Mengenal Sistem Pendidikan di Era Abbasiyah (2)

Para profesor yang berpengalaman mengenal teks-teks pelajaran di kepala mereka dan dapat mengajari tanpa melihat buku.

Jumlah mahasiswa berbeda-beda, mulai dari puluhan hingga ribuan.

Tinta dan kertas disediakan untuk mencatat pelajaran yang disampaikan para profesor tersebut.

“Dalam ruangan kuliah di Nishapur, ada 500 tinta tulis yang disediakan untuk para mahasiswa.” (Shustery).

Para dosen tidak puas hanya menyampaikan pelajaran, dia juga ingin bahwa para mahasiswanya tersebut mengikuti dan memahami mereka. Untuk tujuan ini, dia memberikan pertanyaan kepada para mahasiswanya dan sebaliknya. Khuda Bakhsh menulis,” Banyak dosen saat mendiskusikan suatu pelajaran, meninggalkan tempat duduknya dan bergabung dengan para mahasiswanya.”

Belajar di tingkat lebih tinggi ini, mereka tidak hanya mendengarkan kuliah, namun juga menggali permasalahan.

Para dosen sangat dihormati dan diikuti mahasiswanya. Para mahasiswa setelah mereka memuaskan para dosennya, maka mereka dapat belajar dengan baik, bertanya dan mendapatkan ijazah kelulusannya.

Pendidikan di Abbasiyyah tidak hanya dibatasi di sekolah dasar saja, pada masa pemerintahan Harun al Rasyid (763-809) dan anaknya, banyak sekolah-sekolah, universitas dan perpustakaan dibangun, demikian pula observatorium.

Bait al Hykmah

Khalifah Al Makmun mendirikan akademi “Bait Al Hykmah” atau Rumah Kebijaksanaan, dimana semua cabang ilmu dipelajari. Menurut Profesor Hitti,“Disamping sebagaai lembaga penerjemahan, namun akademi ini juga menjadi perpustakaan umum dan tempat observatorium.” Bait al Hykmah dapat disebut sebagai universitas pertama dan modern di dunia pada abad pertengahan yang menjadi cahaya jauh sebelum Boloqua, Paris, Praha, Oxford dan Cambridge.

Beberapa nama penerjemah terkenal diantaranya Hunayn bin IShaq (809-873) adalah seorang dokter Arab Kristen. Dia menerjemahkan karya-karya Galen, Plato, Aristoteles dan Ptolemy. Dia juga menulis sekitar 31 buku. Kemampuannya menerjemahkan diakui dan dia mendapatkan bayaran 500 dinar per bulan dan al Makmun menggajinya dengan emas seberat karyanya. Ilmuwan lainnya adalah Yahita bin al Bitriq (815), Tsabit bin Qurrah (836-901), Quat bin Luqa dan lain-lainya.

Akademi ternama dalam sejarah Islam yang kemudian menjadi model bagi pengajaran tingkat tinggi adalah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al Mulk (1018-1992), PM Seljuk dari Persia, Malik Shah (1055-1092). Dia mengorganisasikan sistem pendidikan, mulai metode madrasah dan mendirikan beberapa akademi dan universitas yang mendapatkan dukungan dana dari pemerintah. Khalifah Mustansir (1224) juga membuat universitas dengan perpustakaan dibawah nama “Mustansariyah”.

 

 

Ada 30 sekolah tinggi di Aleksandria dan 17 pusat pembelajaran di Spanyol dengan 70 perpustakaan umum.

Dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan dibawah Abbasiyah terbukti menjadi titik balik dalam sejarah pendidikan modern. Dalam institusi pendidikan tinggi ini, pelajaran agama dan sains menjadi basis kurikulum dan kemampuan hafalan ditekankan.

Mendirikan madrasah adalah amal shalih bagi setiap Muslim. Madrasah didukung pembiayaannya dengan tanah dan harta benda lainnya yang menjadi sumber pendapatan untuk mendukung para guru dan siswa yang miskin. Ibny Jubayr (1145-1217) mengatakan ada sekitar 30 sekolah di Baghdad dan lebih dari 500 mahasiswa yang mendapatkan bantuan keuangan dari masjid kota.

Ada tiga jenis lembaga pendidikan yang bertujuan melayani siswa dari beragam usia. Sistem pendidikan selama periode tersebut tidak hanya dibatasi belajar Al Qur’an dan Hadist, namun juga ilmu-ilmu lainnya seperti filsafat, astronomi, astrologi, kedokteran, musik, sejarah, geografi, matematika, botani dan lainnya.

Bahkan setelah seabad kehancuran Baghdad oleh pasukan Mongol pada 1258, seorang sejarawan dan sosiolog Arab, Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam kitabnya Muqaddimah mengabadikan sedikit bab yang berkesimpulan: “Orang yang bahasa pertamanya bukan Arab akan lebih sulit daripada orang asli Arab dalam mendapatkan pengetahuannya”. Namun, Ibnu Khaldun menulis pada saat Renaisans mulai bangkit di Eropa. Dalam beberapa abad kemudian, keberuntungan Arab sebagai bahasa istimewa pengetahuan mulai sirna setelah kejatuhan perlahan Usmani (1299-1992) karna tidur panjang.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *