Perjalanan Spiritual yang Ubah Malcom X

1964

Menjelang musim panas 1964, ditengah panasnya perjuangan Hak Sipil Amerika, Malcom X menunaikan haji yang selanjutnya akan mengubah pandangan politik dan keagamaannya. Dan yang paling penting diantaranya menggoncang pandangan rasialnya. Paradigma baru tersebut mengubah status dirinya di mata banyak pengamat dan membimbingnya ke jalan lurus sejarah.

Diasingkan dari Gerakan Kulit Hitam Nation of Islam (NOI)

Malcom tidak lama kemudian keluar dari gerakan kulit hitam Nation of Islam (NOI) setelah melakukan introspeksi mendalam. NOI adalah gerakan yang menyelamatkan dirinya ketika meringkuk di penjara karena sejumlah aksi perampokan. Gerakan ini memberikan arah eksistensial bagi dirinya, selain dukungan finansial. Tanpa NOI mungkin dia akan selamanya dalam kemiskinan.  Pendiri NOI, Elijah Muhammad telah menjadi sosok ayah baginya karena dirinya telah kehilangan ayahnya pada usia 6 tahun. 

Di masa-masa sulit tersebut akhirnya Malcom memutuskan meninggalkan NOI yang telah membesarkan dirinya. Meski demikian, Malcom tetap menghormati pemimpinnya dan beberapa gagasannya di masa instrospeksinya tadi. Malcom juga mengkritik gagasan NOI tentang kulit putih yang dianggapnya setan dan dukungannya atas pemisahan total dengan mereka. Pada saat itu, dia belum sepenuhnya memisahkan diri dari pandangan rasisme Elijah. Di masa transisi tersebut, dia kemudian memutuskan menunaikan ibadah haji ke Mekkah. 

Perjalanan Haji

kaba mataf

Haji terbukti menjadi awal Malcom kembali ke ajaran Islam dan menjauhkan diri dari rasisme. Melihat kembali kehidupan Malcom, mudah untuk melihat mengapa ideologi rasis NOI menjadi rumah yang nyaman bagi dirinya. Selain membunuh ayahnya, supremasi kulit putih telah membakar rumahnya dan memaksa keluarganya pindah ke kota lain. Dia adalah anak pintar, namun ketika dia mengutarakan keinginan untuk menjadi seorang pengacara, gurunya lantas menasehati bahwa cita-citanya tersebut bukanlah pekerjaan yang pas untuk seorang negro. Sejak kecil hingga menjelang tahun 60-an, Malcom adalah salah satu dari jutaan warga Amerika kulit hitam yang tertindas dan tumbuh dalam kehidupan rasisme sistemik negara. Dia dianggap sebagai warga kelas tiga. 

Pada saat berhaji, Malcom tiba-tiba mendapatkan pengalaman indah tentang kerumunan manusia multi etnik, ras dan gender berkumpul. Peristiwa ini kemudian mengubah cara pandangnya dan membentuk Malcom baru. Peristiwa ini menyentakkan kesadarannya bahwa pelbagai ras dan etnik pada dasarnya dapat hidup dalam harmoni. 

Dalam catatan hariannya, dia menulis: “Islam membawa bersatu semua warna kulit dan kelas. Setiap orang berbagi dengan apa yang dia miliki, mereka yang punya berbagi dengan mereka yang tidak punya.”

Salah satu penulis biografi Malcom, mendiang Manning Marble menulis bahwa Malcom terentuh dengan pergerakan massa dengan pakaian Ihram di jalanan menuju Gunung Arafat, penuh sesak dibawah terik matahari, beberapa orang mengendarai unta, sementara yang lainnya naik di atas bus bersatu, berjalan beriringan dengan satu tujuan baik secara fisik maupun metafor. Demi melihat beragam bangsa berpakaian sama, Malcom menulis: “Inilah indahnya persatuan. Tampak setiap bangsa dan budaya di permukaan bumi diwakili disini.”

Pengalaman ini lebih luar biasa merasuk ketimbang sekedar menyaksikan harmoni rasial sebagai orang luar. Malcom bergesakan bahu dengan semua bangsa ketika memutari Ka’bah. Dia juga berbagi makanan dalam piring yang sama dengan pelbagai orang baik kulit putih maupun hitam dan menyaksikan persaudaran yang tidak tergantikan oleh perbedaan rasial yang dibuat manusia. Dia memaknai perjalanan dan berdampak kepada kehidupan secara cepat.

Kartu pos segera dikirimkan segera rangkaian ibadah haji telah berakhir, menunjukkan pergerakan cara pandangnya tentang kulit putih dari sebelumnya. Berkirim surat kepada beberapa saudara Muslim kulit putih, dia mengatakan bahwa mereka “adalah saudara lebih dari yang lainnya.” Jelas pernyataan ini menjadi perpisahan dengan pandangannya di masa lalu bahwa kulit putih adalah setan putih. 

Surat Malcom dari Mekkah

malcolm1

Gary Zimet, Moments in Time

Surat terbuka Malcom dari Mekkah selanjutnya menjelaskan perubahan paradigmanya selama berhaji.

“Mereka dari semua warna kulit, dari bermata biru dan berambut pirang hingga orang Afrika yang berkulit hitam. Namun kami semua ikut serta dalam ibadah yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan, dimana pengalaman saya di Amerika telah memaksa saya mempercayai bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi antara kulit putih dan selainnya.”

Kaca mata pandang yang bertenaga selama Haji menjadi katalis bagi Malcom untuk melepaskan diri dari masa lalunya. Dan ini terjadi ketika dia secara fisik dan psikologis keluar dari AS yang menjadi ajang konflik rasial. Keluar dari pertempuran semacam itu dan masuk kedalam peristiwa spiritual di Mekkah yang menjadi titik penting perubahan dirinya. 

“Anda mungkin terkejut oleh kata-kataku. Namun dalam ziarah ini, apa yang saya lihat, alami telah memaksa saya untuk menyusun ulang banyak cara pandang saya sebelumnya dan membuang beberapa kesimpulan saya sebelumnya…. selama 11 hari…saya makan dari piring, gelas dan tidur di tempat yang sama, sembari berdoa kepada Tuhan yang sama, dengan Muslim kulit putih, yang  matanya paling biru dari biru, rambutnya paling pirang dari yang pirang, yang warna kulitnya terputih dari yang putih…kami semuanya sama.”

Kekuatan akhlak menjadi pengalaman terbaik Malcom selama di Mekkah. Dari proses kognitif ini, Malcom merasa harus ada halangan yang disingkirkan dengan kekuatan tindakan. Membaca pesan persamaan dan kesatuan kemanusiaan dalam Al Qur’an dan Sunnah tidaklah cukup, namun menjalankannya dan berpartisipasi dalam tindakan terbukti akan menjadi perubahan yang efektif. Sejak meninggalkan NOI, Malcom mengecam rasisme. Kekuatan Haji terbukti menjadi transformasi penuh dirinya dalam  dalam Tauhid dan kesatuan umat manusia. 

Malcom melakukan apa yang banyak para penziarah setelah menyelesaikan haji. Dia berkunjung ke Madinah untuk menziarahi makam Rasulullah SAW pada 25 April 1964. Dia menulis “Setiap orang melupakan dirinya dan kembali kedalam ketundukan total kepada  Allah dalam suasana penuh persudaraan.”

Tentang Islam, dia menulis,

“Islam mengajarkan Tauhid memberikan orang beriman kewajiban tulus kepada orang lain. Orang beriman yang sejati mengakui kesatuan kemanusiaan.”

Moment universalis ini mengantarkan Malcom kepada sikap dan tindakan untuk mengalahkan pandangan rasialis dan kebencian dirinya terhadap kulit putih walaupun pada dasarnya dia menjadi korban tindakan mereka. 

Malcom yang Dewasa

Malcom menunaikan haji sebagai seorang yang telah diusir dari komunitasnya, komunitas yang telah membesarkannya. Namun ketimbang sebagai kesedihan, dia bersyukur karena keluar dari komunitas kecil dengan 100 ribu anggota kepada komunitas dengan pengikut 1 milyar. Dia keluart dari komunitas Elijah Muhammad untuk kemudian disambut oleh W.E.B. Du Bois, Maya Angelou (keduanya ditemuinya selama perjalanan di Afrika) dan Pangeran Faisal. Dia terusir dari pandangan beracun NOI kembali ke jalan lurus Islam serta kemudian menjadi pembela sejati Islam dan harmoni sosial. 

Kita harus bersyukur karena perjalanan Haji Malcom. Jika dia tidak mengevaluasi kembali pandangan rasisme yang dikembangkan NOI, mungkin dia tidak akan pernah menjadi ikon perjuangan kemanusiaan. Eksistensi dia dalam kesadaran kolektif umat manusia karena evolusi ketulusan yang jarang terjadi. Dia meninggalkan dogmatisme masa lalu yang salah untuk menemukan realitas baru sebagai seorang pria yang berpegang kepada kebenaran. Dalam kata-katanya: “Meskipun keyakinan yang kuat, saya selalu menjadi seorang pria yang mencoba menghadapi fakta dan menerima realitas kehidupan sebagai pengalaman dan pengetahuan baru.”

Berhaji menjadi salah satu katalis penting pergerakan Malcom dari kegelapan menuju cahaya, kebencian dan rasismenya dapat dipahami, namun kesimpulan yang ditarik dari pengalamannya ternyata tidak selalu segaris. 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *