#Mengenang: 34 Tahun Pembantaian Keji Sabra dan Shatila

Mengenang 34 tahun pembantaian keji 3500 warga Palestina di kamp pengungsian Sabra Shatilla oleh milisi Kristen Phalangist, Lebanon dengan dukungan Israel (16-18 September 1982).

Kronologi Kejadian:

  • Hari, 15 September, tentara Israel mengepung kamp pengungsi Palestina, Sabra dan Shatila di Beirut Timur. 16 September Israel membiarkan 15o milisi Kristen Phalangist masuk ke kamp Sabra dan Shatila.
  • Milisi Phalangist, yang dikenal kebrutalan dan kekejamannya atas penduduk Palestina karena mendukung kelompok Muslim Lebanon dan Kiri dalam Perang Saudara di Lebanon.
  • Selama satu setengah hari, milisi Phalangist melakukan pembantaian, pemerkosaan dan pembunuhan terhadap 3500 warga Palestina, kebanyakan wanita, orang tua dan anak-anak.
  • Tentara Israel atas perintah Menteri Pertahanan Ariel Sharon membiarkan pembantaian berlangsung dan tidak mencoba menghentikannya. Bahkan, Israel menyediakan menembakkan cahaya ke udara untuk memberikan penerangan kepada milisi Phalangist agar dapat memasuki ke kamp pada hari kedua pembantaian. Israel juga menyediakan buldozer untuk membersihkan mayat-mayat yang berserakan.
  • Pada hari kedua, Jumat 17 September, wartawan Israel memberitahu Menteri Pertahanan Ariel Sharon tentang pembantaian yang terjadi di Sabra dan Shatilla. Ron Ben Yishai menceritakan:“Saya mendapatinya tidur di rumah. Dia bangun dan saya berkata kepadanya,”Dengar, ada banyak cerita tentang pembunuhan dan pembantaian di kamp. Banyak perwira yang tahu dan bercerita kepada saya. Anda harus menghentikan”. Saya tidak tahu kalau pembantaian telah berlangsung satu hari sebelumnya, saya kira baru saja berlangsung dan saya mengatakan kepadanya,”Lihat, kita harus menghentikannya. Lakukan sesuatu, namun tidak menanggapinya.”
  • Pada Jumat sore, hampir 24 jam setelah pembunuhan berlangsung, Kepala Staff Tentara Israel di Beirut Barat, Rafael Eitan menemui petinggi milisi Phalangist menyampaikan kesan positif dan memintanya untuk meneruskan aksinya sampai kamp Fakahani kosong hingga besok pukul 5 pagi karena AS akan masuk melakukan tekanan.
  • Sabtu, utusan Amerika Morris Draper mengirim pesan ke Sharon: “Anda harus menghentikan pembantaian keji ini. Saya punya petugas di kamp yang sedang menghitung jumlah mayat. Anda seharusnya malu. Situasi begitu buruk dan keji. Mereka membunuhi anak-anak. Anda sebenarnya dapat mengontrol mereka dan oleh karena itu, anda harus bertanggung jawab.”
  • Akhirnya milisi Phalangist meninggalkan Sabra Shatila Sabtu pagi jam 8 dan membawa warga yang selamat ke stadiun sepak bola untuk diinterogasi. Interograsi dilakukan para agen intelejen Israel yang kemudian diserahkan kembali ke milisi Phalangist. Beberapa diantara mereka kemudian dibunuh.
  • Sejam kemudian, milisi Phalangist meninggalkan Sabra dan Shatila, para jurnalis kemudian masuk ke lokasi pembantaian dan membuat laporan ke seluruh penjuru dunia.
  • Karena kemarahan dunia internasional, akhirnya Israel membentuk tim investigasi tragedi Sabra Shatila, Komisi Kahan. Hasilnya, Ariel Sharon dianggap bertanggung jawab secara pribadi atas pembantaian dan direkomendasi dipecat dari jabatannya. Meskipun Sharon diberhentikan sebagai menteri pertahanan, namun dia masih berada di pos kementerian tanpa portofolio. Dia tetap memegang pelbagai jabatan dalam pemerintahan Israel berikutnya, termasuk sebagai Menlu pada pemerintahan Netanyahu. 20 tahun kemudian dipilih sebagai PM Israel.
  • Pada 2001, 23 saksi hidup menyampaikan gugatan kejahatan perang kepada Sharon di pengadilan Belgia dan namun kemudian dibatalkan dengan alasan Ariel Sharon tidak hadir dalam persidangan.
  • Pemimpin Phalangist dan penghubung Israel yang bertanggung jawab langsung atas pembantaian, Elie Hobeika terbunuh karena bom mobil pada 2002, saat dia bersedia menjadi saksi yang memberatkan Sharon, yang pada waktu itu menjabat sebagai PM Israel dalam pengadilan kejahatan perang di Belgia. Hingga sekarang, tidak diketahui siapa pelaku pembunuhan atas Hobeika.
  • AS yang pada waktu itu menjamin keselamatan warga sipil Palestina sekeluarnya PLO dari Beirut ternyata tidak memenuhi janjinya. Pelbagai fakta menunjukkan bahwa Menlu Alexander Haig diyakini telah memberikan “lampu hijau” yang berujung kepada pembantaian.
  • Pasca pembantaian, Presiden Reagan mengirim marinir ke Lebanon dan setahun kemudian, 241 marinirnya tewas ketika dua truk yang berisi muatan bom menghajar markas militer AS di Beirut, yang mengakibatkan ditarik mundurnya pasukan AS dari Lebanon.

Kesaksian Para Jurnalis

“Meregang nyawa dengan mata nanar, merasai terror, melihat semua makhluk –dari para lelaki, kursi, matahari, bintang, Phalangist- bergetar suka cita dan perlahan hilang dari tatapan mata…Mereka yang sekarat dapat melihat, merasa dan tahu bahwa kematian mereka menjadi KEMATIAN (nurani) DUNIA.” (Jean Genet)

Kesaksian Robert Fisk Pasca-Tragedi:

430497_4501941507165_1918501862_n“Aku berjalan menuju tempat mengerikan itu –untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupku. Aku benar-benar mengalami mimpi nan buas. Aku memasuki kamp Sabra Shatilla di Beirut pada saat milisi bajingan milik Israel itu sedang mengakhiri pekerjaan kotor mereka, dengan pembantaian dan perkosaan. Banyak mayat yang bergelimpang dikerumuni lalat, terdiri dari para wanita yang terburai perutnya dan anak-anak yang berlubang kepalanya. Saat menyeberangi jalan, aku harus merangkak diantara tumpukan mayat, tangan, perut dan kepala mereka menempel diantara kaki saya. Lalat-lalat berkeliaran diantara wajah saya dan mayat. Tumpukan itu tampak seperti kuburan massal. Ketika bersembunyi dari para milisi itu, aku mendapati diriku merunduk diatas jasad wanitayang darahnya masih mengalir diantara lubang di punggungnya.”

Samiha Abbas Hijazi:

“Jumat, saat pembantaian terjadi, saya sedang pergi kerumah tetangga. Saya melihat tetangga saya, Mustafa al Habarat, tergeletak bermandikan darah. Isteri dan anak-anaknya tewas. Kami membawanya ke rumah sakit Gaza dan kemudian bersembunyi. Ketika milisi telah pergi, saya kembali ke kamp dan butuh empat hari untuk mencari anak perempuan saya besarta suaminya dari tumpukan-tumpukan mayat itu. Akhirnya saya menemukan Zainab telah meninggal dengan wajah terbakar. Suaminya dipotong jadi dua dan tidak diketemukan kepalanya.”

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *