Penangkapan 3 Mahasiswa Indonesia di Turki: Apa yang Terjadi?

Belum selesai permasalahan hukum mahasiswa Indonesia bernama Handika Lintang Saputra, dua mahasiswi Indonesia dengan inisial YM dan DY kembali ditangkap oleh otoritas Turki. Keduanya ditangkap atas dugaan keterlibatan mereka dalam jaringan teror Fethullah Gulen.

Dampak penangkapan tiga mahasiswa mungkin sedikit dapat diprediksi karena lumayan banyaknya mahasiswa Indonesia di Turki dan sebagiannya merupakan mahasiswa dari jalur PASIAD yang berafiliasi dengan jaringan teror Gulenis (FETO). Di Indonesia, PASIAD setidaknya memiliki sembilan sekolah tingkat atas yang tersebar di seluruh Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan yang dimiliki PASIAD menjaring siswa-siswa dari keluarga kaya dan anak-anak yang memiliki prestasi akademis yang tinggi dari seluruh Indonesia.

Dalam prosesnya, mereka yang belajar di Turki, baik karena biaya sendiri atau sebagian besarnya karena beasiswa- selanjutnya difasilitasi dan ditampung di rumah-rumah Gulen. Selain  belajar di kampus-kampus, mereka juga mendapatkan pendidikan khusus tentang gerakan Hizmet, diantaranya kewajiban setiap harinya membaca buku tentang sejarah dan pemikiran Gulen, yang dibimbing dan diawasi langsung oleh para seniornya (dari Indonesia). Dalam setiap rumah Gulen, ada setidaknya seorang pengawas yang mereka sebut abi (jamaknya; abiler), yang bertugas mengawasi, mendidik dan mengikutsertakan mereka dalam pelbagai aktivitas cemaat Gulen. Sistem base-camp dan kaderisasi yang ketat menjadikan anak-anak rumah (diantara mereka sering menyebutnya) tidak dapat leluasa beraktivitas di luar kegiatan-kegiatan Gulen. Setidaknya ini pengakuan beberapa mahasiswa yang pernah tinggal bersama mereka. Dalam banyak kesempatan, bahkan mereka dilarang mengikuti aktivitas kegiatan sejenis diluar gerakan mereka.

Dalam konteks ini ada dua perspektif yang dapat dikemukakan:

Pertama, para mahasiswa dalam jalur PASIAD secara internal dianggap sebagai wadah kaderisasi bagi penguatan dan ekspansi cemaat.  Mungkin, cemaat memandang Indonesia sebagai tempat strategis bagi rekrutmen sumber daya dan finansial untuk gerakan mereka yang bersifat trans-nasional. Eksistensi sembilan lembaga pendidikan prestisius di tanah air sudah cukup menggambarkan konteks  derajat dan ambisi sphere of influence gerakan ini di Indonesia. Terlebih PASIAD tidak semata bergerak di bidang pendidikan, lembaga nir laba ini juga merepresentasikan gerakan lobby di tanah air. Setiap tahunnya, mereka memberangkatkan banyak tokoh berpengaruh di Indonesia, baik dari LSM, lembaga-lembaga agama, tokoh politik hingga para  jurnalis ke Turki, baik untuk sekedar melihat sukses gerakan mereka atau magang dengan lembaga-lembaga afiliasi mereka di Turki. Dalam konteks ini, PASIAD terhitung sukses merepresentasikan gerakan mereka sebagai gerakan non politik yang damai dan derajat ‘netralitas’ atau dapat dibaca keberpihakan media dan tokoh di Indonesia atas kudeta brutal yang merenggut 250 warga sipil dalam hitungan 24 jam. Bahkan, Presiden Jokowi sendiri sunyi dari sikap politik pasca kudeta.

Kedua, penangkapan 3 mahasiwa Indonesia dapat dilihat oleh pemerintah Turki sebagai ‘vocal point’ karena derajat aktivitas dan pengaruh ketiga (atau mungkin bertambah) dalam struktur organisasi clandestine seperti Hizmet atau FETO, setidaknya untuk jaringannya di Indonesia. Tentu untuk itu, hanya aparat keamanan Turki yang tahu, namun dilihat dari skala dan dampak kerusakan yang diakibatkan kudeta 15 Juli lalu sudah cukup menggambarkan kemungkinan spill overnya atas Indonesia yang sejak 90-an telah menjadi target breeding ground gerakan Fetullah Gulen. Setidaknya dalam rumor di kalangan mahasiswa di Indonesia di Turki, mereka yang ditangkap adalah “Buyuk Abi” atau semacam big brother dalam gerakan.

Ada setidaknya beberapa alat bukti yang dimiliki otoritas keamanan di Turki. Mulai dari pengakuan para pelaku kudeta yang tertangkap, penyitaan dokumen yang berisi list pejabat  pasca kudeta (dirampas dari seorang kolonel pro kudeta di rumahnya) dan terakhir, terbongkarnya jutaan data percakapan dari aplikasi enkripsi Bylock dan selanjutnya Eagle IM (semacam aplikasi chatting yang diklaim aman dari pembobolan) yang secara khusus digunakan para Gulenis di seluruh Turki. Jika Bylock yang memiliki 8 digit password dan enkripsi yang super aman digunakan sebelum kudeta, maka pasca kudeta mereka beralih dengan Eagle IM yang menawarkan model ‘256-bit end-to-end AES encryption’.  Hanya saja, lembaga telik sandi (MIT) Turki telah berhasil membuka 18 juta pesan terinkripsi  dari lebih 50 ribu pengguna yang dicurigai menjadi bagian dari plot kudeta.

Dalam konteks ini, patut diduga, nama tiga mahasiswa ada dalam jutaan pesan terinskripsi yang berhasil dibongkar. Jadi, saya termasuk yang yakin jika otoritas keamanan Turki memiliki alasan tersendiri untuk menahan ketiga mahasiswa tersebut. Pemerintah Turki ingin mengetahui sejauh mana pengaruh jaringan Gulen di Indonesia atau setidaknya apa peran yang bersangkutan dalam gerakan clandestine tersebut. Turki tentu tidak ingin membahayakan hubungan kedua negara yang memiliki jejak kesejarahan yang panjang dan sama-sama berpengaruh secara regional, hanya karena menahan ‘mahasiswa’.

Hanya saja, yang patut digarisbawahi adalah janji PM Binali Yildirim bahwa penahanan atas 50 ribu orang di Turki dilakukan untuk mendeteksi dan memisahkan antara mereka yang benar-benar menjadi loyalis berpengaruh Gulenis dengan mereka yang sekedar ikut-ikutan atau bersimpati dengan gerakan ini. Selanjutnya, proses hukum yang adil dan manusiawi bagi ketiga mahasiswa Indonesia, termasuk akses konsuler bagi mereka selama proses hukum itu berlangsung. Saya kira ini dua titik krusial yang harus dilakukan perwakilan Indonesia disana, jika memungkinkan, percepatan pemulangannya ke Indonesia atau karena berkaitan dengan karir dan masa depan mereka, diijinkan meneruskan studinya di Turki dengan beberapa komitmen penting, seperti tidak ikut dalam gerakan terlarang di Turki.

Dalam konteks ini pula, boleh jadi benar, jika ketiga mahasiswa yang ditangkap di Turki termasuk kategori kedua seperti yang dimaksud PM Binali Yildirim. Untuk itu, kita tidak patut khawatir karena mereka akan masuk dalam kelompok yang akan segera dilepas karena sekedar bersimpati dan ikut-ikutan. Proses pendidikan di tanah air dan selanjutnya ‘penggiringan’ mereka kedalam rumah Gulen cukup untuk memperkuat indikasi ini, terlebih jika mereka belajar disana karena fasilitas beasiswa. Kecuali jika sebaliknya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *