Masjid Al Aqsa Dalam Krisis

Mohammed Abu Rumman

Apapun hasil konfrontasi sekarang di Masjid al Aqsa yang pecah karena keputusan Israel untuk memasang alat pendeteksi logam bagi para jamaah, ada sebenarnya beberapa tanda penting dan berpengaruh yang dapat diamati dalam konteks perkembangan peristiwa. Awalmya, kita harus melihat konfrontasi bersenjata di halaman masjid beberapa pekan lalu dan selanjutnya keputusan Israel untuk menutup masjid dan melarang kaum Muslimin sholat didalamnya.

Banyak media Arab menyimpulkan bahwa isu ini sebenarnya merupakan uji coba Israel atas opini Arab pada umumnya dan rakyat Palestina pada khususnya, dan hal ini tidak terkait dengan upaya pemerintahan fundamentalis Benjamin Netanyahu untuk mengubah status quo Masjid Al Aqsa. Benarkah itu?

Mungkin, namun apakah Israel benar-benar membutuhkan uji coba pendapat bangsa Arab dan reaksi para rejim Arab? Realitasnya adalah para rejim ini benar-benar meninggalkan perjuangan Palestina dalam kalkulasi dan pertimbangan mereka, dan demikian pula dalam dirkusus politik dan media, dan bahkan dalam perencanaan hubungan regional mereka. 

Konflik dengan Israel lagi mempresentasikan kepentingan dari rejim itu sendiri karena mereka sendiri telah  disibukkan dengan konflik regional, seperti krisis Teluk dan konfliknya dengan Iran yang dianggap Arab Saudi sebagai ancaman eksistensial. Ada juga krisis internal dan perebutan kekuasaan di Mesir, Suriah, Irak, Yaman dan Libya. 

Israel tidak lagi mengeksplorasi derajat kevakuman strategis para rejim Arab. Tidak ada lagi rejim yang mengangkat slogan nasionalis dan revolusioner melawan Israel seperti Nasser, Saddam Hussein atau bahkan Haefez al Assad. Kemungkinan satu-satunya negara Arab yang masih bicara tentang Yerusalem dan isu Palestina sebagai prioritas diplomatik adalah Yordania yang lagi berjuang sendirian. Ini disebabkan karena pertimbangan sosial, politik, sejarah dan strategis yang menjadi jantung kepentingan kerajaan Hasyimiyah ini. 

Sementara, dua negara lain yang tampak berbicara lantang dan keras kepada Israel, setidaknya dalam retorika adalah Iran dan Turki. Paradoks ini menggambarkan sebenarnya daya pengaruh dan kerentanan situasi Arab sekarang. 

Apakah Israel membutuhkan eksplorasi dan uji coba reaksi bangsa Arab? Saya kira kemampuannya untuk membaca situasi adalah pengganti atas upaya ini. Sekarang ini, Suriah sibuk dengan perang saudara yang menyebabkan hampir kehancuran total, keterusiran dan pembunuhan yang jauh lebih besar daripada bencana yang dihadapi rakyat Palestina sekarang. Permasalahan berasal dari rejim Assad dan Iran, yang mengklaim mendukung perjuangan rakyat Palestina. Irak tidak ada beda ketika berbicara tentang perang sektarian yang tengah berkecamuk dan tidak kalah gentingnya. 

Ini juga berlaku atas penduduk Yaman, Libya dan Mesir yang tidak jauh dari Israel. Bahkan negara-negara Arab Maghrib, yang kelihatan secara internal jauh lebih baik, namun menderita krisis ekonomi, kecemasan tentang kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka sehingga menjadikan mereka sibuk dengan permasalahan mereka. 

Tidak beda dengan Arab Saudi, dimana ideologi Salafi mendominasi? Arab Saudi adalah negara yang secara tradisional dan kesejarahan mendukung perjuangan rakyat Palestina, meskipun dukungan mereka hanya sebatas dukungan simbolik,  moral dan keuangan. 

Jelas ada pertimbangan regional, yang terkait dengan krisis Teluk, perkembangan internal yang berkaitan dengan perubahan kepemimpinan baru, prioritas hubungannya dengan pemerintahan Trump membuat mereka mengalami keterbatasan reaksi atas apa yang dilakukan Israel.

Kembali ke awal, kemungkinan Israel tidak ingin menguji situasi Arab karena situasi ini tidak membutuhkan uji coba karena mereka tahu bahwa Arab telah berada pada titik paling maju dalam konflik domestik mereka. Apa yang lebih penting dari sekedar eksplorasi Israel ini adalah bahwa negara Zionis ini sedang melanjutkan kebijakan Yahudisasi dan mengubah status quo di wilayah pendudukan Palestina, terutama Yerusalem dan secara perlahan meraih ambisinya tanpa adanya reaksi politik dan simbolik yang berarti dari negara-negara tetangganya. 

Kini saatnya bagi Arab dan rakyat Palestina untuk melakukan eksplorasinya sendiri untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka tidak lagi mampu mengklaim dapat melakukan sesuatu atas Israel,  sementara publik Arab dibebani dengan keprihatinan dan kesialan mereka sendiri. Inilah perubahan bersejarah yang tengah terjadi atas dunia Arab. 

Krisis Al Aqsa boleh jadi dapat memberi manfaat bagi rakyat Palestina dan saya percaya bahwa ini adalah apa yang dikhawatirkan para pejabat keamanan Israel atas kebijakan sembrono Netanyahu telah terjadi. Ketegangan atas Tempat Suci dapat menjadi katalis kebangkitan kaum Muslimin di seluruh kawasan Timur Tengah dan kembalinya spirit perjuangan rakyat Palestina sehinngga menjadi agenda utama kita. Palestina menjadi isu yang hampir kita lupakan, namun hadiah PM Israel telah membuka dan mengubahnya. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *