Operasi Keamanan Arab Saudi Dikecam Para Aktivis HAM

Mungkin banyak yang mengira bahwa gambar diatas adalah insiden kekerasan di Yaman atau Suriah, namun gambar tersebut adalah di Awamiyyah, Qatif, provinsi timur Arab Saudi setelah operasi keamanan Arab Saudi yang telah berlangsung selama sebulan.

Kehancuran tampak di Awamiyya. Sebuah foto citra satelit menunjukkan hancurnya seluruh bagian kota, khususnya di distrik bersejarah Almosara sebagai akibat bentrokan antara pasukan keamanan dengan para milisi Syiah di jalanan yang sempit.

Kota Awamiyah yang berumur 400 tahun ini dihuni sekitar 30 ribu warga Syiah. Kota ini telah dikepung aparat keamanan sejak sebulan lalu karena hendak dipindah paksa oleh pemerintah.

View image on Twitter

Menurut para aktivis HAM,  para pekerja peternakan di Al Ramis, utara Awamiyyah mendapatkan pesan suara untuk mengusir para binatang dari wilayah tersebut.

Sebelumnya beredar pengumuman pengumuman pengusiran warga dari rumah-rumah mereka di distrik Al Shweikah, sekitar 6 km selatan Almosara yang dikeluarkan oleh perusahaan pengembang perumahan Alibrahim, yang bertanggung jawab untuk renovasi di Almosara.

Ameen Nemer, warga Syiah di kota itu khawatir bahwa pemerintah Saudi bersiap memperluas serangan di kawasan mayoritas Syiah lainnya, karena mereka tidak menginginkan ada yang tinggal di Awamiyah.

Ketegangan meningkat di kota itu setelah rencana pemerintah untuk menghancurkan dan merenovasi Almosara. Alasannya, wilayah tersebut sering digunakan sebagai tempat persembunyian kelompk bersenjata. Akibtanya, puluhan orang tewas dalam insiden kekerasan yang terjadi.

Koran pemerintah Al Sharq Al Awsat merilis bahwa dua orang dalam “daftar teroris” telah menyerahkan diri, 3 masih melarikan diri dan selebihnya tewas dibunuh.  Sementara itu, dipihak pemerintah, 3 aparat keamanan tewas. Sebuah sumber yang belum diverifikasi menyebutkan kurang lebih 24 warga dan aparat tewas sejauh ini.

Awamiyah sebenarnya telah bergolak sejak pemerintah Saudi mengeksekusi ulama Syiah Nimr al Nimr dari kota ini pada 2006.

Informasi lengkap tentang keadaan kota ini susah didapatkan karena pengamanan ekstra ketat dan pengawasan media oleh pemerintah Saudi.

Media asing tidak dapat mengunjungi wilayah itu tanpa ditemani para pejabat pemerintah untuk alasan keamanan. Informasi sejauh ini hanya didapatkan dari pemerintah Saudi, aktivis lokal atau laman berita dari kelompok Syiah.

Dilaporkan beberapa rumah dan pertokoan dibakar atau rusak karena bentrokan. Aliran listrik dan pasokan air dimatikan di banyak bagian kota.

Ratusan warga Syiah dilaporkan diusir paksa dan dievakuasi dari rumah-rumah mereka, termasuk diluar wilayah Awamiyah.

“Setelah mereka menghancurkan Almosara, saya kira mereka juga melakukan di wilayah lainnya,” ujar Nemer.

Seorang warga Syiah lainnya, seperti dikutip Harian The Independent, mengatakan bahwa aparat keamanan menyerbu rumah mereka dengan menodongkan senjata ke seluruh anggota keluarga karena mereka terlibat dalam aksi protes damai.

Namun, karena tindakan berlebihan aparat keamanan, mereka kini mempersenjatai diri mereka.

“Kami tidak punya alasan. Mempertahankan hidup dan menjaga keluarga kita adalah tugas. Rumah-rumah sudah dihancurkan oleh bom, penembakan dan RPG. Setiap orang jadi target,” ujar aktivis bersenjata tersebut.

Sementara pemerintah Riyadh berdalih bahwa para pemrotes bersenjata di Awamiyah adalah para teroris yang hendak mendestabilisasi Arab Saudi secara keseluruhan sehingga harus dihentikan dari menjadikan bangunan-bangunan dan jalan sempit sebagai tempat persembunyian mereka.

Para aktivis HAM yang berbasis di AS mengatakan ratusan ratusan orang -mencakup 90 persen populasi- telah mengungsi dan meninggalkan sekitar 3000 hingga 5000 warga yang masih bertahan meskipun telah dihentikan pasokan listrik dan air. 

Mei lalu, PBB mengecam rencana pemukiman kembali pemerintah Saudi di kota tersebut karena dilakukan secara paksa tanpa memberikan opsi pemukiman kembali yang layak, selain rencana tersebut merusak “warisan budaya yang bersejarah atas kota tersebut yang tidak dapat diperbaiki kembali.”

“Ini adalah krisis. Dan tidak banyak orang tahu, meskipun ada media sosial dan internet. Di Saudi, jika anda ingin menindas HAM maka anda dapat melakukannya hingga 100 persen meskipun ada hidup di abad 21 ini,” ujar Adubasi, seorang aktivis HAM yang berbasis di AS. 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *