Pemilu Lokal di Yordania Uji Tuah Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin Yordania memenangkan beberapa kursi dalam pemilu lokal dan walikota di Yordania setelah 10 tahun boikot.

Hasil yang didapat, 3 kursi walikota di dua wilayah kota yang padat penduduk menjadi kesempatan bagi gerakan ini untuk menguji sebera besar pengaruh dan popularitas mereka di tengah masyarakat setelah gagalnya Arab Spring. 

Kemenangan lokal tidak pelak akan memberikan daya ungkit partai ini di tingkat nasional sembari menunggu seberapa efektif kandidat walikota mereka dapat menjalankan pemerintahan lokal, memberikan pelayanan kepada masyarakat dan mengembangkan pelbagai proyek pembangunan yang dapat memberikan harapan perubahan kepada masyarakat. 

Front Aksi Islam, sayap politik Ikhwanul Muslimin menyatakan 3 dari 6 kandidatnya akan memimpin pemerintahan kota, sementara 25 dari 48 kandidatnya juga memenangkan dewan “desentralisasi”. Diluar itu, Ikhwan merebut 5 kursi di Amman, ibukota. 

“Mereka menempatkan kandidat yang tidk banyak dan menang di wilayah yang memiliki pengaruh sejarah,” ujar Oraib Rantawi, kepala Pusat Al Quds untuk Studi Politik di Amman.

“Ini adalah kemenangan besar bagi mereka dan menunjukkan bahwa mereka tetap populer dan bahwa kebijakan pemerintah untuk melawan mereka tidak berhasil.”

“Partai Aksi Islam akan terus memperluas basis pemilihnya dan jika mereka sukses mengelola pemerintahan lokal maka ini akan memperkuat momentum mereka dalam pemilu mendatang,” tukasnya.

Selasa kemarin, komisi pemilu Independen menyebutkan hanya 31,7 persen dari 4,1 juta pemilu yang memberikan suara. 

Warga Yodania memberikan suara untuk walikota dan anggota dewan lokal untuk pertama kalinya berdasarkan UU desentralisasi yang disyahkan tahun lalu. 

PM Yordania Hani Mulki menyebut pemilu lokal kali ini sebagai langkah bersejarah dalam mendorong reformasi komprehensif di negara monarki ini. 

Pada 2007, Ikhwanul Muslimin memboikot pemilu dengan alasan kecurangan pemilu. 

“Tidak diragukan lagi ini merupakan kemenangan besar kami,” sambut Said Ali Abu al Sukkar, wakil ketua Front Aksi Islam yang memenangkan posisi walikota di Zarqa. Zarqa adalah kota terpadat ketiga di Yordania dengan penduduk 1,364 juta jiwa. 

“Kami ingin merehabilitasi kota Zarqa dan menciptakan pemerintahan yang bersih, serta mencari solusi atas polusi dan sampah. Kami juga ingin menyelesaikan permasalahan administratif dan keuangan kota ini,” tambahnya. 

“Meski demikian, kemenangan Ikhwan dalam pemilu lokal tidak akan memperbaiki posisi mereka dalam negara,” ungkap Muhammad Abu Rumman, pakar gerakan Islam di Pusat Studi Strategis di Universitas Yordan. 

“Mereka belum punya visi pembangunan. Ikhwan baru dalam posisi memperbaiki posisi mereka atas negara dan menunjukkan kekuatannya ditengah tekanan negara dan perpecahan internal. Ini lebih merupakan kemenangan simbolik karena mereka menang di 2 dari 3 wilayah padat penduduk. Zarqa adalah basis kabilah dan etnik Palestina,” tambahnya.

Pada 2015, monarki yordania menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok terlarang, namun memberikan ijin kepada cabang Ikhwanul Muslimin lainnya. 

Tahun lalu, untuk pertama kalinya, Ikhwanul Muslimin ikut dalam pemilu parlemen dan hanya memperolah 8 dari 130 kursi di parlemen, sementara sekutunya mendapatkan 7 kursi. 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *