Menolak Memerangi Sesama Muslim, Pasukan India di Singapura Memberontak

Muslim India baik dalam Perang Dunia (PD I) maupun Perang Kemerdekaan Turki, telah menunjukkan dukungan material dan moral yang cukup besar kepada Usmani, Anatolia dan konsep persaudaraan Muslim. Seiring berdirinya “Komite Khilafah India”, mereka memberikan pelbagai dukungan  -mulai dari persediaan senjata dan amunisinya, makanan dan pakaian, medis hingga dukungan keuangan, lobby serta aksi pembangkangan sipil dan militer. Pada saat itu, pandangan di balik dukungan mereka ini adalah: “Dulu, ada banyak pemerintahan dan raja-raja Muslim. Namun ketika salah satu dari mereka jatuh atau hilang, kita tidak begitu sedih. Namun Turki kini adalah satu-satunya pemerintahan Islam yang masih ada dan yang paling kuat. Kami takut bahwa kita akan menjadi orang-orang yang tidak punya negara seperti Yahudi.” Dalam pandangan mereka, gagasan khilafah dan Islam menjadi titik krusial harapan dan sekaligus idealisme mereka.

Meskipun dalam keadaan lemah, Khilafah Usmani  secara politik masih menjadi representasi kekuasaan Islam di Timur Tengah, Eropa,  Afrika dan bahkan hingga wilayah terjauh Asia. Di India, doa bersama dan demonstrasi besar-besaran dilakukan di seluruh penjuru India  untuk mendukung kekhilafahan Usmani pada 17 Oktober 1919. Dalam rangka menghentikan Perjanjian Sevres, yang merendahkan Turki Usmani, pelbagai aksi protes damai digalang di India untuk menentang Inggris. Banyak orang ditahan dalam aksi protes tersebut, bahkan termasuk Nehru dan Gandhi. Mereka menyerukan pemboikotan pemilu dan sekolah-sekolah Inggris.

Puncaknya, perwakilan Inggris di India, Lord Reading mengusulkan kepada pemerintah Inggris untuk menarik warga Inggris dari Istanbul, mengakui kedaulatan Khilafah Usmani atas tempat-tempat suci serta selanjutnya Thracia dan Smyrna dikembalikan ke pangkuan Usmani.

Salah satu peristiwa politik penting yang jarang diungkap adalah pecahnya pemberontakan pasukan Muslim India terhadap militer Inggris. Salah satu aksi pemberontakan yang paling serius terjadi pada 15 Februari 1915 di Singapura yang menjadi koloni Inggris pada waktu itu. Banyak pasukan India yang berasal dari Rajput, Mogols dan Pashtun dari Brigade Infantri Ke 5 melakukan pemberontakan yang disebut Usmani sebagai “Jihad Besar” melawan Inggris. Aksi mereka ini mendapatkan dukungan anggota “Partai Ghadar” dan gerakan propaganda Jerman.

Meskipun pemerintah Inggris dan media menyebutkan alasan pemberontakan karena  ketidaksenangan dan kecemburuan dalam kepangkatan, namun alasan sebenarnya adalah pasukan Muslim tidak mau berperang dengan pasukan Usmani dalam Perang Dunia I di Birma dan India karena dalam pandangan mereka, musuh sesungguhnya justru Inggris dan Perancis.

Berdasarkan laporan Konsul Usmani di Batavia, Jenderal Rifat Efendi: “Ada banyak rumor tentang pemberontakan di Singapura, namun yang benar adalah bahwa Muslim India seperti yang telah disebutkan sebelumnya sedang mendeklarasikan Jihad Besar melawan Inggris untuk dukungan kepada negara Islam (Usmani) . Inggris selanjutnya mendatangkan pasukan India Hindu. Demikian laporan intelejen yang saya terima.”

 

Setelah membunuh para tentara Inggris dan membebaskan tahanan Austria dan Jerman, para serdadu Muslim yang tidak terorganisir ini dengan cepat dibombardir kapal-kapal Perancis, Rusia dan Jepang dan disusul pengerahan pasukan darat. Hanya saja, peristiwa itu dalam perkembangannya memancing perlawanan di beberapa tempat lainnya  sehingga  tidak pelak membuat marah Inggris besar.

Ketika pengadilan dan eksekusi atas para prajurit Divisi Infantri Ke lima dilakukan, Inggris melancarkan pelbagai upaya untuk menutup-nutupinya. Pernyataan resmi pemerintah Inggris menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang mengajukan petisi untuk dapat berperang di Eropa, namun petisi mereka ditolak. Tidak kurang 850 prajurit Divisi Kelima serta 200 pegawai dan kuli angkut dieksekusi dan digantung. Sementara ratusan lainnya dipenjara dan diasingkan. Para prajurit yang tidak dihukum ditempatkan di Kameron dan Afrika Utara untuk menghadapi Jerman. Pada 1917, berikutnya “Angkatan Bersenjata Malaysia” menolak berperang melawan Usmani di Eden, Yaman.

Pemberontakan  pasukan Muslim India  terjadi lagi di Kut al Amare . Setahun setelah pemberontakan di Singapura, dalam rangka menduduki Irak, Divisi Keenam, yang terdiri dari  pasukan yang kebanyakan Muslim- dibawah komando  Jenderal Townsend berangkat ke Kut al Amare -dalam perjalanan menuju Basra untuk berperang melawan Usmani. Para Muslim Pathan menolak berperang melawan saudara mereka, Muslim Turki sehingga membelot, memberontak dan melarikan diri dari divisi mereka. Banyak dari mereka yangbergabung dengan pasukan Usmani dan kemudian menyerang balik Inggris.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *