Mengungkap Jejak Sejarah Terorisme Sekte Syiah: Assasin (3)

Jumlah korban Assasin hampir 50 orang antara pembunuhan Nizam al Mulk pada 1092 dan kematian Hasan pada 1124, kemudian merosot 14 orang pada  penggantinya, antara 1138 dan 1162, dan sebagian besarnya berada di luar Suriah pada tahun-tahun berikutnya.

Penggunaan teror politik Assasin dapat dipahami sebagai alat untuk mempertahankan diri. Taktik ini merenggut korban jiwa yang tidak banyak di kedua belah pihak ketimbang perang konvensional.

Hasan mengetahui bahwa metode ini lebih efektif untuk mencegah pemimpin musuh ketimbang membunuhnya dan beresiko balas dendam dari keluarga, pemerintah dan subyeknya. Dengan demikian, setelah Sanjar Ibn Malik Shah, wakil Seljuk yang memerintah Persia Timur, memberangkatkan beberapa ekspedisi militer melawan Ismaili dan menolak menerima duta besar-duta besar mereka pada awal 1100, Hasan menyuap anggota pemerintahan Sanjar untuk meletakkan pisau di samping tempat tidurnya.

Sanjar takut ketika mendapati senjata di pagi harinya, namun dia tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dan merahasiakan insiden tersebut. Namun sesaat setelah itu, duta besar lainnya Assasin menghadapnya, membawa pesan dari Hasan: “Tidakkah saya ingin Sultan dalam keadaan sehat, jika tidak maka pisau itu dapat tertancap ke dada sultan.” Sanjar kemudian membuat pakta non agesi dengan Assasin seperempat abad.

Pembunuhan Nizam al Mulk menghadapi pembalasan yang brutal. Namun sebulan setelah pembunuhan Nizam, sultan Malik Shah yang berusia 37 tahun jatuh sakit dan wafat pada November 1092. Kematiannya menimbulkan perang sipil 12 tahun diantara para anggota kerajaan yang berebut kekuasaan. Kondisi ini memberikan peluang kepada Hasan dan Assasin mengejar kepentingannya selama lebih dari satu dekade. Satu keuntungan tersebut adalah berakhirnya ekspedisi Seljuk merebut benteng Assasin di Kuhistan, karena para komandan dan prajurit Seljuk terlibat dalam perebutan kekuasaan tersebut.

Assasin mengambil keuntungan dari perang sipil Seljuk dengan merebut beberapa benteng secara diam-diam. Ini termasuk benteng Girdkuh yang sulit ditembus, yang mengendalikan jalur besar antara Persia ke China; benteng Lamassar di barat Alamut, yang direbut pada malam hari pada 1102; dan pelbagai benteng pertahanan lainnya diluar ibukota Seljuk Isfahan dan pegunungan di barat daya Persia.

Ekspansi ini berlanjut meskipun terjadi perselisihan antara Syiah Ismailiyah Persia dengan para pimpinan Fatimiyyah di Kairo. Pada `1094, Khalifah Fatimiyyah Ma’ad al Mustanshir Billah meninggal setelah 60 tahun berkuasa, dan perang singkat terjadi antara anak tertuanya, Nizar dan anak bungsunya, al Mustali. Perang itu berakhir dengan kekalahan Nizar, ditangkap dan meninggal di penjara.

Hasan i Sabbah dan para pemimpin Ismaili Persia lainnya mendukung klaim Nizar. Setelahh kematiannya, mereka tetap menegaskan bahwa imamah harus diserahkan kepada salah satu keturunan Nizar atau orang yang ditunjuknya. Bamun loyalitas mereka ke garis Nizar kemudian memecah gerakan Ismaili ini. Setelah 1094, Ismaili Suriah, Mesopotamia dan Persia yang menerima Nizar sebagai Imam dikenal sebagai Ismaili Nizari. Para penentang di Kairo –yang Nizaris anggap sebagai perampas kekuasaan ini, sangat dimusuhi dan dibenci seperti halnya terhadap para khalifah Abbasiyah dan sultan Seljuk. Mereka disebut Mustalian.

Tidak lama, permusuhan tersebut berdampak kepada Assasin. Hasan-i-Sabbah muncul dianggap sebagai wakil (hujjah) imam yang ghaib dan otoritasnya terhadap komunitas Ismaili Nizari yang tersebar di Suriah dan Persia bersifat mutlak.

Namun ketika perang Seljuk berakhi pada 105, Sultan Muhammad Tapar, anak Malik Shah I melancarkan ofensif terhadap Assasin. Seljuk berhasil merebut kembali benteng-benteng di barat daya , diantaranya benteng Shahdiz di luar Isfahan setelah perang sengit dan lama.

Muhamad Tapar kemudian mengarahkan kekuatannya ke basis awal mereka di Rudbar. Dari 1107 hingga 1117, dia memberangkatkan tentara untuk menyerbu dataran tinggi di sekitar benteng Assasin, menyebabkan kelaparan parah sehingga Hasan dan pengikutnya mengirim keluarga mereka ke Girdkuh di pegunungan timur Elburz untuk menyelamatkan diri. Ketika Seljuk hampir merebut baik benteng Alamut dan Lamassar pada musim semi 1118, kabar duka sampai ke pasukan yang berkemah bahwa Sultan Muhammad Tapar wafat. Para emir yang mengepung Alamut dan Lamassar ditarik pulang, sehingga membuat suka cita yang tidak terduga para Assasin.

Hasan kini menyadari bahwa Assasin tidak mungkin dapat mengalahkan kesultanan Seljuk, dan juga negara mini milik mereka tidak akan bertahan dalam keadaan perang terus menerus dari 1107 hingga 1118. Di akhir hidupnya, dia memfokuskan energinya memperkuat keamanan dan kesejahteraan kantong-kantong Assasin yang masih ada, dan tidak ada lagi ekspansi.

Pemimpin pertama Assasin meninggal pada 12 Juni 1124 setelah sakit. Hasan meninggal dalam usia pertengahan 70. Sejarawan Sunni Juwaini yakin bahwa setelah kematiannya, dia segera masuk ke neraka. Hasan mungkin hampir sama dengan Vladimir Lenin, dengan tangan besi, kekejaman dan kecakapannya melakukan agitasi dan konspirasi untuk meraih tujuan politik dan agamanya. Cepat dan tidak kenal belas kasih terhadap musuh-musuhnya. Para pengikutnya membuat museleum buatnya di pegunungan Rudbar.

Assasin terus bertahan setelah kematian Hasan. Mereka bahkan memperluas pengaruh mereka selama seperempat kedua abad 12 di Suriah. Menjelang 1103, Assasin disana mendirikan komunitas cukup besar di Aleppo, dimana emir lokal Seljik, Ridwan ibn Tutush tidak begitu peduli dengan reputasi bid’ah mereka. Ridwan juga memanfaatkan eksistensi mereka. Korban pertama di Suriah adalah ayah mertuanya sendiri, amir Homs.

Para Assasin sadar bahwa mereka tidak akan benar-benar aman sebelum memiliki benteng yang kuat, maka mereka berupaya mencontoh saudaranya di Persia merebut sebuah benteng. Serangkaian upaya antara 1106 dan 1129 gagal, namun pada 1132, Assasin membeli benteng Qadmus di perbukitan perbatasan Aleppo dengan wilayah Kristen, barat sungai Oronets. Selama 10 tahun berikutnya, mereka membeli 6 benteng lainnya di kawasan tersebut, salah satunya, Masyaf yang menjadi ibukota Assasin cabang Suriah selama 130 tahun berikutnya.

Dari wilayah antara Seljuk dan Kristen, Assasin Suriah melakukan aksi penyeimbang dan komplek di natara pelbagai kekuatan yang mengelilingi mereka. Mulai pada 1152, mereka membayar upeti tahunan kepada para ksatria Templar, ordo militer Salib yang kuat, namun mereka juga membunuh Pangeran Raymond Tripoli untuk alasan yang tidak jelas pada tahun yang sama.

Ketika Jenderal  Salahuddin Yusuf bin Ayyub berupaya menyatukan kembali negara-negara Muslim antara Kairo dan Aleppo dibawah kekuasaannya pada pertengahan 1170, Assasin Suriah berupaya membunuhnya dua kali, namun gagal. Mereka pada akhirnya mencapai akomodasi dengan Salahuddin  dan kemudian berdampingan dengan beliau dan penggantinya di kesultanan Ayyubid.

Kemungkinan, pembunuhan yang berdampak adalah pembunuhan terhadap Conrad Montferrat. Conrad adalah pemimpin Assasin Italia utara yang kharismatik, yang sejajar dengan Salahuddin di medan perang. Dia baru saja dipilih sebagai pemimpin baru kerajaan Kristen Acre. Kematiannya yang tiba-tiba pada April 1192 mengakhiri kemungkinan kebangkitan kelompok Kristen karena setelah itu kepemimpinan pasukan Salib dipegang para pemimpin Barat. Mereka memperhatikan dengan penuh seksama dan ketakutan  sehingga mentransformasi kata “assasin” dalam bahasa Inggris dengan arti “pembunuh” untuk target yang dianggap penting.

Pada awal abad 13, fanatisme di kalangan misionaris Assasin mulai melemah. Mereka masih berupaya menghadapi Fatimiyyah dan Seljuk. Salahuddin terkenal karena sukses melemahkan kekuasaan Fatimiyyah pada 1171, sementara kekuasaan Seljuk secara bertahap mulai tersingkir dari kekuatan baru yang bangkit. Kemunduran mereka terus terjadi hingga salah satu komandan Seljuk, Shah Khwarizmi dari kawasan Laut Aral mengalahkan sutan Seljuk terakhir dalam pertempuran pada Maret 1194 dan menewaskannya.  Dalam puncaknya dibawah Al al Din Muhammad pada 1200-1220 dan anaknya, Jalaluddin Mingburnu, dinasti Khwarizmi memerintah dari India hingga Anatolia.

Pada dekade ketiga abad 13, kekuatan baru muncul di Timur Tengah. Dalam serangan yang cepat antara 1219 dan 1231, kelompok Mongol dibawah Jengis Khan membumi hanguskan kota-kota kaya dan padat penduduknya di Asia Tengah  dalam prosesnya menghancurkan imperium Khwarizmi. Pada awalnya, mereka mengabaikan Assasin selama serbuan pertamanya, namun kemudian menjadi target serangan selama 25 tahun.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *