Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/post-template.php on line 275

Latar Di balik Rekonsiliasi Hamas dan Fatah

Dengan kesepakatan rekonsiliasi dicapai antara Hamas dengan Otoritas Palestina, perhatian seharusnya diarahkan kepada dampak kemanusiaan atas hukuman kolektif yang dikenakan Mahmoud Abbas atas rakyat di Jalur Gaza. Hukuman kolektif ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menggagalkan kendali Hamas atas wilayah tersebut. 

Rabu, Wafa dan Alray melaporkan bahwa pembangunan kembali pasokan kembali listrik ke Gaza akan tergantung kepada apakah “Pemerintah Konsensus Nasional Palestina dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di Gaza”. Pernyataan tersebut membuka beberapa interpretasi, yang paling berbahaya bagi rakyat Palestina karena dapat menjadi korban keterlambatan tambahan setelah penandatangan kesepakatan rekonsiliasi. 

Menurut direktur Energi Palestina, Thafer Milhem, listrik adalah salah satu isu yang dibahas selama pembicaraan rekonsiliasi di Kairo. Meskipun ada kesepakatan bahwa pasokan listrik ke Gaza akan kembali dipulihkan, namun Milhem mencatat bahwa tidak ada batas waktu yang jelas untuk implementasinya. Dengan demikian, rakyat sipil masih tetap menjadi korban permainan politik Abbas. Patut diingat bahwa persyaratan yang diberikan kepada Hamas oleh Abbas sebagai konsesi dicabutnya hukuman kolektif  atas Gaza adalah penghapusan komite administratif Gaza, yang sebelumnya dibentuk oleh Hamas. 

Namun, persyaratan tersebut menjadi langkah pertama yang harus disetujui Hamas untuk melepaskan kendali Gaza atas nama persatuan politik. Masih harus tetap dilihat seberapa besar gestur ini akan berpengaruh kepada Hamas dan penduduk sipil di wilayah itu. 

Persyaratan tersebut dalam beberapa tingkat merefleksikan pemaksaan kolektif sosial, ekonomi dan politik. Gaza telah melewati garis baik dalam menyatukan ketiga sektor tersebut. Meskipun berbeda, masing-masing sektor tersebut merefleksikan bentuk perlawanan anti kolonial. Tuntutan otoritas Palestina mengaburkan kerangka ini dan gerakan perlawanan dipaksa merunduk karena adanya upaya kolaboratif antara Israel, otoritas Palestina dan komunitas internasional terhadap mereka. Bagi rakyat, langkah ini lebih dianggap sebagai masalah bertahan hidup dalam kondisi yang sangat buruk.

Sementara itu, Hamas disisi lain telah timbul tenggelam di antara metode perlawanan dan diplomasinya. Hanya saja, upaya terakhir ini mengalami ketidakjelasan sehingga tampak pernyataan politik gerakan ini bertabrakan dengan tujuan pembebasan itu sendiri. Ini tentu tidak untuk mengatakan bahwa otoritas Palestina dan Hamas memiliki tujuan identik.  Hamas terpaksa harus berkompromi di tengah ketidakcakapan otoritas Palestina untuk menyelamatkan rakyat Palestina. 

Disaat kesepakatan rekonsiliasi menjadi fokusnya, ada latar belakang yang bertentangan dengan apa yang tengah terjadi, yakni orang-orang tengah menderita konsekuensi kemanusian karena penghinaan politik ini. Bagi otoritas Palestina yang terus memainkan permainan politiknya tentu hal ini  tidak dapat diterima. Dengan tidak memberikan batas waktu yang jelas dalam melanjutkan atau menyediakan akses listrik sebagai prioritas, rakyat Palestina sekali lagi dipaksa mengorbankan kesehatan, pendidikan dan kehidupan mereka demi permainan politik seperti yang ditunjukkan otoritas Palestina. Namun setidaknya ini yang dapat dilakukan agar Abbas mencabut hukuman kolektifnya, jika tidak boleh jadi keadaan yang lebih buruk akan terjadi. 

Facebook Comments

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *