Perang Salib: Pembebasan Yerusalem (3)

Reaksi awal dunia Islam atas pendudukan pasukan Salib sangat menyedihkan. Khalifah yang tidak efektif di Baghdad tidak mampu mengajak kaum Muslimin membela tanah suci. Para amir Seljuk sibuk berperang satu sama lain. Dinasti Fatimiyyah di Mesir sering bersekutu denganp asukan Salib untuk mengalahkan kaum Sunni Seljuk. Kaum Muslimin hampir tidak mampu menghadapi invasi pasukan Salib. Meskipun lambat, kaum Muslimin mulai bersatu menentang pendudukan.

Amir pertama yang melawan pasukan Salib dan berhasil adalah Imaduddin Zanki. Dia adalah amir Aleppo (Suriah) dan Mosul (Irak). Meskipun dia juga terlibat permusuhan dengan para amir lainnya, namun dia adalah pemimpin Muslim pertama yang memiliki karakteristik dan kualitas yang dibutuhkan dunia Islam. Dia tidak memiliki banyak istana dan hidup bersahaja,seperti halnya para prajuritnya. Sejarahwan Muslim, Ibnu Atsir menyebutnya sebagai “anugerah Allah kepada kaum Muslimin”.

Dengan pasukan terlatih dan berdisiplin tinggi, Zanki mulai merebut kembali kota Edessa pada 1144. Ini adalah kota pertama  di Suriah yang digunakan sebagai basis di awal invasi pasukan Salib dan selanjutnya dimanfaatkan pasukan Zanki sebagai pijakan membebaskan Tanah Suci. Zanki menyiapkan strategi untuk melakukan serangan besar-besaran atas musuh, namun beliau keburu hingga dibunuh seorang budak Frank pada 1145. Karena warisan persatuan Muslim yang digiatkannya, kekuasaan Nuruddin Zanki tidak pecah, dan kepemimpinan diteruskan anaknya Nuruddin Zanki. Nuruddin melanjutkan perjuangan ayahnya dengan menyerang kota Antioch, bekerjasama dengan Amir Damaskus sehingga menyatukan Aleppo dan Damascus.

Selama puluhan tahun, Zanki muda terus bertempur melawan pasukan pendudukan Salib, namun tidak banyak mencapai kemajuan. Baru pada saat kepemimpinan Salahuddin al Ayyubi, kemenangan berhasil dicapai.

Pada masa itu, Mesir dibawah kendali Dinasti Fatimiyyah. Sebelumnya, Fatimiyyah telah bekerjasama dengan pasukan Salib menundukkan wilayah-wilayah Muslim lainnya. Pada 1160-an, Dinasti Fatimiyyah melemah dan pasukan Salib m menyerang Mesir dan berupaya menundukkannya. Zanki mengirimkan pasukan untuk menolong Mesir. Dia menunjuk jenderal Kurdi Shirkuh untuk memimpin pasukan. Kurdi adalah kelompok etnik yang tersebar di  Turki, Suriah, Irak dan Iran. Shirkuh membawa serta saudaranya Shalahuddin.

Pasukan Zanki datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan Mesir. Namun Sirkuh menderita sakit dan menyerahkan kendali kepemimpinan kepada Salahuddin, yang sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan dinasti Fatimiyyah.

salah_ad-din_jusuf_ibn_ajubSebelum kita mengkaji intrik politik yang mengancam Salahuddin, mari kita lihat kualitas dan karakteristiknya sebagai seorang Muslim. Pada usia 36 tahun, Salahuddin menjadi orang terkuat dan pemimpin Mesir. Banyak sejarahwan baik dari Muslim maupun Nasrani memuji keluhuran akhlaknya. Dia tidak begitu peduli dengan kenikmatan dunia dan memfokuskan diri kepada perjuangan pembebasan wilayah Muslim.  Dikabarkan dia tidak pernah tertawa dalm banyak kesempatan. Ketika ditanyakan kepada dirinya, dia menjawab, “Bagaimana saya tertawa sedangkan Masjid al Aqsha masih dibawah kendali pasukan Salib?”  Konon, para penasehatnya harus menyembunyikan emas perbendaharaan untuk keperluan cadangan keuangan, karena kalau dirinya tahu pasti akan digunakan untuk pembiayaan penguatan pasukan. Orang-orang di sekelilingnya bersaksi bahwa dia sangat keras pada dirinya sendiri, namun pemurah pada orang lain, mewarisi akhlak Khalifah Rasyidin. Ini adalah karakter yang dibutuhkan untuk membebaskan wilayah-wilayah Muslim.

Segera setelah Shalahuddin mengambil alih kendali Mesir, kemudian muncul kabar terjadi konflik antara dirinya dengan Amir Nuruddin Zanki. Shalahuddin membantah dan menegaskan dirinya tetap loyal kepada Zanki dalam menundukkan pasukan Salib. Namun Zanki kemudian wafat pada 1174 dan menjadikan Shalahuddin sebagai satu-satunya pemimpin efektif di Suriah dan Mesir. Wilayahnya kini mengelilingi kekuasaan Salib di Palestina.

Shalahuddin terus menyatukan kekuatan kaum Muslimin untuk mempersiapkan serangan.. Dia masih menghadapi sisa-sisa kekuatan Dinasti Syiah Fatimiyyah, yang dinamakan Assasin. Mereka melakukan pembunuhan politik kepada para pemimpin Muslim dan Salib untuk mewujudkan tujuannya. Meskipun ada gangguan tersebut, Salahuddin tetap mampu menjaga persatuan kaum Muslimin untuk menghadapi kekuatan Salib.

Proses ini sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun, namun menjelang awal 1180-an, Shalahuddin telah siap membebaskan Tanah Suci Palestina dari pendudukan Salib. Kekuasaan Salib pada saat itu lemah, tidak bersatu dan tidak memiliki kepemimpinan kuat seperti halnya kondisi kaum Muslimin pada saat ketika mereka kehilangan tanah suci 80 tahun yang lalu. Pada 1182, Shalahuddin masuk ke wilayah pendudukan Kristen dan mulai bentrok dengan pasukan Frank.

Lawan brutal Shalahuddin adalah Reynald de Chatillon. Dia sering memperlakukan buruk kaum Muslimin di wilayah pendudukan dan menyerang rombongan Haji. Bahkan, dia berulang kali mengancam hendak menyerang Makkah dan Madinah. Shalahuddin berjanji tidak akan membiarkan tindakan dan ancaman Reynald serta berjanji akan menghukum sendiri musuhnya.

hittin-300x225Shalahuddin mendapat kesempatan itu dalam Perang Hittin.pada 1187. Pasukan Salib berkekuatan 20 ribu meninggalkan Yerusalem menuju ke medan Hittin. Mereka menghadapi 30 ribu pasukan Muslim. Pasukan Salib Eropa menyerbu Hittin dengan senjata perang lengkap di Hittin, namun minim persediaan air. Di awal perang saja, mereka telah kehilangan energi karena menempuh perjalanan panjang melewati gurun sehingga memudahkan pasukan Shalahuddin menundukkan mereka dengan cepat. Shalahuddin menunjukkan kedermawanannya dengan memberi amnesti kepada para panglima dan prajurit Salib yang menyerah, namun tidak untuk Reynald de Chattillon, yang kejam dan sama sekali tidak menghormati lawan-lawannya. Seperti yang dijanjikannya,, dia sendiri yang mengeksekusi Reynald.

Dengan lemahnya kekuatan pasukan Salib, Shalahuddin segera menuju Yerusalem, yang tidak begitu kuat penjagaannya. Pada 2 Oktober 1187, Shalahuddin membebaskan Kota Suci setelah 88 tahun 2 bulan dibawah pendudukan kekuasaan Salib.

Akhlak Shalahuddin tampak dalam perlakuannya atas para penganut Nasrani yang tinggal di kota suci itu. 80 tahun sebelumnya, pasukan Salib membantai semua penduduk kota hingga ‘genangan darah setinggi mata kaki”. Dalam pembebasan Muslim, Shalahuddin mengijinkan setiap orang dengan aman meninggalkan kota dengan barang-barang miliknya jika bersedia membayar sedikit tebusan.  Dan bagi orang-orang miskin yang tidak mampu membayar uang tebusan (sekitar 50 dollar), dia membebaskannya.

Pembebasan Yerusalem mendorong Eropa mengerahkan pasukan berikutnya. Pasukan Salib dibawah pimpinan Raja Inggris, Richard, yang berjuluk “ Berhati Singa” tiba di Tanah Suci pada 1189. Setelah beberapa kali pertempuran, pasukan Salib gagal dan Yerusalem tetap berada dibawah kendali pasukan Islam. Meskipun dalam pertempuran, Shalahuddin tetap menampakkan kedermawanan dan jiwa ksatria. Dalam salah satu pertempuran, dia melihat kuda Richard mati, maka dia mengirim kuda pengganti untuk Richard dengan alasan tidak boleh ada jenderal yang memimpin pasukan tidak dari atas kudanya. Kedermawanan dan kemuliaan Shalahuddin menjadi legenda Eropa. Musuh-musuhnya pun menghormatinya.

Kepemimpinan dan dedikasi Shalahuddin telah mempersatukan dunia Islam. Bahkan setelah wafatnya, negara yang didirikannya Dinasti Ayyub (kemudian Mamluk) tetap meneruskan jejaknya dalam menghadapi invasi pasukan Salib  ratusan tahun setelahnya. Tanah Suci Palestina dan Yerusalem tetap berada di genggaman kaum Muslimin hingga 1917, ketika pasukan Inggris mendudukinya dalam Perang Dunia Pertama. Meskipun Shalahuddin telah tiada dan kini dunia Islam menghadapi problema yang sama, kita tidak boleh lupa kisah kepahlawanan dan persatuan Muslim yang ditegakkannya.

Capture

Sumber; The Islamic Lost History

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *