tidak? Perusahaan aplikasi ini didaftarkan di AS dengan nama dan perusahaan AS, namun servernya ada di Lithuania, Eropa, sedangkan 99 persen para penggunanya adalah orang-orang Turki.

“98 persen pesan dan email yang dikirim berasal dari Turki dan menggunakan nama Turki,” kata pejabat intelejen MIT.

ByLock pada dasarnya adalah software layanan pesan yang sederhana, didesain sedemikian rupa bahwa anda tidak semata-mata mencari nama telpon orang yang hendak anda ajak berkomunikasi, namun anda harus memasukkan kode beberapa digit sebelum berkomunikasi. Agar anda dapat menelpon sesama pemakai Bylock, maka anda harus juga memasukkan nomer kode numerik, demikian pula sebaliknya. Jadi sudah dapat ditebak bahwa ByLock sejak mula didesain untuk tujuan yang mencurigakan. Para pelaku kudeta yang ditahan semuanya menggunakan aplikasi Bylock sebelum mereka kemudian menghentikan semua komunikasi telepon, SMS dan Whatsapp.

Para Gulenis menghentikan semua komunikasi konvensional mereka setelah operasi anti korupsi 17 dan 25 Desember yang menarget para pejabat dan orang-orang dekat Erdogan. Sementara sejak operasi penyadapan pembicaraan terbongkar, MIT beberapa bulan sebelumnya  telah memulai upaya pembersihan intelejen dari jaringan Gulenis. Hakan Fidan menggeser kepala intelejen elektronik, Basri Aktepe ke posisi tidak penting karena dicurigai memiliki keterkaitan dengan Gulenis. Pada saat operasi anti suap Gulenis berlangsung, pemerintah juga memutasi Osman Nihat Sen yang menjabat kepala lembaga komunikasi internet (TIB) dan digantikan dengan kolega Fidan, Cemalettin Celik. Sen sendiri adalah teman dekat Aktepe.

Pada saat Celik menjabat ketua TIB inilah terbongkar bahwa terdapat program mata-mata dalam 14 ribu software mereka, dimana semua dokumen yang dikirimkan oleh MIT, polisi dan garda nasional ke TIB disadap dan dikirimkan ke alamat di AS. Karena itu, pemerintah kemudian menghentikan semua operasi TIB karena menganggap sistem dalam institusi tersebut telah diinfeksi. Sen, Aktepe dan 20 kolega lainnya kini mendekam dalam penjara atas tuduhan penyadapan ilegal, termasuk telpon para pejabat yang telah dienkripsi oleh TUBITAK dalam rangka mencegah penyadapan oleh pihak asing.

Selanjutnya, tim Cyber MIT menyadap server di Lithuania dan mengirim semua IP dalam server tersebut ke markas MIT di Ankara. Hasilnya, terdapat 215,920 pendaftar Bylock dan MIT berhasil mengungkap 165,178 identitas penggunanya pada awal September. Selebihnya, sulit diidentifikasi karena mereka menggunakan kartu SIM dan jaringan ADSL atas nama orang lain. Diduga mereka adalah orang-orang penting dalam hirarki Gulenis.

Pada Mei 2016 sebelum kudeta, MIT sendiri sebenarnya telah berhasil mengidentifikasi 40 ribu nama, kebanyakan bekerja sebagai PNS. Nama-nama tersebut selanjutnya diserahkan  ke lembaga-lembaga tempat mereka menginduk. Namun, sebelum MIT bergerak  lebih jauh, seorang insinyur yang bekerja dalam jaringan Gulenis ternyata berhasil mendapatkan nama 600 petinggi militer pro Gulenis yang akan digantikan dalam Dewan Tinggi Militer pada akhir Juli. Daftar itu selanjutnya diserahkan kepada  Mustafa Koçyiğit, kepala pusat intelejen data kantor perdana menteri. Dari bocoran itulah diduga kuat rencana aksi kudeta dirancang dan dijalankan sebelum Dewan Tinggi Militer benar-benar menyingkirkan 600 pejabat tinggi militer tersebut. Bagi mereka, kudeta 15 Juli sangat  berkaitan dengan upaya mempertahankan posisi influensial mereka terakhir yang belum disentuh pemerintah dan sebagai pertarungan eksistensial terakhir.

Pertanyaannya, mengapa MIT gagal menghentikan kudeta jika mereka dapat membongkar aplikasi ByLock sebelumnya? Setelah mengetahui bahwa aplikasi mereka  disadap maka mereka segera menghentikan para registrar dari Turki pada November 2015 dan segera melindungi identitas mereka dengan VPN alternatif dan proxy server. MIT sendiri juga telah menghentikan operasinya pada Desember 2015 dan Januari 2016, sebelum ByLock berhenti beroperasi. Mereka mengetahui bahwa jaringan Gulenis telah menggunakan aplikasi lainnya, Eagle yang sangat dipercaya bahwa aplikasi tersebut digunakan sebagai persiapan untuk kudeta. Sebelum MIT berhasil membongkarnya, kudeta keburu terjadi.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *