Laporan PBB: Israel Hancurkan 25 Persen Rumah Palestina di Tepi Barat

Laporan terbaru Badan PBB untuk Kordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan penghancuran rumah warga Palestina oleh Israel di wilayah pendudukan sangat mencengangkan.  Disebutkan dalam laporan tersebut, sebanyak 684 rumah warga Palestina telah dihancurkan selama setengah tahun ini, dibandingkan dengan total 531 rumah pada tahun sebelumnya. Terjadi peningkatan 25 persen penghancuran rumah di kawasan sekitar Yerusalem Timur (wilayah yang dicaplok Israel pada 1967) dan lokasi yang disebut sebagai wilayah C menurut Perjanjian Oslo. Wilayah C sendiri mencakup 60 persen dari total wilayah Tepi Barat dan kini berada dibawah kendali administrasi dan keamanan Israel. Hingga tahun ini, sebanyak 574 rumah warga Palestina dirobohkan di wilayah ini, dibandingkan dengan 453 di 2015. Di Yerusalem Timur, jumlah bangunan yang dirobohkan Israel hingga 4 Agustus mencapai 110, dibanding 78 pada 2015.

Israeli-forces-demolish-Palestinian-homes-houses-02Para aktivis Palestina dan Israel menduga bahwa tindakan Israel di wilayah C dan Yerusalem dilakukan karena alasan politik. Salim Shawameh, yang rumahnya terletak di desa Anata, Yerusalem Timur mengaku jika rumahnya telah dirobohkan sebanyak 7 kali dan kini dipaksa pindah sementara ke Kufr Aqab. Dia berharap suatu hari dapat kembali ke kampung halamannya dan membangun kembali rumahnya.

Seperti dituturkannya kepada Al Monitor, “Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, setelah penjajahan Israel dimulai, Israel membiarkan saya dan tidak mengusik rumah saya. Namun kini mereka menghancurkankan rumah saya dan saya membangunnya kembali. Mereka menghancurkan sebanyak 7 kali.”

Ayah, 7 anak ini, mengatakan dia mengeluarkan banyak uang untuk menghentikan penghancuran rumahnya secara hukum, namun usahanya sia-sia. “Saya telah mengeluarkan 5000 dollar untuk melacak bukti kepemilikan, namun tidak banyak membantu,” keluhnya. Dengan catatan tanah sendiri sebenarnya dapat ditelusuri asal muasal kepemilikan tanah di Palestina mulai era Usmani, Inggris hingga Yordania.

Israeli-soldiers-demolish-Palestinian-houseMembangun rumah di Yerusalem Timur hampir tidak mungkin dilakukan warga Palestina, karena Israel tidak mau mengeluarkan rencana induk zonaisasi. Tanpa master plan dari  Israel maka ijin pembangunan tidak akan keluar. Hal ini yang mendorong Shawamreh tetap membangun rumah meskipun tanpa izin. Rumah yang dibangun tanpa izin ini  akan dihancurkan Israel dan para pemiliknya dipaksa membayar biaya penghancurannya.

Daniel Seidermann, pengacara Israel spesialis  Yerusalem mengatakan bahwa target penghancuran rumah di sekitar Anata, Ussawiya dan Silwan sendiri membuktikan bahwa tindakan Israel tidak lakukan tanpa tujuan. Negara Zionis itu pada satu ingin menghukum warga Palestina dan di sisi lain, ingin menunjukkan siapa bos sebenarnya di Yerusalem. “Jadi penghancuran berulang  ini mempunyai agenda tertentu,” tandasnya

Baik AS dan Uni Eropa  telah menentang aksi penghancuran rumah warga Palestina. Duta Besar Uni Eropa untuk Israel, Lars Faaborg Andersen mengatakan tindakan Israel sulit dijelaskan di Eropa. “Pada satu sisi menghancurkan rumah warga Palestina yang dibangun tanpa ijin, namun di sisi lain, tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk membangun rumah secara legal dan tidak pernah mengeluarkan rencana induk pembangunan rumah warga Palestina di wilayah C.

 Alasannya? “Penghancuran rumah ini dimaksudkan untuk menyingkirkan warga Palestina, dipaksa ke luar kota dan meningkat kehadiran Yahudi di Yerusalem Timur,” ungkap Jeff Halper, pendiri Komite Israel Anti Penghancuran Rumah.

 

 

Israeli-forces-demolish-Palestinian-homes-houses-01Ada kekhawatiran bahwa penghancuran juga akan berlanjut ke  Lembah Yordan, yang sering dicurigai sebagai awal aneksasi Israel. Jaadi Issac, Direktur Institut Yerusalem mensinyalir bahwa Israel ingin memecah Tepi Barat menjadi dua negara. “Israel berencana memberi 75 persen wilayah C kepada pemukim Yahudi atau total 60 persen dari wilayah Tepi Barat, sehingga akhirnya negara Palestina hanya menyisakan kantong-kantong terisolasi yang kurang dari 50 persen dari wilayah aslinya.”

Organisasi HAM Israel B’Tselem juga menolak penghancuran rumah-rumah tersebut. Lembaga ini menyatakan, “Tindakan Israel dilakukan dalam rangka membangun  fakta di lapangan yang kemudian akan menjadi realitas baru yang sulit dirubah dalam perjanjian damai di masa mendatang, yakni mengusir warga Palestina dari wilayah C dengan dalih yang tidak jelas.”

 

Namun yang jelas, motivasi politik Israel di balik tindakan penghancuran rumah-rumah warga Palestina sendiri terang benderang. Israel sepenuhnya menyadari bahwa kini tidak ada lagi pihak yang akan menghalang-halangi pelbagai pelanggaran yang dilakukannya di wilayah pendudukan, baik dari warga Palestina sendiri maupun masyarakat internasional. Ketika perhatian masyarakat dunia terkonsentrasi kepada masalah radikalisme ISIS dan krisis pengungsi Suriah, maka  kini Israel melihat waktunya tepat untuk melakukan apapun yang dikehendakinya, karena tidak ada yang berani melawannya.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *