Melihat Politik Luar Negeri UEA dari Sepak Terjang Duta Besarnya di Washington (1)

Sebagai negara adi daya, AS memiliki pengaruh sangat besar dalam konstelasi politik internasional. Tidak heran, banyak negara memandang posisi penting duta besarnya di AS dalam melobi dan jika mampu- turut mempengaruhi kebijakan  luar negeri yang berpihak dengan kepentingan mereka. Tidak kecuali dengan negara super kaya, Uni Emirat Arab.

Beberapa waktu lalu, sebuah sumber misterius  menyebarkan bocoran email duta besar Uni Emirat Arab (UEA) yang sangat berpengaruh di Washington, Yousef Al Otaiba dan beberapa tokoh berpengaruh dalam kebijakan luar negeri AS, termasuk diantaranya, mantan Menhan Robert Gates.

Dalam email tersebut terungkap jika sang duta besar -seorang yang digambarkan media AS sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di Washington ini- memiliki hubungan yang sangat dekat dengan  pelbagai tokoh politik Amerika, termasuk menantu Presiden Donald Trump, seorang Zionis fanatik, Jared Kushner. Karena kedekatan tersebut, Kushner diduga sebagai orang penting di balik dorongan untuk menutup pangkalan militer AS di Qatar dan munculnya ketegangan sesama negara Teluk.

Lewat email pula, diketahui jika UEA, tepatnya sang duta besar berada di balik gelombang kampanye anti Qatar di AS.

Sumber anonim yang membongkar isi email Al Otaiba menyatakan bahwa dirinya hendak mengungkap upaya manipulatif Uni Emirat Arab lewat duta besarnya untuk menyingkirkan Qatar.

Yang jelas, pengungkapan email ini semakin memperkeruh hubungan Qatar dengan negara-negara tetangganya yang bertabrakan kepentingan di kawasan. Qatar dan negara-negara Teluk mendukung kekuatan proksi yang bersebrangan di Libya, Suriah, Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Bara ketegangan UEA dengan Qatar mencuat ke publik menyusul keluarnya berita kontroversial dari media Qatar pada 23 Mei yang menyebutkan jika Amir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani memuji Iran dan mendukung Hamas, Tidak lama, pemerintah mengklarifikasi jika berita tersebut bohong karena situs resmi mereka telah dibobol hacker. Hanya saja, klarifikasi Qatar tidak menyurutkan media Saudi dan Qatar untuk mengungkap berita tersebut. 

Qatar, UEA dan Saudi sebenarnya merupakan sekutu dan sesama anggota Dewan Kerjasama Teluk, namun politik luar negeri mereka berpisah jalan sejak pecahnya Arab Spring. Qatar mendukung gerakan Ikhwanul Muslimin mendapatkan akses kekuasaan di kawasan melalui jalan demokratis. Sebaliknya, UEA dan Arab Saudi melihat eksistensi Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman kekuasaan monarkinya dan memasukkannya sebagai gerakan teror. Seiring kemenangan Trump dalam pemilu, tampaknya negara kaya Teluk ini ingin mendorong AS untuk bertindak sesuai dengan kepentingan politik mereka melalui duta besarnya, Yousef Al Otaiba yang memiliki koneksi sangat kuat di Washington.

Otaiba diangkat sebagai duta besar UEA di AS sejak 2008. Sepanjang itu, dia menjalin hubungan politik yang sangat kuat dengan pelbagai tokoh politik AS. Dia acapkali tampil di pelbagai event politik dan sosial di AS, rajin berderma kepada para tokoh tersebut. Dan seiring naiknya Trump, menjamin sang presiden kontroversial tersebut dengan monarki emirat. Baru-baru ini, UEA menjadi tuan rumah turnamen golf dari hotel dan resort milik Trump di negara tersebut. 

Dalam email tersebut diungkap bahwa UEA sejak Mei 2014 telah secara sistemik melakukan kampanye untuk menyebarkan skeptisme tentang Qatar di AS. Untuk membuktikan orisinalitas email tersebut, Majalah HuffingtonPost mengecek langsung 8 orang yang dikontak oleh Al Otaiba. Kesemuanya membenarkan adanya pembicaraan seperti yang disebutkan dalam email. 

Isi dari email tersebut menunjukkan upaya dan lobi Otaiba untuk membangun aliansi anti Qatar di AS. 

Malam sebelum Robert Gates, mantan Menhan berbicara dalam konferensi tingkat tinggi di Washington tentang Qatar, Otaiba sempat berkirim email. “Subyek konferensi adalah isu yang diabaikan dalam kebijakan luar negeri AS meskipun dalam kenyataannya sering menimbulkan masalah,” katanya. “Apa yang datang dari anda, temanku, mereka akan mendengarkannya.”

Gates membalasnya,“Saya akan masukkan beberapa orang untuk diperhatikan.”

Dalam email lainnya, Otaiba menawari untuk mentraktir mantan Menteri Kabinet tersebut sembari mengirim pesan bosnya di Abu Dhabi. “MBZ mengirim salam buat anda dari Abu Dhabi,” tulis sang duta besar, menggunakan inisial untuk Putera Mahkota Muhammad bin Zayed. “Kirimi mereka neraka besok”.

Hari berikutnya, Gates menjawab bahwa akan menyerang Qatar, mengecam dukunganya negara itu atas kelompok Islam dalam pidatonya di Lembaga Pertahanan Demokrasi. “Militer AS tidak memiliki fasilitas yang dapat digantikan,” ucapnya. “Beritahu Qatar dimana dia berpihak atau kami akan mengubah hubungannya, termasuk meminimalkan keberadaan pangkalan.”

Insiden tersebut tidak pelak membuat cemas para pejabat AS. Duta besar Amerika untuk Qatar, seorang diplomat karir Diana Shell Smith segera menghubungi banyak pembicara konferensi  untuk meredakan retorita anti Qatar. Hanya saja, upayanya tersebut berbalik. Lembaga penyelenggara konferensi tersebut justru mengkritik secara terbuka dan mempertanyakan upayanya tersebut.

Tampaknya lembaga yang sangat berpengaruh tadi menangkap pesan email Otaiba, yakni mendukung rencana memindahkan -pangkalan AS dari Qatar dan gagasan untuk menekan perusahaan negara-negara sahabat AS untuk tidak berbisnis dengan Iran. 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *