Perang Kotor Al Sisi di Semenanjung Sinai

Jumat lalu menjadi hari mematikan di Mesir sejak Agustus 2013. 

Serangan militan menyasar Masjid Al Rauda, barat ibukota Sinai Utara, Arish. Lebih dari 300 orang tewas dan setidaknya 100 lainnya luka. Serangan terjadi di desa Bir al Abdi, tempat tinggal kabilah Sawarka. 

Pada Mei 2017, kabilah Sawarka mendeklarasikan tidak hanya sumpah setia kepada Kairo, namun juga bergung dengan tentara Mesir memerangi terorisme di Sinai Utara. Sekitar seperempat penduduk desa meninggal karena serangan tersebut. 

Penduduk desa melaporkan bahwa mereka berada dalam ancaman selama berbulan-bulan. Para militan yang menyatakan baiat kepada ISIS telah berulang kali mengancam masjid itu karena menjadi tempat berkumpul hadra sufi -kegiatan keagamaan Sufi. 

Serangan ini banyak digambarkan media Mesir sebagai serangan sektarian, sehingga mengabaikan kaitannya dengan implikasi politik aliansi kabilah Sawarka dengan militer. Dalam proses ini, media merancang isu “permusuhan salafi-sufi“. Tidak hanya cara pandang ini sulit diterima dalam wacana publik Mesir, namun juga problematis dan oversimplifikasi. 

Junta militer Abdel Fattah al Sisi merespon serangan ini dengan cara yang dia pahami- menjanjikan “kekuatan brutal dalam menghadapi teroris takfiri ekstrimis.”

Dalam arahannya, Mesir kini terjebak dalam perang brutal atas teror di wilayah gurun pasir barat dan Sinai kini menjadi ajang kekerasan yang sulit dihentikan. Sisi kemudian mengumumkan akan membangun monumen di desa itu untuk mengenang mereka yang meningkat, langkah yang menimbulkan tanda tanya. 

Cendekiawan rejim bergabung dalam puja puji uoaya pembasmian para aktivis yang dianggapnya sebagai bagian penting dari perang melawan terorisme. Beberapa bertindak melampaui batas dengan mengusulkan mempersenjatai kabilah-kabilah di Sinai agar dapat mempertahankan diri, namun justru mengabaikan konteks sejarahnya. 

Gamal Eid, pengacara HAM dan kepala Jaringan Arab untuk Informasi HAM mengumumkan bahwa kliennya, Islam al Rifai ditahan di Kairo pada 16 November.

Rifai dituduh tergabung dengan Ikhwanul Muslimin, yang dianggap rejim Mesir sebagai organisasi teroris. 

Bagi yang kenal Rifai, maka tuduhan junta militer menggelikan. 

Para pendukungnya kenal benar siapa Rifai yang sosok yang jauh dari agama dan nilai-nilai konservatit, bahkan dia sering membuat pernyataan kotroversial tentang norma-norma sosial. 

Tidak seperti Mahinour El Masru atau Alaa Abdel Fatah, Rifai sama sekali tidak terlibat dalam gerakan protes sehingga pengacaranya menduga ada permasalahan pribadi dalam penangkapannya. Rupanya Rifai pernah mengunggah gambar Al Sisi bersama para pemuda revolusioner pada 2012, yang kini mereka ditangkapi satu persatu sebagai respon penyelenggaraan konferensi pemuda internasional. 

Para pendukungnya membuat hashtag #خرم_مش_ارهابي (Khorm is not a terrorist).

Penahanan Rifai menjadi pertunjukan terbaru bagaimana Al Sisi dalam mengamankan kekuasaannya.

Pertama, mereka menarget anggota dan simpatisan Ikhwanul Muslimin dengan tuduhan aksi terorisme. Kemudian, mereka juga menarget  kelompok muda revolusioner dengan menyatakan bahwa stabilitas tidak dapat dicapai selama aksi demonstrasi terus berlangsung. Oleh karena itu, mereka menerapkan UU anti demonstrasi 4 tahun lalu. 

  5orm Tweet
  Foto Sisi bersama para pemuda revolusioner pada 2012

Pemberangusan Media

Pekan berdarah dimulai dengan catatan menjanjikan. Pemandu acara Ahmed Mousa mendampingi Sisi dalam perjalanannya ke Siprus dimana dia mengatakan bahwa “Rakyat Mesir akan mendengarkan berita bagus dalam beberapa hari kedepan.”

Rabu, jaksa menangkap 29 warga Mesir atas tuduhan melakukan mata-mata untuk Turki. 

Tidak lama kemudian, media bersuara sama. 

Berita utama mereka mengangkat apa yang disebut sebagai konspirasi Ikhwanul Muslimin internasional melawan Mesir. Mereka mengklaim bahwa Turki telah membayar orang-orang itu untuk mendapatkan informasi intelejen agar Mursi dan Ikhwanul Muslimin berkuasa kembali

Mousa dan teman-temannya mengklaim bahwa mereka yang ditangkap, namun belum diungkap nama-namanya adalah melakukan operasi mata-mata dengan mengiklankan dan mengoperasikan server panggilan internasional yang murah. 

Ini menimbulkan pertanyaan bagaimana jurnalis independen memperoleh informasi tentang ancaman terhadap keamanan nasional?

Jurnalis, termasuk Mousa an Amr Adeeb mengambil kesempatan untuk membangun opini bahwa  tindakan kriminal warganya adalah akibat kejahatan Ikhwanul Muslimin dan Turki menjadi sebab kekacauan ekonomi Mesir sekarang ini. 

Bantuan Luar Negeri

Pekan ini, Al Sisi menerima bantuan 10 juta dollar dari Kuwait. Inggris juga menjanjikan bantuan 2,65 juta dollar untuk membiayai start-ups.

Duta besar Inggris untuk Mesir, John Casson -selebriti sosial media diantara rakyat Mesir- mengklaim bahwa turisme Inggris ke Mesir meningkat 74 persen pada 2017. Pernyataan yang ditanggapi sebagai gurauan seorang duta besar terhadap negeri yang sedang menghadapi kemerosotan di sektor industri. Kenyataannya adalah Inggris termasuk diantara negara-negara yang melarang maskapainya terbang ke Sharm el Sheikh.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *