Ofsted Dituduh Rasis Karena Wawancarai Siswa SD Berjilbab

Rekomendasi Ofsted untuk para inspektur untuk menanyai murid SD jika mereka mengenakan hijab dikecam sebagai “kebijakan jorok, diskriminatif dan secara institusional rasis” oleh lebih dari 1000 guru, akademisi dan para pemimpin agama.

Inspektorat sekolah mengumumkan bulan ini bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk mengatasi masalah dimana pemakaian hijab dianggap sebagai seksualisasi anak-anak perempuan yang baru berusia 4 atau 5 tahun pada saat ajaran Islam memerintahkan anak gadis memakai hijab di usia pubertas. 

Langkah ini dikritik sebagai kebijakan berbahaya yang beresiko “meningkatkan kultur anti Muslim karena Islamophobia atau rasisme diinstitusionalisasikan di lembaga sekolah dan sektor publik.”

Pengumuman Ofsted dalam bentuk rekomendasi untuk para inspektur, yang tidak ada dalam manual resmi para inspektur adalah serangkaian langkah terbaru yang dikeluarkan setelah “Trojan Horse Affairs” di Birmingham pada 2014 yang memprovokasi ketakutan terhadap pengaruh Islamis di sekolah-sekolah negeri.

Amandan Spielman, kepala Ofsted dan kepala inspektur sekolah mengatakan dia menghormati “pilihan untuk membesarkan anak-anak mereka dengan norma budaya, namun ingin menangani situasi dimana anak-anak SD diminta untuk memakai jilbab yang dinilai sebagai seksualisasi anak-anak gadis.”

Pengumuman tersebut dikeluarkan bulan ini antara Spielman dengan kelompok melawan hijab di sekolah, termasuk Amina Lone, direktur Lembaga Penelitian Aksi Sosial.

Petisi yang ditulis oleh Nadine El Enany, dosen hukum senior di Sekolah Hukum Birkbeck, Universitas London, Waqas Tufail, dosen senior Kriminlogi di Universitas Leeed Beckett dan Shereen Fernandez, kandidat PhD di Universitas Queen Mary London berbunyi:

“Kami, bertandatangan dibawah ini, meminta Ofted untuk segera menarik instruksinya kepada para inspektur mewawancarai anak-anak SD yang memakai hijab.

Kami mendapati keputusan tersebut untuk mengkhususkan anak-anak Muslim untuk ditanyai tidak dapat diterima dan mendesak bahwa tidak boleh ada anak-anak sekolah yang ditarget atas dasar ras, agama dan latar belakangnya.

Sementara diskusi tentang seksualisasi anak-anak perempuan di kultur dan ekonomi Inggris disambut, namun mengkhususkan anak-anak Muslim untuk penyelidikan tidak dapat diterima.

Pesan yang dikirim dari kebijakan Ofsted terhadap perempuan Muslim adalah bahwa cara mereka memilih berpakaian dan keputusan mereka membesarkan anak-anak mereka menjadi subyek pengawasan adalah derajat yang tidak berlakukan kepada orang-orang tua non Muslim.

“Lebih jauh, keputusan Ofsted mereduksi hijab sebagai simbol seksualisasi dan mengabaikan interpretasi lainnya mulai dari praktik keyakinan hingga simbol pemberdayaan dan perlawanan. Mengonstruksi perempuan dan anak-anak yang memakai jilbab sebagai bentuk seksualisasi atau penindasan adalah cara pandang reduksionis dan rasis yang merupakan pembangkitan kembali jubah kolonial dan orientalis tentang mereka.” 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *