Normalisasi Hubungan Saudi-Israel Hadiah Besar Bagi Iran

Arab Saudi sedang menuju normalisasi hubungan keamanan, ekonomi dan politik dengan Israel. Ini lebih cepat dari yang diperkirakan. 

Penguasa di Arab Saudi yang dipimpin oleh putera mahkota Mohammed bin Salman telah mengambil keputusan. Mereka tidak lagi peduli dengan banyak negara Arab yang secara tradisional tidak dapat berhubungan secara resmi dengan Israel. 

Kerajaan sedang menuju ke arah itu tanpa malu lagi. Dari perspektif mereka, normalisasi dengan Israel tidak lagi dianggap hal yang tabu atau memalukan. 

Keyakinan yang sama di antara clique penguasa adalah bahwa perjuangan Palestina tidak lagi menjadi isu penting mereka. Mereka lebih disibukkan dengan isu domestik. Sebelum Saudi memfinalisasi langkah ini, mungkin mereka akan mencari jalan untuk menyalahkan rakyat Palestina. Mereka akan menyatakan bahwa rakyat Palestina telah menjual perjuangan dan menyerah dengan nasib mereka sendiri. Meraka akan menunjukkan termasuk para pejabatnya yang mencari ‘solusi’ diatas kepentingan nasional mereka. 

Lebih jauh, penguasa de facto, Mohammad bin Salman tahu bahwa dia membutuhkan dukungan Amerika untuk menjalankan ambisi domestiknya dan untuk itu, jalan menuju Washington harus lewat Tel Aviv. 

Beberapa negara Arab memang telah menjalin hubungan dengan Israel. Namun, dilema Saudi jelas berbeda. Kepentingan Arab Saudi tidak berdasarkan rencana strategis yang jelas, namun lebih karena miskinnya alternatif mereka. Dengan kata lain, proyek ini didorong karena berulang kalinya kekalahan dan kekecewaan dalam politik regional dan juga kegagalan mereka menghadapi Iran.

Resikonya jelas tinggi, para pejabat Saudi sedang melihat diri mereka sebagai pemimpin yang sedang mewakili kepentingan ratusan juta masyarakat Sunni dan Arab. Mereka seharusnya tidak mengambil posisi ini begitu saja. Ketika para penguasa Saudi bersikap demikian, mereka berharap  mendapatkan kehormatan karena disanalah Islam berawal dan dua tempat suci berada.

Tanda pertama pergeseran ini berasal dari bocoran bahwa Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas dipanggil ke Riyadh dua pekan lalu dan ditekan untuk menerima rencana Trump dalam menyelesaikan konfliknya dengan Israel tanpa diskusi lebih dahulu. Dibawah situasi ini, Abbas patut mendapatkan simpati karena dia tidak boleh mengatakan tidak sebagai jawabannya. Sekalipun dia setuju, dia tidak dapat mengubahnya di lapangan.

Pendekatan ini hanya akan semakin menjamin Israel, yang dipandang akan mendapatkan keuntungan simbolik saja, karena pada kenyataannya juga tidak banyak mengubah pandangan masyarakat secara umum. (Mesir menormalisasi hubungannya dengan Israel 40 tahun lalu, namun hanya berlaku di tingkat pejabatnya saja, karena pada kenyataannya rakyat menolak. Hal yang sama berlaku buat Yordania yang menormalisasi hubungannya 25 tahun lalu. 

Namun hasil ini justru akan menguntunkan Iran. Ini karena ditengah konflik sektarian di kawasan, normalisasi hubungan antara Saudi dengan Israel “atas nama Muslim Sunni” akan memberi citra bahwa Muslim Sunni telah menyerah dalam isu Palestina. Sementara di sisi lain, ada Muslim Syiah yang teguh mengorbankan apa saja untuk mempertahankan kesucian Masjidil Aqsha dan perjuangan mereka.

Ini jelas akan memberikan hadiah paling berharga bagi Iran dan bukti lain kecerobohan Arab Saudi. 

Sumber: Al Quds Al Arabi

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *