Mengungkap Jejak Sejarah Terorisme Sekte Syiah: Assasin (2)

Wilayah lain yang  dilirik karena dianggap potensial dalam pengembangan Ismailiyah adalah Kuhistan, wilayah pegunungan tandus dan kota oase di timur Persia yang dikelilingi Gurun Garam. Seperti penduduk gunung Dailami, Kuhistan bukanlah pemeluk Sunni ortodok, dan gubernur Seljuk memerintah dengan tangan besi sehingga Hasan melihat peluang untuk melakukan pemberontakan.

Hasan yang tinggal di Alamut tidak meninggalkan kawasan  tersebut selama 35 tahun dan mengirim wakilnya ke Kuhistan untuk menjalankan propaganda dan subversi. Wakilnya sukses melakukan tugas itu dan pada musim semi 1092, pemberontak Ismaili berhasil merebut 4 kota besar di Kuhistan dan mengusir pasukan Seljuk.

Seljuk pada awalnya melihat direbutnya Alamut oleh Hasan sebagai masalah lokal. Namun keberhasilan Ismaili  di Rudbar dan Kuhistan memaksa untuk menanggapinya secara serius. Sultan Seljuk Malik Shah dan PM-nya, Nizam al Mulk memberangkatkan pasukannya ke Rudbar dan Kuhistan untuk menghajar Ismaili. Serangan balasan Seljuk tidak diantisipasi oleh pasukan Hasan. Ketika amir Seljuk mengepung Alamut pada Juni 1092, hanya ada 60-70 tentara Ismaili dengan pasokan makanan yang hampir  habis. Akibatnya, Hasan dan pasukannya kelaparan dan kejatuhan Alamut tinggal menunggu waktu.

Hasan mengirimkan pesan kepada salah satu da’i-nya yang tinggal di pegunungan di Qazwiiin, sekitar 150 mil barat daya Teheran. Dengan membawa makanan dan senjata, 300 relawan Ismaili menyeberang ke Alamut, menerobos pasukan Seljuk dan mengirimkan perbekalan kepada garnisun yang hampir putus asa.

Langkah ini tidak pelak menunda untuk sementara kejatuhan Alamut hingga Hasan berhasil mengumpulkan bala bantuan dalam jumlah besar. Akhir musim panas, garnisun Hasan beserta sekutunya di luar benteng melancarkan serangan malam yang terkordinasi atas kemah pasukan Seljuk. Serangan itu sangat mengejutkan sehingga memporakporandakan pasukan Seljuk.

Hasan  menindaklanjuti kemenangan itu dengan serangan lebih besar terhadap  Seljuk. Hasan menganggap Nizam al Mulk sebagai musuh nomer satu Syiah Ismailiyah sehingga menjadi target serangan individual. Dia mengirimkan seorang agen bernama Bu Tahir untuk melakukan misi gagah berani masuk ke jantung kerajaan.

Pada awal Oktober, Bu Tahir tahu bahwa Sultan Malik Shah dan  Nizam al Mulk berangkat dari ibukota Seljuk Isfahan ke kediaman Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Pada malam, 16 Oktober 1092, Nizam al Mulk bergabung dengan Malik Shah dalam tendanya untuk buka puasa bersama. Setelah pengawal membawa Nizam dengan tandu menuju ke kemahnya, Bu Tahir mendekat, berpakaian layaknya seorang sufi meminta sang PM mendengarkan pengaduannya.

Ketika  Nizam mengulurkan tubuhnya ke sang agen yang menyaru, Bu Tahir segera menarik belatinya dan menusuk pria tua tersebut di leher sebelum kemudian para penjaga bergerak membunuhnya.

“Pembunuhan atas setan ini adalah awal kebahagian,” seru Hasan ketika mendengarkan kabar wafatnya PM. Dengan pembunuhan tersebut, sekte Ismaili hendak menunjukkan kepada Muslim Sunni bahwa mereka kini menghadapi musuh yang secara jumlah kecil dan lemah secara militer, namun sukses mempertahankan diri dengan pasukan bunuh dirinya.

Misi suksess Bu Tahir juga menandai awal era baru relasi kekuasaan antara Ismaili dan musuh-musuhnya. Hasan segera membentuk para agen rahasianya yang dia sebut “Fida’i” sebagai pasukan pemukul utama mereka. Selama satu abad berikutnya, beberapa agen mengikuti langkah Bu Tahir menyasar para khalifah, PM, amir, pemimpin agama dan bahkan para pangeran Kristen dengan belati mereka. Sekte ini kemudian dikenal dengan nama “Orde Assasin”.

Beberapa dekade kemudian, penggunaan teror politik oleh para Assasin berkembang dalam beberapa karakteristik. Pertama, Hasan memperkuat atmosfer komitmen ideologis yang mensuplai para relawan yang bertekad melakukan misi bunuh diri.  Para Fida’i adalah anak-anak muda yang dipilih karena keberanian, kecerdasan dan jiwa berkorban untuk menjalankan perintah atasannya. Fida’i Assasin yang terbaik adalah gabungan sosok fanatik yang berani melakukan aksi kamikaze, seorang pasukan yang punya kemampuan bela diri jarak dekat, dan seorang agen intelejen yang bekerja tanpa terlacak selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Semua itu dipersiapkan dalam rangka meneror musuh-musuhnya.

Kedua, Fida’i menyerang targetnya dalam ruang publik, sering kali pada saat target sedang sholat Jumat di Masjid Jami’ dan dikelilingi para pengawalnya. Mereka biasanya sulit lolos bahkan di saat serangan tersebut berhasil. Keadaan ini mengirimkan pesan ke masyarakat luas bahwa Fidai akan melakukan apapun, termasuk mengorbankan dirinya untuk menghabisi musuh-musuh  atas nama agama serta membentuk persepsi bahwa seorang pemimpin yang ditarget oleh mereka  adalah orang mati yang berjalan, tidak peduli berapa banyak pasukan dan senjata yang digunakan untuk melindunginya.

Ketiga, metode pembunuhan Assasin memperkuat ketakutan teror terhadap para korbannya, berikut calon korban berikutnya. Mereka menggunakan pisau atau anak panah yang dilumuri racun dan ditembakkan dari jarak dekat. Mereka melakukannya untuk dapat melihat secara langsung keterkejutan, teror atau kesakitan di mata musuhnya, demikian pula darah yang menyemburat dari musuhny.

Para Assasin kadang kalA menanamkan fidai diantara para pembantu pribadi sang target. Mereka biasanya mendapatkan dulu kepercayaan dari korban sebelum mengeksekusinya. Misalnya, seorang wazir yang melancarkan serangan atas posisi Assasin pada 1126 dibunuh oleh dua Fida’i yang ternyata bekerja sebagai penjaga kuda sang Wazir. Mereka tiba-tiba membunuh sang wazir pada saat diperintah memilih dua kuda sebagai hadiah buat sultan.

Hal yang sama, setelah amir Damaskus melancarkan pembasmian kelompok Ismaili di kota itu pada 1129, para Assasin meresponnya dengan diam-diam mengirimkan dua Fida’i Persia ke Damaskus. Menyamar sebagai orang Turki, Fida’i ini mendapatkan posisi sebagai pengawal pribadi Amir dan menunggu waktu tepat dua tahun kemudian untuk menyerang dan melukainya.

Conrat Montferrat, penguasa Salib yang baru saja menjabat di kerajaan Acre pada 1192 tewas di tangan dua Fida’i yang dipercayainya sebagai seorang Rahib Arab.

Serangan para Assasin memberikan peringatan keras bahwa pemimpin yang memusuhi sekte atau kepentingan mereka akan menghadapi kematian, sekalipun dendam itu baru bisa diwujudkan beberapa tahun kemudian. Penguasa kota Aleppo, yang melakukan aksi pembasmian ratusan Assasin pada 1113 juga menyaksikan aksi balasan kelompok Assasin 6 tahun kemudian. Fida’i menyerang amir dan dua anaknya saat menyeberang sungai dan menewaskan ketiganya.  Seorang pemimpin Druze yang membunuh ketua da’i Assasin di Suriah pada 1128 juga terbunuh di tangan mereka pada 1149.

Karakteristik terakhir pendekatan Assasin dalam terorisme politik hanya menarget musuh-musuh terbesarnya yang dianggap bertanggung jawab terhadap permusuhan  terhadap mereka. Mereka membiarkan rakyat sipil. Strategi mereka mampu menciptakan ketakutan kolektif pada satu sisi  dan disisi lain sukses menjaga basis pertahanan mereka karena mencegah para pemimpin Sunni mengambil tindakan terhadap mereka. Di pertengahan abad 12, hasilnya adalah model hubungan bermusuhan namun membiarkan hidup antara para Assasin Persia dengan musuh mereka Sunni. Eksistensi mereka bertahan hingga datangnya pasukan Mongol seabad berikutnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *