Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/post-template.php on line 275

Mengenal Sistem Pendidikan di Era Abbasiyah (1)

Jika kita menengok sejarah kaum Muslimin di dunia Islam, maka kita pernah mengalami masa keemasannya dari abad 9 hingga 13. Era itu adalah masa kegemilangan pembelajaran Muslim yang terjadi pada kepemimpinan dinasti Abbasiyah dari 750 -1258 Masehi.

Membandingkan era Abbasiyah dengan era modern sekarang ini, Ali A Allawi, penulis “The Crisis of Islamic Civilization” (2009) menyimpulkan bahwa “output kreatiff 20-30 juta penduduk Muslim pada era Abbasiyah tidak sebanding dengan output 1,5 milyar kaum Muslimin di era modern. Dalam sains dan teknologi, statistik kita benar-benar menyesakkan. “Menggunakan data 2006, kontribusi dunia Muslim keseluruhan hanya 1,17 persen literatur sains dunia, kalah dibandingkan dengan Spanyol saja, yang sebesar 1,48 persen.”

Imperium  Abbasiyah berkuasa di Baghdad yang menjadi ibukota dunia Islam pada waktu.Sekitar 500 tahun, kota itu menjadi paduan intelektual dan budaya, reputasi yang telah dibangun sejak kepemimpinan Khalifah Harun al Rasyid (809), al Makmun (833), al Mu’tadhid (902) dan al Muktafi (908). Baghdad adalah kota terkaya di dunia dan menjadi pusat perkembangan intelektual, menjadi kota kedua terbesar dari sisi ukuran dengan Konstantinople dan berpenduduk 1 juta jiwa.

Alasan mengapa Baghdad menjadi puncak kejayaannya karena para khalifah memiliki perhatian yang khusus dalam mengumpulkan pelbagai karya ilmiah dari seluruh dunia. Para khalifah Abbasiyah tidak hanya tertarik belajar namun juga membuat pelbagai kelompok diskusi, dan mendirikan pelbagai sekolah, dimana literatur Arab, agama, filosofi, tata bahasa, retorika, matematika, fisika, astrologi, astronomi dan pelbagai cabang ilmu pengetahuan dipelajari. Orang-orang yang memiliki perhatian terhadap ilmu dan penelitian pada berkumpul di kota ini.

Mari kita lihat bagaimana sistem pendidikan yang berlaku pada periode kepemimpinan Abbasiyah.

Dibawah kekuasaan Abbasiyah, pendidikan anak telah dimulai sejak di rumah. Pada usia 6 tahun, anak-anak dimasukkan ke sekolah dan menurut Al Gahzali (1058-1111) , “disitulah pendidikan formal mereka dimulai.”

Sekolah dasar bertumbuhan secara alami di wilayah tersebut. Sekolah-sekolah diselenggarakan di masjid, madrasah dan kadang di rumah guru-guru mereka.

Disamping di masjid, ada beberapa bangunan (maktab) yang menyelenggarakan sekolah dasar.

Pendidikan yang diberikan pada periode awal Abbasiyah hampir sama dengan pendidikan model geraja di Eropa pada masa sekarang.

Kurikulum pendidikan mereka terdiri atas membaca, menulis, tata bahasa, sunnah Nabi SAW, prinsip-prinsip aritmatika dan pelajaran puisi.

Sepanjang kurikulum, pendidikan yang berbasis hapalan ditekankan.

Murid-murid senior mempelajari Qur’an, sunnah, fiqh, aqidah, leksicografi, retorika dan kesusasteraan.

Sementara para mahasiswa tingkat lanjut akan belajar studi astronomi, filosofi, geometri, musik dan kedokteran.

Pendidikan bersama laki-laki dan perempuan diselenggarakan. Anak laki-laki dan perempuan usia belajar mendapatkan pelajaran di sekolah yang sama. Anak-anak perempuan dididik untuk dapat membaca Al Qur’an dan mengenal ilmu-ilmu agama. Mereka yang ingin menjadi pakar agama dan subyek lainnya dapat menjadi pengajar agama. Beberapa pakar agama perempuan juga menjadi para pengajar terkenal pada era itu.

Dalam karyanya,“Al Muhaddishah”, Syaikh Akram Nadwi menggmbarkan bahwa ketika dia memulai penelitian atas para ulama perempuan, dia menyebutkan sekitar 30 hingga 40 orang. Namun ketika dia semakin mendalami dan menelitinya, ternyata jumlah tersebut jauh lebih besar ada tidak kurang 8000 nama ulama perempuan yang diketahuinya. Jumlah yang besar tersebut menunjukkan peran penjagaan dan perkembangan mereka atas ilmu-ilmu Islam sejak era Nabi SAW.

Keuntungan lainnya adalah bahwa pendidikan juga diberikan kepada mereka yang miskin dan bahkan para budak dalam beberapa kasus diijinkan untuk mengikuti pendidikan. Sistem penunjukkan pengajar pribadi untuk anak-anak pada waktu itu menjadi trend di kalangan orang kaya.

 

Ada 3 tipe pengajar pada masa Abbasiyah:

1). Guru tipe pertama semata mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak di sekolah dasar dan disebut “Mualim”. Posisi sosial Muallim tidak dianggap begitu terhormat. “Jangan cari nasehat dari guru-guru sekolah dasar”, demikian ungkapan keseharian pada waktu itu.

2). Guru tipe kedua disebut pembimbing, “Muaddib”, yang mewakili kelas pengajar yang mengajar anak-anak untuk strata yang lebih tinggi, diantaranya para pangeran dan khalifah sendiri. Kelas pengajar ini lebih tinggi dari sebelumnya.

3). Guru tipe ketiga adalah para profesor pelajaran tingkat tinggi. Mereka adalah para spesialis dalam pembelajaran logika, matematika, retorika dan hukum. Para guru dengan derajat ini akan sangat dihormati masyarakat.

Para guru mendapatkan bayaran dari murid-muridnya. Bayaran mereka sangat kecil. Profesor Shustery menulis, “Para guru didukung oleh pendapatan dari dana sosial masjid, madrasah, rumah sakit dan dari orang-orang kaya, Beberapa diantara mereka mendapatkan gaji dari kerajaan.”

Pada usia 15 tahun, anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan dasar biasanya akan melanjutkan perjalanan ke kota besar lainnya untuk menghadiri kuliah disana. Para ilmuwan biasa bepergian dan melakukan perjalanan jauh dalam rangka mencari pengetahuan. Tidak ada kurikulum atau silabus yang pasti dalam hal ini. Para pendiri sekolah memiliki hak untuk mengangkat dan mengganti para profesor mereka. Dalam pilihan mata kuliahnya, para guru menikmati kebebasan sepenuhnya menentukannya. Negara hanya berperan ketika ada kasus dimana agama dianggap dalam bahaya.

 

 

Facebook Comments

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *