NU Tak Pernah Meninggalkan Palestina

Suara Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) serak-sendu hampir menangis. Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2013-2015 ini membacakan puisi “Orang Palestina, Begitulah Namaku” karya Harun Hashim al-Rashid. Di larik “Lalu mereka menginjak-injak namaku, menginjak-injak badanku,” suaranya makin tersengal. Di satu titik, menjelang puisi berakhir, ia meneteskan air mata.

Puisi yang dibacakan Gus Mus itu mengisahkan kepedihan orang-orang Palestina yang terampas dan terusir dari negerinya sendiri. Bersama aktor kawakan Slamet Rahardjo Djarot, Gus Mus mendeklamasikan puisi tersebut secara bilingual. Gus Mus membaca versi bahasa Arab, Slamet kebagian terjemahan bahasa Indonesianya.

Malam Jumat lalu (24/8) di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Gus Mus tampil bersama tokoh-tokoh dan para penyair lain membawakan puisi-puisi sastrawan Palestina. Di antara mereka yang tampil adalah Renny Djajoesman, Joko Pinurbo, Abdul Hadi WM, Mahfud M.D., Taufik Ismail, dan Jamal D. Rahman.

Gus Mus adalah penggagas acara bertajuk “Doa untuk Palestina: Malam Pembacaan Puisi-Puisi Palestina” ini. Awalnya, ia hanya menyampaikan informasi soal acara itu kepada beberapa tokoh dan penyair yang ia kenal. Ia tidak menyangka mereka menyambut baik. Kata Gus Mus, kehadiran para tokoh dan penyair menandakan mereka memiliki satu rasa kepada Palestina.

“Kita simpati kepada saudara kita yang perjuangannya sama,” ujarnya seperti dilansir NU Online.

Pembacaan puisi itu sebenarnya ingin membangkitkan lagi acara serupa yang diselenggarakan 35 tahun lampau sekaligus menggalang solidaritas masyarakat Indonesia untuk Palestina. Sebulan lalu, tentara Israel bentrok dengan demonstran Palestina yang menentang penggunaan detektor logam kepada warga yang hendak menunaikan salat Jumat di Masjid al-Aqsa.

 

Sumber: Tirto.id

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *