Pentas Drama Sekolah Mesir Tuding Turki dan Qatar Di Balik Tragedi Sinai

Sebuah sekolah Mesir membuat kontroversi saat menggelar drama serangan masjid Sinai pekan lalu dengan adegan anak-anak beraksi sebagai korban dan pelaku serangan, menurut koran Al Masry al Youm.

Sekolah di provinsi Dakahlia Mesir membuat pentas pada Selasa disaksikan murid-murid dan guru. Pentas tersebut menampilkan anak-anak yang berlumuran darah terbaring di jalanan, sementara para militan digambarkan sedang memegang bendera Qatar, Turki, Israel dan Iran, yang menyiratkan bahwa negara-negara tersebut bertanggung jawab atas insiden tersebut. 

Kritik tajam bertebaran di sosial media karena sekolah dianggap memaksa anak-anak terlibat dalam isu politik dan dengan penggambaran adegan berdarah yang tidak sesuai dengan karakter anak. Juru bicara kementerian Pendidikan Mesir mengklarifikasi bahwa lembaganya tidak memerintahkan pertunjukan tersebut dan direktur sekolah telah dipindahkan karena pentas tersebut. 

27 anak-anak turut menjadi korban dalam aksi terorisme Jumat lalu, serangan terburuk dalam sejarah Mesir yang menewaskan lebih 300 orang dan melukai 128 lainnya.

Sejauh ini, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab, namun pemerintah Mesir menyebut para penyerang mengibarkan bendera Daesh saat serangan terjadi. 

So far no group has claimed responsibility; however Egyptian authorities claim that the gunmen were carrying a Daesh flag.

Menyusul serangan tersebut, para aktivis sosial media telah melancarkan serangan terhadap Presiden Mesir Abdel Fattah al Sisi yang mengkritik “kegagalannya memberikan keamanan ke rakyat Mesir meskipun semua kekuasaan dan otoritas yang dimilikinya.”

Mesir telah berperang melawan pemberontakan Daesh sejak pertengahan 2013, ketika presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, Mohammed Mursi digulingkan dalam kudeta berdarah. Sejak itu, ratusan personil keamanan Mesir tewas dalam serangan di sekitar Sinai, khusunya di kawasan kuadran utara-timur semenanjung, yang berbatasan dengan Israel dan Jalur Gaza yang diblokade. 

Serangan Jumat menjadi pergeseran target para militan yang sebelumnya hanya memfokuskan polisi dan tentara di kawasan itu. Sejak Desember 2016, mereka juga mulai menarget gereja dan jamaah Koptik di wilayah itu. 

Menyusul serangan tadi, Turki mengumumkan bahwa Senin sebagai hari bergabung nasional dengan bendera dikibarkan setengah tiang. 

Pemerintah Mesir juga kritik terhadap Qatar dan Turki karena dituding mendukung terorisme. Kedua negara membantah tuduhan itu.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *