Partai Afiliasi Ikhwan, Al Ishlah di Yaman dan Implikasi Blokade Saudi

Tidak lama, krisis Teluk pecah, pemerintah Yaman dukungan internasional mengumumkan pada 5 Juni untuk memutuskan hubungan dengan Qatar. Langkah ini mengherankan karena pemerintah Yaman mendapatkan dukungan Saudi, 

Pemerintah Abed Rabbu Mansour Hadi menyambut pengusiran Saudi atas Qatar dalam aliansi anti Houthi. Partipasi Qatar tidak begitu besar baik dalam level politik maupun militer, tidak seperti Arab Saudi dan UEA. Qatar hanya menempatkan 100 prajurit di perbatasan Yaman-Saudi. 

Dukungan utama Qatar atas pemerintah Hadi berupa pembayaran gaji pada staff diplomat selama 2 tahun dan pemberitaan media seperti Al Jazeera di Doha dan New Arab di London yang mendukung aliansi. 

Qatar membiayai media seperti Yaman Shabba dan Balqess TV yang dimiliki pemenang hadiah nobel dan anggota partai Al Ishlah, Tawakkol Karman. 

Al Ishlah, sebagai partai utama di Yaman menentang Houthi, dekat dengan Hadi dan menjadi penentang Qatar. Partai yang merepresentasikan sayap politik Ikhwanul Muslimin di Yaman ini ditindas oleh kelompok Houtjo yang didukung Iran dengan menyerang rumah para pemimpinnya dan menahan sejumlah anggotanya untuk kepentingan politik. Oleh karena itu, banyak pemimpinnya yang meninggalkan Yaman setelah pecah perang dan banyak diantaranya tinggal di Arab Saudi, seperti Mohammad al Yadoumi. 

Pada 5 Juni, pemimpin Al Ishlah mengeluarkan pernyataan mendukung sikap pemerintah Hadi yang melawan Qatar. Namun, beberapa anggota dan pemimpin lainnya juga tinggal di Turki, seperti halnya siaran Belqees TV yang mendukung Qatar. Oleh karena itu, ada perbedaan antara pendirian resmi partai dan pendirian anggota dan kalangan muda yang tinggal di Turki yang bersimpati dengan Qatar dan pemerintah Turki. Meski demikian, mereka menghindari mengkritik Arab Saudi. 

Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin di Yaman memiliki hubungan yang erat. Pendiri dan pemimpin partai, almarhum Syeikh Abdullah Ibn Hussain al Ahmar menerima bantuan keuangan dari Arab Saudi dan membantu memperkuat pengaruh Saudi di kalangan suku-suku di Yaman Utara. Arab Saudi juga mendanai pelbagai lembaga agama yang menyediakan pendidikan formal di Yaman. Para anggota Ikhwanul Muslimin mengendalikan pelbagai lembaga pendidikan sejak didirikan pada 1975 hingga lembaga-lembaga tersebut ditutup pada 2001.

Namun hubungan antara Al Ishlah dan Arab Saudi mulai merenggang ketika partai ini terlibat dalam revolusi 2011 melawan mantan diktator Ali Abdullah Saleh yang kini berbalik haluan memusuhi Saudi. Sementara hubungan UEA (uni Emirat Arab) semakin dekat dengan Saudi sejak naiknya putera mahkota Mohammad bin Salman. UEA membenci Al Ishlah sebagaimana membenci Ikhwanul Muslimin. Meski demikian, Arab Saudi masih menyambut para pemimpin Al Ishlah, karena masih dianggap sebagai partai lokal Yaman mendukung aliansi Saudi melawan pemberontak Houthi di Yaman. Satu-satunya tokoh yang dimusuhi adalah seorang pemimpin Salafi Abdul Wahab al Hamiqani yang kini tinggal di Qatar. 

Paradoksnya adalah Houthi kini berpihak kepada Qatar dan untuk kali baik Houthi dan anggota Al Ishlah setuju ada satu sikap politik. Meskipun Qatar dan Ikhwanul Muslimin  sangat kuat, namun tidak banyak tahu seberapa kuat hubungan Qatar dengan Houthi yang kemudian merenggang pasca meletusnya bentrokan antara Houthi dengan Salafi pada 2011.  

Qatar pernah mengambil langkah politik dan diplomatik untuk mengakhisi perang 2004-2010 di distrik Saadah Yaman antara Houthi dengan pemerintah Yaman. Menlu Qatar pada saat itu Hamad bin Khalifa al Thani mengunjungi Sanaa, ibukota Yaman untuk memfasilitasi gencatan senjata pada 2007. Mediasi Qatar dilanjutkan pada Juni 2007 dan berhasil mencapai kesepakatan kedua belah pihak  pada Februari 2008. Kesepakatan tersebut meredup pada Maret ketika putaran kelima bentrokan bersenjata meletus. Media Qatar menyalahkan Saleh yang menganggap Qatar mendukung Houthi. 

Sejak 2009, ketegangan antara Qatar dan Saleh memburuk. Saleh menuduh Qatar menyuplai Houthi dengan senjata dan uang. Perselisihan memuncak pada 2011 ketika negara itu mendukung aksi protes rakyat Yaman yang hendak menjatuhkan Saleh. Saleh menuduh Al Jazeera melancarkan konspirasi dan mendukung terorisme. Namun, justru pasca revolusi 2011, Saleh dan Houthi justru bersekutu. Hanya saja persekutuan mereka kini pecah. 

Dampak krisis Teluk juga dirasakan di Yaman. Rekonsiliasi masih jauh dari Yaman sekarang. Namun diprediksikan perang di Yaman akan semakin panas karena adanya ketegangan di Teluk. Pemain utama dalam krisis di Yaman kini saling bertarung satu sama lain. Negara-negara Teluk akan bertarung melalui proksinya. Qatar kini akan membutuhkan Iran karena perbatasannya ditutup Saudi. Akibatnya kebijakan luar negeri Qatar akan dinilai dari sejauh mana hubungan negara Iran dengan negara-negara Teluk. Qatar juga akan diprediksikan memperbaiki hubungannya dengan Houthi. 

Mungkin pertanyaannya bagaimana Qatar akan menghadapi partai Al Ishlah di Yaman mengambil sikap mendukung sikap pemerintah Yaman melawan Qatar, meskipun banyak para anggota secara tidak resmi mendukung pemerintah Qatar. Ikhwanul Muslimin di Yaman mengendalikan media-media Qatar dan Qatar mendanai pelbagai media Ikhwanul Muslimin di Yaman. Diluar itu, Ikhwanul Muslimin tetap menjadi kekuatan militer di Yaman yang patut diperhitungkan karena ada di hampir seluruh wilayah Yaman, tidak hanya Houthi yang terbatas di Yaman utara. Yaman utara melawan Arab Saudi sekarang, dan di pelbagai front juga telah merusak citra dan menguras kekayaan negara monarki tersebut selama perang.

Kini di kalangan negara sekutu Arab Saudi juga terpecah karena UEA mendukung Dewan Transisi yang akan membentuk negara Yaman Selatan terpisah dari pemerintah Abdul Rabbu Mansur Hadi yang didukung Saudi. Milisi dukungan UEA kini menarget Al Ishlah yang menentang manuver politik Dewan Transisi dan UEA. Masa depan Yaman semakin jauh dari rekonsiliasi karena campur tangan dan ambisi negara-negara utama di sekitarnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *