Mengenang Tragedi Nakhbah Palestina

14 Mei 1946, David Ben Gurion, kepala eksekutif Organisasi Zionis Dunia mengumumkan pendirian negara Israel. Israel menandai deklarasi ini sebagai “Hari Kemerdekaan”. Sejak itu, 15 Mei diperingati secara internasional sebagai “Hari Nakhbah” (Hari Tragedi).

Hari Nakhbah merupakan peringatan pengusiran paksa lebih dari setengah juta warga Palestina atau 750 ribu penduduk Palestina dari kampung halamannya. Mereka kemudian tinggal di kamp-kamp pengungsian. Bencana ini kemudian menjadi krisis pengungsian terpanjang dalam sejarah modern.

Hari itu juga diperingati oleh seluruh masyarakat Palestina di seluruh dunia sebagai pengingat peristiwa brutal yang belum juga berakhir selama lebih dari 30 tahun perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan hak kemerdekaannya. Hak tersebut pertama ditolak oleh Inggris dan kemudian dihancurkan oleh negara baru Israel. Dengan ideologi Zionis, negara Israel dengan klaim eksklusifnya atas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi menolak keras menerima mayoritas penduduknya, yakni rakyat Palestina.

Disamping itu, ratusan ribu warga Palestina diusir paksa dari kampung halamannya, lebih dari 600 desa dan kota Palestina dijarah dan dihancurkan dalam rangka memastikan rakyat Palestina tidak kembali ke rumah-rumah mereka.

Apa yang Selanjutnya Terjadi?

Hampir 1 juta rakyat Palestina terusir. Sementara yang lain menderita karena berada dibawah penjajahan militer dari negara baru Israel. Mereka tidak diperbolehkan kembali ke kampung halamannya, dan bahkan sekalipun penjajahan militer dicabut, mereka tetap saja menghadapi diskriminasi ekstrim.

Mayoritas rakyat Palestina dipaksa mengungsi ke Gaza, Tepi Barat dan negara-negara sekitarnya. Mereka tinggal di tenda selama puluhan tahun lewat bantuan masyarakat internasional.  PBB membentuk badan pengungsi untuk rakyat Palestina yang disebut UNWRA. PBB juga mengeluarkan resolusi 194 yang menyerukan Israel untuk memberikan ijin kembali kepada rakyat Palestina ke kampung halaman mereka dan memberikan kompensasi kepada ribuan pengungsi yang telah kehilangan harta benda mereka. Namun, Israel menolak melaksanakannya.

70 tahun berikutnya, rakyat Palestina berpindah dari satu penindasan ke penindasan yang lainnya. Mereka tetap tidak memiliki negara dan mayoritas rakyatnya tetap berada dibawah pendudukan Israel yang brutal.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *