Mengungkap Jejak Sejarah Terorisme Sekte Syiah: Assasin (1)

Selama hampir dua abad, dari 1090 hingga 1273, orde Asasin memainkan peran tunggal di Timur Tengah. Sebuah sekte kecil Syiah yang sering disebut sekte Nizari Ismaili ini secara geografis tersebar dan dianggap sebagai kelompok sesat oleh mayoritas Sunni dan bahkan banyak kelompok Syiah lainnya. Dengan standar konvensional, Assasin tidak ada padanannya engan kekuatan militer konvensional. Namun di akhir abad 11, pemimpinnya yang kharismatik namun kejam Hasan i Sabbah membentuk sekte ini menjadi kelompok teroris yang paling mematikan yang pernah dikenal di dunia. 

Bahkan untuk penguasa kuat pada masa itu, seperti Abbasiyah dan Fatimiyyah, para sultan dan wazir Seljuk, imperium Ayybid, para pengeran negara-negara Salib, dan para emir yang mengendalikan kota-kota seperti Damaskus, Homs dan Mosul hidup dalam keadaan ketakutan karena adanya para agen Assasin yang sukses menyamar sepeti bunglon. Mereka dikenal dengan nama “Fidaiyyin”. Para agen tersebut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun menyaru dan menginfiltrasi musuh karena dorongan keyakinannya sebelum kemudian menancapkan belati di leher musuhnya, yang sering kali dilakukan di tempat-tempat keramaian. Mungkin yang paling menakutkan, Assasin memilih tidak hanya pembunuhan jarak dekat dan tidak dapat dihentikan, namun juga menolak untuk lari setelah melakukan aksi tersebut. Mereka dengan bangga menyambut kematiannya secara cepat.

Fanatik dan berdisiplin, Hasan i Sabbah dan penggantinya adalah praktisi brilian dalam perang asimetrik. Mereka mengembangkan metode serangan yang tidak pernah terpikirkan oleh musuh-musuh mereka dan direkrut dari para pejuang dengan jumlah kecil. Sebagai aksi deteran yang efektif, pembunuhan para tokoh politik, militer dan agama musuh pada akhirnya menghasilkan keseimbangan kekuatan antara mereka dengan musuh-musuhnya, sehingga mengurangi derajat konflik dan kehilangan nyawa di kedua belah pihak. 

Bagi Hasan i Sabbah, aksi teror mereka adalah alat sah mempertahankan diri karena itu, mereka memfokuskan aksinya kepada para pemimpin politik, militer dan agama yang dianggap memusuhi komunitas Syiah Ismailiyyah. 

Setelah wafatnya Rasulullah, dunia Muslim dibagi menjadi dua kelompok, Sunni dan Syiah. Syiah menyakini bahwa Al Qur’an dan hadist menunjuk langsung pengganti Nabi SAW dari jalur Ali dan para imam mereka memiliki kekuasaan agama dan politik atas komunitas Muslim. Seiring waktu kelompok Syiah terpecah, perbedaan terjadi di kalangan mereka tentang siapa dari keturunan Ali yang dianggap imam yang dibimbing Tuhan. Pada abad 8 M, kelompok Ismaili memilih imam Ismail bin Jafar, sebagai imam ketujuh mereka, yang ditolak oleh mayoritas Syiah. Imam ketujuh atau Syiah Ismailiyyah menjadi minoritas dari minorias dan awal bangkitnya kelompok Assasin yang tersebar  di seluruh dunia Islam. Keyakinan mereka dibangun dari pandangan egalitarian yang mengutuk kekayaan dan kemewahan seperti yang dipraktikkan para khalifah Abbasiyah yang memimpin dunia Islam dari ibukota Baghdad. Syiah mayoritas Istna Asyariyah atau Imam 12 banyak terkonsentrasi di Iran, Irak, Lebanon, Suriah dan semenanjung Arab. Keduanya, baik Sunni maupun Syiah Asyariyah menganggap kelompok Ismailiyyah sesat dan kafir oleh karena itu mereka mengembangkan sekte revolusioner dan rahasia yang mengandalkan misi rahasia untuk menyebarkan keyakinannya. Mereka disebut Da’i.

Salah satu da’i Ismaili, Ubayd Allah, sukses memimpin revolusi melawan dinasti lokal Sunni di kawasan Tunisia sekarang dan mendirikan kekhalifahan Fatimiyyah pada Januari 910, untuk mengenang anak perempuan kesayangan Nabi SAW, Fatimah. 

Khilafah fatimiyyah menaklukkan Mesir pada 969 dan kemudian merangsek ke timur menguasai Palestina, Mekkah dan Madinah serta sebagian wilayah Suriah. Mereka memimpikan menaklukkan Baghdad, menggulingkan khilaafah Abbasiyah dan mempersatukan dunia Muslim dibawah kekuasaan mereka. Sebagai bintang yang tengah bercahaya, Fatimiyyah membangun ibukota Kairo dan mengembangkan infrastruktur untuk memimpin dan mendukung misi mereka ke luar negeri. Aktivitas keagamaan Ismaili di dalam dan di luar Mesir diawasi oleh ketua Da’i di Kairo, sementara wakilnya menjalankan otoritas operasional untuk wilayah-wilayah tertentu, seperti memilih dan mengawasi para dai lokal yang bertanggung jawab menyebarkan ajaran Ismaili. 

Pada pertengahan abad 11 M, sekelompok para petualang Sunni yang gagah berani dari Asia Tengah, Seljuk Turki merebut kendali Persia dan Mesopotamia dan kemudian menjadi penguasa baru dalam khilafah Abbasiyah. Pada saat bersamaan, khilafah Fatimiyyah melemah karena pertikaian internal dan ancaman dari para pasukan Salib Eropa, yang merebut wilayah Yerusalem pada 1099.  Fatimiyyah kehilangan kendali atas Suriah, Arab dan basis mereka di Tunisia, sehingga menyisakan wilayah di Mesir saja. Stabilitas internal mereka berhasil dipulihkan para jenderal mereka dan kekuasaan selanjutnya dipegang perdana menteri dari 1073 hingga 1121. Ketikaa para tentara tersebut berkuasa, Fatimiyyah justru kehilangan basis ideologisnya dan energi mereka dihabiskan untuk mempertahankan wilayah-wilayah yang tersisa. Kejatuhan Fatimiyyah masih berada di tahap awal ketika dai dari Persia, Hasan i Sabbah tiba di Kairo. Sosok ini lahir sekitar 1040 dan 1050 dari keluarga Syiah Asyariyah di Rayy, selatan Teheran. Dia pindah ke keyakinan Ismailiyyah setelah menderita penyakit yang hampir merenggut nyawanya. Pada 1072, dia diangkat sebagai dai Ismailiiyah oleh pemimpinnya di Isfahan. Hasan menghabiskan 4 tahun membawa tugas rahasia dan berbahaya sebagai agen Ismaili di kota tempat tinggalnya. 

Pada 1076, penguasa lokal mencoba menangkapnya, namun berhasil lolos dan mengungsi bersama pemimpinannya di Isfahan. Mentornya menganggap Hassan sebagai aset unik bagi gerakan Ismailiyyah karena dianggap tangguh dan kemampuannya berdebat. Dia ditugaskan ke Kairo untuk mendapatkan instruksi lebih jauh. 

Juni 1082, Hasan bergabung kembali dengan gurunya di Isfahan. Untuk beberapa tahun kemudian, dia menyebarkan ajaran Ismaili di seluruh Persia, namun kemudian dia memfokuskan upayanya di pegunungan Elburz di sepanjang pesisir selatan laut Kaspia, dimana para orang gunung dari Syiah Dailami menjadi pengikutnya. 

Hasan mempunyai tujuan selain menambah pengikut juga membangun basis dimana dia dapat melanjutkan pada fase berikutnya penyebaran ajaran Syiah Ismailiyyah. Pada akhir 1080-an, dia mendapatkan lembah yang dikelilingi oleh gunung-gunung menjulang di utara sungai Shah. Benteng Alamut berada di ketinggian 800 kaki dengan batu granit yang terbentuk dari abu vulkanik. Satu-satunya cara mencapai benteng tersebut melewati jalur tunggal berliku menuju gerbang yang dijaga sekelompok orang. 

Mendapati basis yang pas, Hasan berniat merebut benteng dari Seljuk. Dia pertama kali memberankatkan para dai Ismaili ke masyarakat di sekitar Alamut. Setelah berhasil membentuk komunitas di desa-desa sekitar, para agennya menginfiltrasi benteng dan mulai menyebarkan dakwah di kalangan prajuritnya. Ketika mereka memeluk Ismaili, Hasan secara rahasia masuk ke dalam benteng pada 4 September 1090. 

Hasan hendak membangun kekuasaannya dengan merebut beberapa benteng, dimulai dari benteng di Alamut. Mereka menggunakan kekerasan maupun aktivitas dakwah atau membeli loyalitas mereka. Melihat ada kejanggalan, komandan benteng Seljuk bertindak dan mengusir para pengikut Ismaili. Namun, ternyata banyak pasukan yang telah menjadi pengikut Hasan dan bukan dirinya lagi. Karena kalah jumlah, komandannya akhirnya menyerah. Hasan baik hati memberikan komandan hadiah 3000 dinar emas sebelum keluar dari benteng tersebut. 

Hasan tengah menunggu respon Seljuk. Tidak lama, penguasa lokal Seljuk mengirim pasukan menyerang mereka, namun gagal merebut kembali benteng Alamut. 

Sekali dia sukses membendung serangan Seljuk, Hasan kemudian melebarkan kekuasaannya ke wilayah-wilayah sekitarnya di distrik Rudbar. Jika mungkin, dia lebih suka merebut benteng-benteng tersebut dengan aktivitas propaganda mereka, namun Hasan ternyata lebih banyak menggunakan kudeta atau serangan langsung dengan “membantai, menghancurkan, menjarah, menumpahkan darah dan perang” papar Juwaini, sejarawan Persia pada abad 13 yang ikut serta penghancuran Mongol di Alamut pada 1256. “Dimanapun dia mendapatkan batu yang cocok, maka dia membangun benteng diatasnya.” Lembah tinggi Rudbar dianggap mewakili bentuk negara kecil yang terbentengi dari serbuan Seljuk.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *