Memahami Diplomasi Profetik Erdogan atas Krisis Dunia Islam

โ€œ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข.โ€ (Ertugrul Ozkok )ย 

Secara teori, keamanan nasional suatu negara dibangun dan bersumber dari paradigma kepentingan nasional (national interest) mereka, yakni cita-cita politik atau cara pandang dunia (worldview) yang hendak diraih suatu negara. Kebijakan dan tindakan baik secara politik, ekonomi, budaya dan militer suatu negara merupakan pengejawantahan dari formulasi kepentingan nasionalnya.

Dari paradigma ini, sebuah negara mengetahui kemana arah yang dituju, apa yang harus dilakukan dan bagaimana merespon setiap dinamika sosial politik yang muncul.

Dalam konteks itu, maka kita dapat memahami mengapa Turki melakukan intervensi militer di wilayah Suriah. Ditengah ketidakmenentuan situasi kawasan, Turki hendak menciptakan wilayah penyangga (buffer zone) yang steril dari ancaman ISIS dan pemberontak Kurdi di wilayah perbatasan. Ada elemen keamanan domestik yang dipandang sangat krusial dibalik alasan operasi militer Euphrate Shield.

Hanya saja, yang menarik, apa yang menjadi kepentingan aktual Turki sehingga menjadi pionir aksi kemanusiaan dan politik atas Muslim Rohingya? Padahal realitasnya,tidak ada kepentingan domestik maupun implikasi politik langsung tragedi itu atas negara yang berjarak lebih 6000 km ini. Turki bahkan menjanjikan untuk mengangkat isu persekusi atas Muslim Rohingya dalam Sidang Umum PBB pada 9 September 2017.

Turki menjadi negara pertama yang mendesak Bangldesh untuk membuka perbatasannya dan bersedia menanggung semua konsekuensi finansial yang dibutuhkan. Sebagai bagian keseriusannya, Erdogan mengirim First Lady Emine Erdogan dan Menlu Mevlรผt ร‡avuลŸoฤŸlu ke Bangladesh dan menemui para pengungsi.

Padahal, Turki hingga kini masih menampung sekurangnya 3 juta pengungsi Suriah dan negara sekitarnya dengan total biaya yang dikeluarkan negara itu mencapai 500 juta dollar atau setara 6,6 trilyun rupiah setiap bulannya. Jumlah yang tentu tidak sedikit. Dalam relasi negara modern seperti sekarang ini, tidak ada kewajiban bagi Turki untuk ikut campur tangan dalam urusan domestik di Burma dan Bangladesh karena prinsip non interference dan national interest.

Ada dua hal yang dapat dibaca dari derajat kepedulian yang tinggi Turki atas tragedi Rohingya. Mungkin dapat dikategorikan sebagai wujud kepedulian terbaik di antara negara-negara Muslim.

๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, jika menyangkut doktrin kepentingan dan keamanan nasional, Turki di era kepemimpinan Erdogan telah mengembangkan konsep tersebut melampaui definisi dan pendekatan tradisional. Kepemimpinan baru di Turki setelah 8 dekade sekularisme ekstrim menambahkan aspek kemanusiaan yang cenderung bersifat imaterial dan non fisik sebagai bagian dari elemen kepentingan nasional yang dirumuskannya. Ini setidaknya merepresentasikan kemajuan dalam ide dan konstruksi negara modern yang cenderung materialistis dan tidak manusiawi. Di masa depan, ide dan tindakan politik semacam ini akan memberikan kontribusi penting dalam perdamaian dunia. Tampaknya pula, keyakinan agama (solidaritas Muslim) menggerakkan Erdogan untuk bertindak aktif mendorong penyelesaian krisis kemanusiaan atas Muslim Rohingya.

๐˜’๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข, alih-alih menjadi beban tuan rumah, eksistensi para pengungsi seolah menjadi kebenaran profetik (nubuwah) dan berkah tersembunyi bagi pemerintah Turki. Doa orang-orang terusir dan terzalimi tersebut telah menembus dinding dan membuka pintu-pintu langit. Menurut lembaga rating internasional Standard & Poorโ€™s pada Mei 2016, keberadaan pengungsi menyumbang pertumbuhan ekonomi Turki. Rupanya, aktivitas ekonomi para pengungsi berkontribusi kepada peningkatan belanja konsumsi sebesar 0,2 hingga 0,3 persen pertahunnya.

Kepemimpinan Erdogan merefleksikan model kepemimpinan baru yang dibutuhkan dunia Islam. Kepemimpinan yang berpijak kepada prinsip-prinsip altruistisme Islam. Jika gagasan dan tindakan ini secara konsisten dijalankan, maka saya yakin akan memberikan kontribusi penting dalam perdamaian dunia. Dan sebagai bagian keyakinannya, Islam telah meletakkan landasan teoritis dan praktik tumbuhnya perasaan dan perilaku altruistik, bahkan pada saat dirinya membutuhkan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *