Organisasi Teroris Junta Militer Sisi

Jumat kemarin adalah hari menyedihkan bagi Mesir. tidak seperti hari-hari lainnya. Negara ini tidak pernah mengalami insiden seperti pernah kita dengar di Irak dan Suriah, dimana masjid-masjid dibom selama aktivitas ibadah. Media pemerintah selalu mengatakan kepada kita, “Setidaknya kita tidak seperti Suriah dan Irak,” tetapi kita kini seperti mereka. Ratusan jamaah sholat dibunuh pada saat mereka sujud kepada Allah, dan darah mereka mengalir, tanpa seorangpun dapat diselamatkan. Kematian meningkat hingga 305 dalam akhir pekan ini. 27 diantaranya anak-anak dan hampir 200 lainnya luka.

Kejahatan itu dilakukan beberapa meter dari pangkalan militer dan tempat pemeriksaan. Ini menimbulkan pertanyaaan bagaimana kelompok bersenjata, dengan lebih dari 40 militan menurut sumber resmi, tidak dapat dihentikan maupun digeledah. Dan yang lebih buruk, mereka mengendarai mobil-mobil 4 gardan.  Bagaimana mereka dapat masuk terowongan Ahmed Hamdy menuju El Arish disaat penggunaan kendaraan seperti dilarang? Tidak ada polisi maupun tentara yang menghentikannya. Polisi dan militer membiarkan para militan masuk masjid, menewaskan ratusan jamaah, tanpa ada satupun anggota militan yang terluka atau tertangkap.

Ini jelas membingungkan dan sulit dijelaskan. Namun, kita harus menempatkan peristiwa ini dalam perspektif yang tepat. Isu ini menunjukkan ketidakpedulian aparat keamanan. Bahkan  Abdel Fattah al Sisi menolak untuk mengatakan bahwa aparat keamanan lalai. Ini hal menyedihkan sekaligus menggelikan.  Dalam pidatonya, dia mengatakan bahwa apa yang terjadi merupakan hal alami dari  upayanya untuk melawan terorisme. Oleh karena itu, dalam kata-katanya sendiri, insiden yang mengerikan bukan karena kelalaian keamanan, namun lebih karena hasil perkembangan yang dimaksudkan.

Namun, saya yakin bahwa tumbuhnya terorisme secara internasional sebagian karena kesalahannya sendiri saat menjabat sebagai ketua intelejen militer, sebelum menjadi Menhan pada masa Mursi. Ini diperkuat dengan fakta bahwa dia mengatakan dalam pidatonya,”Kita sedang berperang melawan terorisme atas nama seluruh dunia.” Pernyataan yang dijawab Guardian,”Tidak ada yang memberi otoritas dia.”

Benar bahwa tidak ada seorangpun yang memberi otoritas dia, dia memberi otoritas dirinya sendiri, seolah posisinya sebagai Presiden Mesir dalam rangka melindungi dunia dari insiden semacam itu, dan dunia harus mendukungnya. Dia mencari legitimasi kekuasaan dari aksi terorisme semacam ini, oleh karena itu, tidak benar-benar ingin menghentikannya. Ini artinya dibutuhkan banyak orang mati untuk dia dan rejimnya yang fasis.

Dalam pidatonya, dia mengatakan  akan menghadapi terorisme dengan kekuatannya yang brutal. Penggunaan kata “brutal” berarti dia akan menggunakan cara-cara brutal seperti yang dilakukannya sekarang ini. Hanya beberapa jam kemudian, kita melihat angkatan udara Mesir membom kawasan permukiman di Sinai Utara, yang dikatakannya sebagai sel teroris, dimana banyak penduduk sipil disana. 

Jika tentara tahu dimana selnya, mengapa mereka tidak membomnya sebelum pembantaian? Atau tujuan pemboman tersebut dalam rangka menenangkan rakyat, yang kemarahannya telah mencapai titik didih atas performan tentara di Sinai dan karena kelalaiannya selama ini dalam tugas tempur dan  keamanan perbatasan. Sebaliknya tentara sibuk dengan pekerjaan membuat kue dan selai, dan kini beternak ikan dan udang (baca: misi kekaryaan seperti jaman Orde Baru Suharto). Saya melihat upacara mereka yang dihadiri Al Sisi secara live di TV, sedang merayakan pembukaan pabrik ikan dan udang tentara. Mereka bangga dengan prestasinya tersebut, namun jauh dari profesionalisme pasukan tempur. Tentara Mesir dihina dan rakyatpun marah.

Inilah negara militer dibawah diktator al Sisi, tentara telah kehilangan semangat berperangnya dan mengubah doktrin militer melawan Zionis menjadi berperang melawan umat Islam, yang digambarkan sebagai “perang melawan teroris”. Tentara berubah menjadi institusi ekonomi yang menjual ikan, udang dan permen. 

Apakah tentara benar-benar membunuh lusinan teroris, seperti dikatakan atau melakukan hal itu dalam rangka menutup rasa malu dan terhina sehingga terpaksa membunuh lusinan warga sipil di Sinai? Ini akan mengundang kemarahan rakyat dan mendorong mereka yang selamat dari kebrutalan rejim untuk balas dendam atas kehilangan keluarga dan kerabat mereka. Kondisi yang tidak pelak menciptakan mata rantai  permusuhan, yang tidak ingin diakhiri pemerintah. 

Mungkin aksi kekerasan yang berulang di Sinai Utara adalah cara pemerintah untuk mengusir penduduknya dalam rangka memuluskan rencana mencaplok Gaza dan menciptakan tanah air alternatif untuk rakyat Palestina, seperti diinginkan Israel. Ini menjadi bagian dari “kesepakatan abad ini” Trump, yang tahap awalnya disiapkan, dan dalam konteks ini, organisasi teroris Sisi memiliki peran utamanya. 

Ada banyak pertanyaan yang patut dijawab. Pertanyaan itu akan terjawab dalam beberapa hari kemudian ketika peristiwa-peristiwa lain saling menyusul. Ada banyak hal yang terjadi dan akan terjadi kemudian. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *