Mustafa Kemal Ataturk: Pendiri Republik Turki Sekuler

Evolusi Turki pada awal 1900-an adalah salah satu perubahan sosio-kultural yang paling mencengangkan dalam sejarah Islam. Dalam waktu pendek, khilafah Usmani diruntuhkan dari dalam, dihapus dari sejarah Islam dan bertransformasi menjadi negara sekuler baru yang dinamakan Turki. Konsekuensi ini masih terasa hingga sekarang di seluruh penjuru dunia Muslim, termasuk dalam polarisasi ideologi masyarakat Turki.

Apa yang menyebabkan perubahan monumental dalam pemerintahan dan masyarakat Turki? Semuanya berpusat kepada figur penting, Mustafa Kemal, yang dikenal dengan sebutan  Atatürk. Melalui kepemimpinanya pada 1920 dan 1930-an, negara Turki sekular modern didirikan dan Islam disingkirkan dalam kehidupan masyarakat.

Bangkitnya  Atatürk

Keputusan khilafah Usmani terlibat dalam Perang Dunia (PD) I menjadi kesalahan yang mengerikan. Imperium diperintah oleh diktator baru, 3 Pasha yang secara sepihak terlibat perang dengan berada di pihak Jerman, melawan Inggris, Perancis dan Rusia. Khilafah Usmani diserang Inggris dari selatan, Rusia dari Timur dan Yunani dari Barat. Pada 1918, perang berakhir, Khilafah Usmani dibagi dan diduduki oleh pihak sekutu pemenang perang, dan hanya meninggalkan wilayah pedalaman Anatolia masih tetap dikendalikan bangsa Turki.

Mustafa Kemal in 1918

Mustafa Kemal in 1918

Di Anatolia tengah ini kemudian Mustafa Kemal bangkit menjadi pahlawan nasional bagi bangsa Turki. Sebagai perwira tentara Usmani, dia mampu menunjukkan kecakapannya dalam berperang, khususnya di Gallipoli, sehingga pada akhirnya, Usmani berhasil memukul mundur pasukan  Inggris yang  menduduki Istanbul. Setelah perang, Kemal ternyata memiliki agenda politik sendiri, membangun nasionalisme Turki sebagai faktor pemersatu bagi masyarakat Turki. Tidak seperti khilafah Usmani yang multi etnik dan beragam, Kemal hendak mendirikan negara monolitik berdasarkan identitas Turki.

Dengan kata-katanya sendiri, Mustafa Kemal menggambarkan pentingnya identitas Turki dan tidak pentingnya Islam:

“Bahkan sebelum menerima agama bangsa Arab (Islam), Turki adalah bangsa yang besar. Setelah menerima Agama bangsa Arab, agama ini, tidak membawa pengaruh apapun dalam membentuk sebuah bangsa, meskipun ada Arab, Persia dan Mesir didalamnya. (Agama ini) lebih merupakan pertalian nasional yang longgar dari bangsa Turki, merefleksikan kebanggaan nasional yang mati rasa. Ini alami. Karena tujuan agama yang didirikan Muhammad, atas semua bangsa, hanya dalam rangka menyeret mereka semua kedalam politik identitas Arab.”

– Mustafa Kemal, Medenî Bilgiler

Pandangannya tentang sejarah Islam yang buruk mendorongnya membawa agenda nasionalis. Menggunakan identitas Turki sebagai titik bergerak, dia berupaya mempersatukan bekas para perwira Usmani dibawah komandonya dalam Perang Kemerdekaan pada awal 1920-an dan sukses mengusir pasukan pendudukan Inggris, Perancis dan Yunani merebut wilayah Turki pasaca Perang Dunia I. Menjelang 1922, Kemal berhasil mengusir mereka dari wilayah Turki dan menggunakan momentum tersebut untuk mendirikan Republik Turki modern yang dipimpin Dewan Nasional Agung (DNA, semacam DPR) di Ankara.  Sebagai kepala pemerintahannya adalah presiden yang dipilih DNA. Dan pilihan itu jatuh ke Mustafa Kemal, sosok pahlawan Perang Kemerdekaan, yang mengambil gelar Atatürk, yang artinya Bapak Turki.

Penghapusan Kesultanan dan Khilafah Usmani

Pertama kali, pemerintah Turki yang baru tampak masih mewarisi peran pemerintahan Usmani yang menjadikan Islam sebagai dasar negara. Konstitusi baru yang dibuat oleh DNA menyebutkan Islam sebagai agama resmi Turki dan semua hukum yang berlaku harus diuji oleh panel ahli hukum Islam, untuk memastikan tidak bertentangan dengan Syariah.

Namun, sistem baru ini tidak dapat bekerja, selama masih ada pemerintah tandingan di Istanbul, yang dipimpin oleh Sultan Usmani. Pemerintah Ankara dan Istanbul saling mengklaim memiliki  kedaulatan atas Turki dan memiliki tujuan yang saling bertentangan. Atatürk menyingkirkan problem ini pada 1 November 1922, ketika dia menghapuskan kesultanan Usmani. Meskipun kesultan sudah tidak ada lagi, dia masih mengijinkan kekhilafahan masih berlanjut, meskipun sekedar simbol dan tidak memiliki kekuasaan politik.

Abdülmecid II, the last caliph who held the office from 1922 to 1924.

Abdülmecid II, khalifah terakhir (1922-1924).

Mengetahui bahwa manuver sangat tidak populer di mata rakyat Turki,  Atatürk membenarkan tindakan tersebut dalam rangka mengembalikan ke bentuk pemerintahan Islam tradisional. Dari 900-1500, khalifah Abbasiyah hanya sekedar simbol, sedangkan kekuasaan sesungguhnya berada di tangan para menteri dan komandan perang. Atatürk menggunakan contoh ini untuk membenarkan tindakannya melucuti kekuasaan khalifah.

Khilafah telah ada sejak wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, ketika Abu Bakar dipilih sebagai pemimpin pertama dunia Muslim. Bagi Muslim di luar Turki, tindakan Atatürk dipandang berbahaya. Muslim di India menyatakan kemarahannya sehingga mendirikan gerakan Khilafah, dalam rangka melindungi kekhilafahan dari ancaman, baik dari para penjajah asing maupun pemerintah Turki sendiri.

Bagi Atatürk, ekspresi dukungan masyarakat Muslim di luar Turki dianggap sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri Turki. Karena menganggap ada campur tangan internasional, pada 3 Maret 1924, Atatürk dan DNA memutuskan menghapus khilafah dan mengasingkan seluruh keluarga Usmani yang tersisa.

Serangan Atas Islam

Setelah khilafah dibubarkan, pemerintah Turki memiliki banyak kebebasan untuk menjalankan kebijakan yang menyerang institusi-institusi Islam. Dibawah kampanye “Membersihkan Islam dari gangguan politik”, sistem pendidikan dirombak secara total. Pendidikan Islam dilarang dan diganti dengan sekolah-sekolah sekuler, yang bersifat non dogmatik.  Aspek-aspek lain dalam infrastruktur keagamaan juga dibuang. Dewan Syariah yang dibentuk untuk meratifikasi hukum yang didirikan DNA dua tahun lalu juga dihapus. Lembaga wakaf diambil alih negara. Madrasah-madrasah Sufi ditutup paksa. Semua hakim Islam di Turki dipecat dan semua pengadilan Syariah ditutup.

Serangan Atatürk terhadap Islam tidak hanya terbatas di pemerintahan, namun juga kehidupan sehari-hari masyarakat Turki juga didikte oleh gagasan sekuler Atatürk:

  • Pakaian tradisional Muslim seperti turban dan fez dilarang dan digantikan dengan topi model barat.
  • Hijab bagi Muslimah dianggap sebagai “pakaian aneh” dan dilarang dipakai di temapt-tempat umum.
  • Kalendar Hijriah diganti dengan kalender Masehi.
  • Pada 1932, adzan dilarang dikumandangkan dalam bahasa Arab. Sebaliknya, dilantunkan dalam bahasa Turki.
  • Jumat tidak hari libur, namun diganti dengan sabtu dan minggu.

Setelah perubahan ini, DNA menghapuskan klausul konstitusi yang menjadikan Islam sebagai agama resmi. Islam digantikan oleh ideologi sekuler Atatürk.

Reformasi Bahasa

Atatürk memandang bahwa reformasi sekuler ini akan rentan jika rakyat Turki menentangnya. Ancaman terbesar atas ordr baru ini adalah sejarah Turki, yang sejak 900-an tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Untuk menjauhkan generasi baru ini dari masa lalunya, Atatürk harus menjadikan masa lalu tersebut tidak dapat dibaca maupun dipelajari lagi.

Dengan dalih meningkatkan angka melek huruf diantara masyarakat Turki, Atatürk mengganti tulisan Arab dengan huruf latin. Seperti Persia, bangsa Turki terbiasa menulis dengan huruf Arab selama ratusan tahun setelah mereka memeluk Islam pada 900-an. karena bahasa Turki ditulis dengan huruf Arab, maka rakyat Turki dapat membaca Qur’an dan teks Islam lainnya yang berkaiatan dengan identitas Islam dengan mudah. Dalam konteks ini pula, Atatürk menganggapnya sebagai ancaman.

Atatürk juga membentuk komisi yang bertugas menggantikan kata serapan Arab dan Persia dalam bahasa Turki. Dalam menjaga agenda nasionalisnya tersebut, Atatürk benar-benar menginginkan bahasa yang sepenuhnya Turki, yakni penggunaan kembali bahasa kuno yang sudah tidak berlaku lagi selama kepemimpinan Usmani. Misalnya, penulisan Perang Kemerdekaan yang dulunya “Iktilal Harbi” (kata serapan bahasa Arab) diganti dengan Kurtuluş Savaşı.

Dari perspektif Atatürk inilah, reformasi bahasa  sukses. Dalam beberapa dekade, warisan Turki Usmani secara efektif sirna. Generasi baru Turki sepenuhnya terpotong dari generasi lama, dimana percakapan yang seharusnya mudah menjadi sulit. Dengan rakyat Turki tidak dapat membaca masa lalunya, maka pemerintah Turki dapat memberikan versi sejarahnya sendiri yang dianggap dapat mempromosikan ide-ide nasionalistik Atatürk.

Turki yang Sekuler

Semua reformasi ini secara efektif menghapus Islam dari kehidupan sehari-hari masyarakat Turki. Meskipun ada upaya keras dari banyak masyarakat Turki yang relijius (seperti Said Nursi) untuk  menjaga warisan, bahasa dan agama, gelombang tekanan dari pemerintah untuk mengadopsi ide sekularisme menjadi terlalu banyak. Selama lebih 80 tahun, pemerintah Turki tetap sekuler. Segala upaya untuk mengembalikan nilai-nilai Islam dalam pemerintahan menghadapi perlawanan dari militer, yang menganggap sebagai pelindung sekularisme Turki.

Pada 1950-an, Adnan Menderes dipilih secara demokratis sebagai Perdana Menteri Turki setelah menjanjikan mengembalikan adzan dalam bahasa Arab. Meskipun berhasil, dia digulingkan oleh kudeta militer pada 1960 dan menggantungnya setelah pengadilan yang singkat. Pada 1996, Necmettin Erbakan dipilih sebagai perdana menteri, karena dia mendeklarasikan secara terbuka sebagai Islamis, maka sekali lagi militer campur tangan, menggulingkan dia dari kekuasaaannya setahun kemudian.

Hubungan Turki modern dengan Islam dan sejarahnya sangat rumit. Sebagian masyarakat mendukung ideologi Atatürk dan meyakini Islam tidak boleh masuk dalam ranah publik. Sementara sebagian yang lainnya mencitakan kembali masyarakat dan pemerintahan yang berorientasi dengan Islam serta semakin dekat dengan dunia Islam. Yang paling menyulitkan konflik ideologi kedua golongan ini masih berlangsung.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *