Memilih Koalisi Antara Hezbullah dengan Israel

*Said al Hajj

Judul artikel ini mungkin tampak aneh. Membahas isu sensitif ini dalam konteks polarisasi sekarang ini menjadi resiko, namun terkalkulasi. 

Ada banyak debat tentang posisi yang harus diambil dalam perkembangan eskalasi militer antara Israel dengan Hizbullah di Lebanon. Debat seperti ini tidak akan terjadi pada 2006 sebelum Hizbullah terlibat dalam konflik mendukung rejim di Suriah. 

Sekarang, ada suara kuat yang mengatakan gerakan ini terlibat dalam kegiatan kriminal di Suriah, sehingga tidak menyisakan simpati terhadapnya atau mendukungnya jika diserang Israel di Lebanon. Suara ini terdengar di beberapa negara, dan tidak terbatas kepada rakyat Suriah yang menderita dibawah tangan Hizbullah atau trend politik tertentu. 

Ini adalah pengamatan paling penting saya bahwa Hizbullah harus mempertimbangkan secara hati-hati. Setelah mengambil pendekatan yang berseberangan di Suriah, di mata banyak dunia Arab, gerakan tersebut telah kehilangan kredibilitas dan  moral mereka sebagai gerakan perlawanan terhadap penjajah dan kelompok yang berupaya mendapat kemerdekaan. Hizbullah mungkin akan berkata bahwa mereka terpaksa terlibat di Suriah dan ada penggambaran yang berlebihan tentang sepak terjang mereka disana (saya juga yakin ada aspek tersebut), namun masalahnya tidak diukur oleh siapa yang banyak bertempur disana, atau berapa jumlah korbannya, namun lebih dilihat dari konteks dukungan terhadap rejim Assad. Presiden Suriah dan pasukannya tersebut menjadi sebab utama kematian ratusan ribu rakyat Suriah, terusirnya separoh penduduknya, kehancuran Suriah dan terlibatnya intervensi militer asing. 

Gerakan ini perlu berpikir bijaksana, tidak semata mengakhiri bisnis di Suriah dan menyatakan akan menarik diri setelah menang. Gerakan ini seharusnya lebih memikirkan  revisi, evaluasi, permintaan maaf dan koreksi. Karena pada akhirnya, gerakan ini adalah partai Lebanon, bagian dari negeri dan kawasan ini, sehingga harus mempertimbangkan kredibilitas dan  dukungan rakyat, seberapa besarpun pertimbangan politik dan militer yang dimilikinya. 

Jika intervensi Hizbullah di Suriah tidak dapat dibenarkan sehingga patut dikutuk dan merupakan tindakan kriminal, ini tidak berarti kita mendorong Zionis menyerang kelompok ini. Setidaknya kita harus bersikap netral jika terjadi perang, atas pertimbangan penindas menyerang penindas lainnya, seperti dikatakan banyak orang? 

Semua ini adalah pandangan hipotetik. Kita juga tidak boleh lupa bahwa perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon tidak juga pasti dan saya tidak yakin akan terjadi dalam waktu dekat karena ada tanda-tanda sebaliknya. Isu ini mungkin dapat dianggap sebagai cara Israel melakukan tekanan atau mendapatkan kesepakatan yang lebih baik, seperti dikatakan PM Saad Hariri. 

Diskusi ini tentang prinsip yang harus dibentuk dari posisi kita atas perang jika kemudian terjadi. Diskusi semacam ini lebih penting ketimbang hanya menyatakan posisi kita yang tidak mempengaruhi skenario. 

Kita tidak mengkritik mereka yang melihat Hizbullah sebagai gerakan perlawanan, namun lebih sebagai bagian kekuatan Iran di beberapa negara Arab, khususnya Suriah. Namun isu ini tidak sesederhana itu, rumit, khususnya adanya keterlibatan pihak lain disana, Arab Saudi. 

Ada sejumlah poin relevan untuk memahami masalah tersebut secara lebih baik. Untuk awal, peran Hizbullah dalam berperang melawan Israel, tidak menghilangkan kesalahannya di Suriah ataupun sebaliknya perannya yang riil dalam melawan negara penjajah. Banyak entitas politik yang mempunyai tahap, peran dan afiliasinya. Saya melihat bahwa Hizbullah mempunyai dua wajah, satu wajah melawan Israel sementara wajah lainnya adalah bagian dari proyek Iran, yang merupakan bagian afiliasinya dengan Iran serta mendapatkan perintahnya dari sana. 

Setiap serangan atas Hizbullah juga menjadi serangan terhadap Lebanon, maka posisi kita adalah posisi serangan Israel atas negara Arab. Posisi ini tidak menuntut pertimbangan dari kita karena Hizbullah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Lebanon, menjadi bagian dari masyarakat Lebanon yang mendapatkan dukungan rakyat. Maka oleh karena itu,  setiap serangan akan menimbulkan korban masyarakat sipil, dampak politik dan ekonomi yang besar. 

Jika posisi kita menolak intervensi asing, maka kita tidak hanya menentang intervensi Hizbullah di Suriah, namun juga mendukung gerakan ini jika diserang oleh Israel. 

Negara Zionis adalah proyek imperialisme Barat dan menjadi ancaman terbesar di kawasan ini. Konflik dengan Israel adalah konflik zero sum game, yang hanya dapat diselesaikan dengan hilangnya negara tersebut. Hzibullah adalah bagian kawasan, meskipun saling bermusuhan satu sama lain. Solusinya adalah ko-eksisntensi dan saling menghormati, sekalipun ada perang dan konfrontasi diantara mereka. Banyak perang besar dan konfrontasi militer berakhir dengan kompromi bersejarah, dimana setiap orang pada akhirnya menawarkan konsesi, menghindari pertarungan habis-habisan yang akan menghabiskan sumber daya dan tidak menguntungkan siapapun. 

Apalagi, Israel tidak melakukan konfrontasi militer kecuali hanya dalam rangka menjalankan kepentingan dan tujuannya sendiri. Oleh karena itu, tidak ada keuntungan yang didapatkan dari membahayakan Hizbullah atau Iran, karena alternatifnya tidak juga lebih baik dari Hizbullah. 

Posisi moral yang terpengaruh oleh emosi harus tidak menghilangkan kalkulasi logis dan praktik tentang dampak akhir. Isu ini tidak hanya tentang konfrontasi dengan Hizbullah, namun lebih karena proyek regional yang akan terjadi, diantaranya eliminasi perlawanan rakyat Palestina dan perjuangan mereka. Ini juga akan berkonsekuensi atas seluruh kawasan, khususnya di Suriah. Mungkin penting juga untuk melihat seberapa besar alasan melawan Iran di Lebanon dan tidak di Suriah, Irak atau Yaman, alasan mengapa AS memberi sanksi kepada Hizbullah dan alasan AS menambahkan kelompok ini dalam daftar teroris dan bukan kelompok lain yang berafiliasi dengan Iran. Saya yakin bahwa alasan utamanya adalah kepentingan Israel, bukan karena konfrontasinya dengan Iran. 

Kesimpulannya, saya tidak menulis ini karena saya orang Palestina dan tidak peduli dengan darah saudara-saudara di Suriah serta apa yang terjadi di negaranya dan perjuangan mereka. Saya tidak menulis karena saya melihatnya dalam kacamata yang sempit yang hanya melihat kepentingan Palestina dan bukan kaum Muslimin. Mereka yang membaca artikel ini tahu posisi saya. Sayang sekali sekali jika menunjukkan posisi kita sebelum mendengar pendapat orang lain, karena hal itu dapat meminimalkan kekalahan yang memalukan. Saya hanaya berbicara karena saya memiliki tanggung jawab, bahwa seseorang harus bertindak hati-hati dan terencana baik. 

Tidak ada yang ingin berdiri disamping Hezbullah dalam pengertian literal, seperti halnya kita berada dalam pertandingan sepak bola antara dua tim.  Kita hanya menentang serangan Israel jika benar-benar terjadi. Kita juga menolak upaya normalisasi dan proyek lainnya untuk melawan negara Arab yang dilakukan oleh Israel atau sekutu barunya. Karena tindakan ini tidak membutuhkan kalkulasi yang kompleks dan rumit. 

Diterjemahkan dari  Arabi21, 13 November 2017 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *