PASIAD: Jaring Gulenis di Indonesia

Gilang Adi Nugraha- Indonesia

Percobaan kudeta 15 Juli di Turki berhasil digagalkan oleh kekuatan gabungan rakyat dari semua kalangan dengan aparat keamanan pro pemerintah yang dengan gagah berani membela tanah air dan pemerintah yang dipilih secara demokratis. Ketika kudeta digagalkan dan proses yudisial ditegakkan atas para pelaku, investigasi menunjukkan bahwa para pengikut Fethullah Gulen dan jaringannya di Turki (yang dinamakan FETO) menjadi pelaku utama kudeta dengan beragam bantuan dari kelompok selain FETO. Sementara keterlibatan AS dan aktor-aktor dari negara-negara lain sedang diselidiki, bukti bantuan jaringan FETO di luar negeri (baik secara langsung maupun tidak) berlimpah dalam aksi tersebut.

Baik itu investigasi pemerintah Turki, penyelidikan pengadilan, para penyelidik independen seperti Nedim Sener dan Ahmet Sik, atau investigasi dan reportasi media oposisi, seperti Hurriyet semua sepakat bahwa institusi yang terkait dengan Gulen baik di dalam dan luar negeri adalah salah satu sumber utama pendanaan organisasi rahasia ini. Melalui sekolah, rumah sakit, perusahaan dan lembaga-lembaga lainnya, mereka menggelontorkan uang untuk pelbagai aktivitas ilegal FETO, mulai dari menyuap tokoh-tokoh penting (untuk mendukung tujuan mereka seperti menulis laporan yang bagus dan sejenisnya), membantu lembaga-lembaga afiliasi mereka di pelbagai negara hingga mendanai penyesatan informasi dan upaya pemerasan melalui media-media tertentu. Investigasi yang dilakukan tokoh-tokoh internasional seperti Mark Hall dan David Hearst juga menguak realitas bahwa orang-orang yang terkait  FETO dari pelbagai negara tidak hanya menggelontorkan uang untuk mendanai percobaan kudeta dan melakukan upaya destabilisasi di Turki, namun  juga melakukan pelanggaran hukum di negara-negara dimana mereka beroperasi. Dari tidak jujur dalam melaporkan penghasilan dan kegiatan mereka seperti  di AS hingga propaganda hitam terhadap Turki di Inggris dan Pakistan (Edward Garnier, anggota parlemen dari Partai Konservatif Inggris menerima sekitar 150 ribu dollar AS atau Rp 2 hingga 2,5 milyar).

Dari bukti-bukti ini pula, Turki memasukkan FETO sebagai organisasi teroris. Selanjutnya, pemerintah Turki juga meminta negara-negara lain untuk menutup atau menghentikan ijin sekolah atau organisasi yang terkait dengan Gulen. Hanya saja,  pemerintah Indonesia menanggapi dingin permintaan tersebut.

Presiden Indonesia Joko Widodo, kepala negara Muslim demokrasi terbesar di dunia hingga 8 Agustus tidak mengutuk kudeta ataupun menyatakan dukungannya kepada pemerintah yang dipilih secara demokratis ini, seperti halnya negara-negara lain. Pemerintah bahkan tidak menanggapi permintaan Turki terkait penutupan sekolah-sekolah yang terkait dengan Gulen di Indonesia. Pemerintah Indonesia mengemukakan beberapa alasan untuk menolak permohonan Turki. Alasan-alasan itu antara lain;

Alasan pertama adalah bahwa ijin PASIAD (organisasi Gulenis yang mengendalikan 9 sekolah-sekolah di Indonesia) telah telah dicabut. Karena alasan itu, mereka menolak melakukan reorganisasi manajemen sekolah-sekolah ini seperti yang diminta Turki. Tidak dengan klarifikasi yang memadai dari pemerintah, pada kenyataannya, sekolah-sekolah ini masih memiliki administrator yang terkait dengan Gulen baik dari orang Turki ataupun Indonesia sendiri. Beberapa teman saya, yang mendatangi sekolah Kharisma Bangsa (Sekolah yang dioperasikan PASIAD) memberitahu saya, meskipun ijin PASIAD sudah dicabut, orang-orangnya masih bekerja di sekolah ini. Tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai administrator maupun  guru, mereka juga  menyebarkan ideologi PASIAD disana. Ini berarti mereka  tidak hanya menyebarkan informasi yang salah tentang Turki, namun juga membantu secara finansial jaringan-jaringan rahasia mereka.

Pemerintah Indonesia melalui menteri pendidikan harus melakukan pengecekan ulang atas sekolah-sekolah ini daripada semata percaya kepada penjelasan bahwa ijin PASIAD secara nominal sudah dianggap mengakhiri pengaruh jaringan FETO atas sekolah-sekolah ini.  Yayasan yang sekarang mengelola sekolah-sekolah ini serempak membantah tuduhan dan menolak pendapat bahwa mereka terkait dengan jaringan FETO/Gulenis,  hal yang seragam juga dilakukan sekolah-sekolah maupun lembaga-lembaga mereka  di AS, Pakistan dan India.  Patut dicatat bahwa orang-orang yang terkait Gulen di Indonesia memiliki banyak pengaruh bisnis di Indonesia, meskipun tidak sebesar yang di Pakistan.

Berikut  ini daftar sekolah-sekolah yang didirikan PASIAD di Indonesia:

Pribadi Bilingual Boarding School, Depok

Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung

Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School, Tangerang Selatan

Semesta Bilingual Boarding School, Semarang

Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School, Jogjakarta

Sragen Bilingual Boarding School, Sragen

Sekolah Fatih Fatih untuk Anak Perempuan, Aceh

Sekolah Fatih untuk Anak Laki-Laki, Aceh

Banua Bilingual Boarding School, Kalimantan Selatan

Alasan kedua pemerintah, yang juga diyakini banyak pendukungnya, adalah penutupan sekolah-sekolah ini akan membahayakan kepentingan murid yang sedang belajar dan para pegawai yang bekerja disana. Yang terjadi sebaliknya, pemerintah Turki tidak meminta pemerintah Indonesia menutup sekolah-sekolah itu untuk waktu yang tidak tertentu. Namun  menutup sementara hingga penyelidikan administrasi sekolah dan upaya menghilangkan pengaruh Gulenis disana. Praktik yang berjalan di Turki membuktikan bahwa untuk melakukan ini hanya membutuhkan maksimal  dua pekan, dengan guru dan administrator baru yang direkrut untuk menggantikan mereka yang diduga terkait  jaringan FETO

Para pegawai juga tidak perlu khawatir atas pekerjaan mereka, karena bukti di Pakistan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang terkait dengan Gulen bahkan tidak perlu ditutup, yang berlaku hanya mekanisme transisi dari administrator yang terkait  Gulen dengan para administrator dari Yayasan Maarif Turki yang kemudian meneruskan proses pendidikan. Di Pakistan, para pegawai bahkan berterima kasih karena lingkungan kerja mereka kini terbebas dari pengaruh organisasi rahasia, plus mereka tidak perlu khawatir dikeluarkan dari pekerjaannya jika memang tidak terkait  jaringan FETO. Untuk mendiskusikan kepentingan para murid, mereka  merasakan bahwa para guru dan adminitrator yang baru hanya fokus kepada peningkatan kualitas pendidikan, tanpa khawatir uang mereka digunakan untuk organisasi rahasia dan aktivitas teroristik.

Dalam kasus Indonesia, langkah ini mungkin dapat dilakukan melalui kerjasama gabungan antara pemerintah Indonesia melalui yayasan atau lembaga yang ditunjuk dan pemerintah Turki dengan lembaga atau yayasan yang direkomendasikan. Maka tidak tepat jika Menteri Pendidikan Muhajir Effendy mengatakan mereka tidak dapat membekukan sekolah-sekolah itu karena tidak mendapatkan dukungan keuangan dari pemerintah Turki dan alasan kepentingan siswa.  Pak Effendy dan Presiden Jokowi tidak perlu tergesa-gesa menolak permintaan Turki terlebih dahulu.

Alasan ketiga adalah kedaulatan. Banyak orang berpendapat, termasuk menteri pendidikan dan juru bicara pemerintah  bahwa menyetujui permintaan Turki untuk menyelidiki sama saja dengan didikte negara asing. Dalam banyak kasus, pemerintah Indonesia sering menerima dikte dari AS, Australia dan China dalam melacak, melarang dan menahan terduga kriminal dan pelaku teror.

Juga benar bahwa pemerintah Indonesia mengeluarkan peringatan kepada rakyat Indonesia untuk tidak melanjutkan hubungan mereka dengan institusi-institusi yang terkait  Gulen. Pemerintah Turki mungkin harus bekerja keras untuk memberi bukti yang solid kepada pemerintah Indonesia. Mungkin apa yang perlu diperhatikan adalah bahwa pelbagai lembaga dan orang yang terkait dengan Gulen dapat dibuktikan tidak hanya membahayakan kepentingan Turki, namun juga potensial dalam derajat tertentu membahayakan kepentingan Indonesia sendiri. Dan sebagai negara yang memiliki hubungan historis yang berlangsung ratusan tahun (dengan Aceh dan Kesultanan Yoyakarta), Turki mungkin berhak mendapatakan simpati dan respon yang lebih baik dari Indonesia.

 

Diterjemahkan dari worldbulletin.net

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *