Mengapa Ribuan Warga Iran Berperang di Suriah?

Sebuah surat dari seorang perempuan yang kehilangan suaminya yang berperang di pihak Assad di Suriah dipublikasikan di Tasnim News, salah satu kantor berita berpengaruh di Iran dan berafiliasi dengan Garda Revolusioner Iran (IRGC).

“Makam (Zaynab) ini suci…saya takut kepada orang-orang yang melemparkan batu kepadanya dan saya mengirimmu kesana untuk melindungi makam itu. Namun saya, seperti kamu, sangat terpaut kedalam cinta Zaynab dan itu pula yang menjagaku tetap kuat ditengah kepergianmu. Saya mengirimmu kesana agar kamu melindungi makam Zaynab dan saya harus sabar menunggumu.. Saya puas dan berterima kasih kepada Allah karena telah kehilangan salah satu orang yang terbaik dalam hidup saya demi kepentingan Zaynab dan Pembimbing (Ayatullah Khomeini).”

Surat itu ditandatangani oleh Puya, isteri Ruhollah Qurbani, prajurit 17 tahun yang baru saja tewas di Aleppo. Puya adalah salah satu dari para wanita Iran yang  mengundang haru. Kisahnya  ditayangkan oleh Stasiun TV Ofogh dan platform video berbagi Aparat, Iran.

“Makam ini suci…saya takut dengan orang-orang yang melempari batu ke makam itu, maka saya mengirimu untuk melindunginya“, tulis Puya, isteri prajurit Iran yang tewas di Suriah.

Sebelum peringatan Asyura pada akhir Oktober, Ofogh TV meluncurkan 12 seri wawancara yang bertitel “Para Pelayan Makam” merujuk kepada makam cucu perempuan Nabi SAW, Zaynab di selatan Damaskus.

Zaynab adalah satu-satunya anggota keluarga Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian setelah wafatnya Imam Hussein di tangan Yazid, penguasa Tiran di Iran dalam pertempuran Karbala yang bersejarah pada abad 7 M.  Sejarah mencatat Zaynab sebagai wanita keras dan kharismatik yang berani berbicara lantang menentang dinasti Umayyah, penguasa pada saat itu, dan para prajurit Iran sekarang berperang bersama Presiden Bashar al Assad dengan membentuk batalion “Pembela Zaynab”.

“Untuk memahami motivai politik negeri ini, anda harus memahami dasar revolusi pada 1979 ketika melawan Shah dan sekutunya Barat,” kata Mohammed Marandi, profesor kesusasteraan dan orientalisme di Universitas Teheran.

“Karbala adalah tema tertindas melawan penindas. Ada perang setelah revolusi selama 8 tahun dan kemudian ada sanksi. Para pemimpin Syiah berbicara tentang Hussein sebagai hal yang menggema dalam kehidupan mereka sebagai ajaran melawan penindasan.”

Narasi Karbala bukanlah satu-satunya alasan mengapa ribuan penduduk Iran memilih membantu pemimpin diktator Suriah, ada didalamnya faktor krusial lainnya seperti politik, ekonomi dan bahkan ancaman deportasi.

Menurut para analis, Iran, negara dengan mayoritas Syiah begitu ketakutan dengan bangkitnya kelompok-kelompok seperti ISIS dan Al Qaeda yang dituduh mentarget Muslim Syiah. “Jika Suriah jatuh, Iran harus berperang melawan mereka di perbatasannya sendiri,” ujar Marandi.

Keterlibatan Iran terlihat kentara di Suriah sejak Arab Spring pada 2011. Apa yang pada awalnya hanya bantuan teknis dan moral kepada para pejuang Hizbullah Lebanon, kini menjadi keterlibatan penuh ribuan warga Iran menyeberang ke perbatasan Suriah untuk berperang seperti dikatakan Khameini sebagai perang antara Islam dan “orang-orang kafir”.

“Pintu kesyahidan, yang tertutup setelah berakhirnya perang Iran-Irak, kini terbuka kembali di Suriah,” kata Khameini pada peringatan tewasnya 46 prajurit Iran di Suriah pada Februari 2016.

“Para pemuda diserukan untuk bertempur di Suriah, dimana Islam sedang berperang melawan “orang-orang kafir” seperti halnya perang Iran-Irak,” katanya seraya menambahkan jika anda tidak berperang di Suriah maka “Musuh akan menyerang Iran.”

Ali AKbar Velayati, mantan Menlu Iran juga menekankan bahwa aliansi Suriah dan Iran dalam rangka melawan Israel. “Suriah adalah cincin emas melawan rejim Zionis,” ujar Velayati pada 2012. “Suriah mendemonstrasikan perlawananya kepada negara-negara Barat melalui Lebanon dan Gaza”.

Anggota parlemen Iran: Gambar perang Suriah mengganggu saya” – UpFront

Bagi para rekrutmen, berperang melawan ISIS di Suriah adalah cara menahan laju penyebaran kelompok ini. Sementara yang lainnya melihat sebagai kesempatan untuk menghormati puluhan ribu prajurit Iran yang tewas dalam perang Iran-Irak yang berlangsung 8 tahun lamanya atau sebagai salah satu bentuk “perang suci” mereka.

Iran menciptakan unit pasukan baru untuk terlibat dalam konflik regional.

“Dalam kultur Syiah, kehadiran dan ketiadaan perang suci -seperti apa yang Husein dan para pengikutnya lakukan di Karbala adalah konsep krusial mereka. Motivasi para pejuang adalah kombinasi keyakinan agama dan penghargaan sosial,” ujar Hosein Ghazian sosiolog di Washington.

Dengan hadir di Suriah, mereka mendapatkan perhatian lebih diantara masyarakat dengan keyakinan yang sama. Orang yang hidup bersama para pejuang dalam pola masyarakat yang agak tertutup. “Inilah mengapa anda dapat melihat banyak pemuka agama senior yang  bepergian ke Suriah -meskipun bukan di garis depan mendapatkan tempat terhormat.” paparnya sembari menyebutkan beberapa video daring tentang foto selfi para selebritis tersebut dengan pakaian militer.

Haj Saeed Haddadian adalah salah satu diantara para pemuka agama di Iran yang memainkan perang penting menabuh genderang antusiasme perang di kalangan para pejuang. “Gambar selfie mereka menunjukkan mereka sepenuhnya siap berperang jika mereka terjun kedalam perang di Suriah sebagai pejuang,” tuturnya.

Sementara mereka yang tidak hadir di Suriah dapat merasa atau diarahkan untuk merasa malu karena tidak membela warisan Imam Hussein dan makam Zaynab. “Beberapa anak muda yang terpengaruh oleh legenda perang Irak dan Iran. Mereka tidak memiliki kesempatan hadir dalam perang-perang tersebut, maka mereka mereka akan merasa berhutang kepada para pahlawan dan martir tersebut.”

Pengalaman seorang pejuang asing yang bekerja untuk IRGC jelas berbeda. Sekitar 3 juta pengungsi Afghan sekarang berada di Iran dan diskriminasi terhadap mereka terjadi disana.

Menurut laporan para peneliti HAM dan jurnalis, rekrutmen para pejuang Afghan terjadi dimana-mana, mulai dari masjid-masjid di Iran hingga ke permukiman-permukiman Syiah di Afghanistan.

“Di banyak kota Afhani ada masjid-masjid Syiah,” ujar seorang prajurit Afghanistan yang telah kembali. “Imam dan para pemuka agama memberikan khotbah tentang isu ini dan jika seseorang ingin menjadi sukarelawan, mereka dapat mengontak IRGC. Kami bepergian dari Afghanistan ke Teheran.”

Bagi beberapa orang, ketakutan dideportasi jika menolak mengabdi di militer menjadi alasan lainnya. Sebuah UU diloloskan parlemen Iran, yang memperbolehkan anggota keluarga prajurit asing yang tewas yang tinggal di Iran mendapatkasn kewarganegaraan segera.

Dalam kasus lain, warga Afghani dilaporkan telah dipaksa berperang di Suriah. Laporan oleh Human Right Watch merilis detail laporan para pejuang Afghan yang direkrut oleh IRGC.

Masheed Ahmadzai, 17 tahun, warga Teheran yang tiba tahun lalu di pulau Yunani Lesbos memberitahu peneliti bahwa dia hidup tanpa kelengkapan dokumen selama 4 tahun dan berkerja di bidang konstruksi ketika polisi menahannya dan sepupunya.

Dia mengatakan bahwa polisi membawanya ke markas militer, dimana banyak orang Afghanistan dan Pakistan ditahan dan sedang dipilih oleh tentara berdasarkan keadaan fisiknya.

“Para tentara memisahkan kami berdasarkan kesiapan fisik untuk berperang dan mereka yang tidak cukup siap berperang,” katanya. “Mereka membawa kami dalam kelompok 20 orang, namun tidak memilih sepupu saya dan mendeportasinya kembali ke Afghanistan. Mereka tidak memberi kami pilihan, mereka memaksa kami berlatih dan bertempur. Mereka mengatakan: ‘Anda akan bertempur ke Suriah dan menjadi syuhada, dan itu adalah hal yang baik.'”

 

Sementara banyak para pejuang Iran di Suriah didaftar sebagai milisi sukarela Basij yang beroperasi dibawah IRGC, ribuan lainnya bekerja sebagai  prajurit bayaran di bawah unit Fatemiyun IRGC, yang terdiri atas penganut Syiah diaspora di Iran.

Rata-rata gaji para pejuang berkisar antara 500 hingga 750 dollar AS sebulannya. Namun dalam wawancara terbaru, Brigadir Jenderal purnawirawan Mohammad Ali Falaki, mantan komandan IRGC yang ditempatkan di Suriah mengatakan bahwa para pejuang asing tersebut berpenghasilan hanya 100 dollar sebulan, karena kondisi ekonomi Iran sekarang ini.

Falaki juga membenarkan dukungan yang tidak memadai para pengungsi Afghan di Iran yang menjadi sumber rekrutmen mereka.

Disamping menjadi kekuatan regional yang penting di Timur Tengah, IRGC juga memiliki kekuasaan ekonomi, politik dan ideologi di seluruh Iran.

Namun dimata para analisis, harga keterlibatan geopolitik Iran di Suriah sangat tinggi.

“Tindakan Iran di Suriah jelas merusak klaim mereka mewakili komunitas Muslim global,” kata Mohammed Fadel, profesor hukum di Universitas Toronto. “Tindakan tersebut hanya semakin memperkuat ide Iran sebagai negara sektarian.”

Dalam waktu lama, seperti dijelaskan Fadel, ada dua narasi yang berbeda tentang Iran, pertama Iran sebagai negara sektarian dan kedua Iran dianggap sebagai negara anti imperial dan revolusioner yang mendukung Muslim dan hak penentuan nasib sendiri.

Intervensi Iran di Suriah menjadikan negara itu sepenuhnya jatuh dalam kategori narasi pertama.

“Retorika keagamaan tentang melindungi keluarga Nabi hanya memperkuat pendirian sektarian mereka,” beber Fadel. “Ini secara implisit menjelaskan bahwa mereka yang melawan Assad adalah melawan keluarga Nabi SAW. Memang  ada pandangan dalam masyarakat Sunni yang keberatan dengan monumen tersebut, namun menggambarkan keseluruhan revolusi Suriah dengan gambaran seperti itu jelas menggambarkan derajat sektarian mereka.”

 

 

 

Sumber: Al Jazeera

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *