Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/post-template.php on line 275

Perjuangan Rakyat Palestina: Selamat Tinggal Pemimpin Arab yang Korup

*David Hearst

Setiap tahun anda selalu membuat optimisme palsu. Hal-hal yang anda inginkan justru semakin menjadikan rakyat Palestina bertambah buruk. Setiap tahun, optimisme anda terbukti salah. 

Krisis yang tengah terjadi di sekitar Masjid Al Aqsa telah menimbulkan banyak preseden. Ini adalah pertama kalinya, masjid ditutup untuk shalat Jumat sejak 1969; ini adalah pertama kalinya selama berabad-abad, masjid diboikot oleh jamaahnya; ini pertama kalinya bahwa warga Palestina Israel dan penduduk Yerusalem menjadi pusat konflik. 

Bamun satu preseden muncul setelah preseden yang lainnya; ini pertama kalinya dalam perjuangan selama 50 tahun melawan penjajahan, rakyat Palestina benar-benar dalam keadaan sendiri. 

Rakyat Palestina Ditinggalkan

Tidak pernah terjadi di Teluk terjadi jurang lebar perbedaan antara rakyat Arab di jalanan dengan pemerintah dalam pekan ini atas isu Palestina. 

Zakaria al Jawadah, ayah pemuda Yordania berumur 17 tahun yang dibunuh oleh pasukan keamanan Israel setelah dia dituduh hendak menyerangnya dengan obeng meneriaki Raja Abdullah. “Kami menyerukan kabilah-kabilah untuk menuntut orang yang membunuh anak saya dihukum. Kami ingin rekaman video. Kami ingin tahu apa yang terjadi.”

3 menteri kabinet berdiri dan memberitahunya bahwa mereka tidak mau melakukannya. “Penembak Israel mempunyai kekebalan diplomatik dan kami tidak diijinkan untuk menyelidikanya menurut kesepakatan internasional. Namun kami menuntut untuk mendengarkan pernyataannya,” salah menteri, Bashir al Khasawna mengatakan.

Namun semuanya terlambat. Penjaga keamanan Israel bernama “Ziv” telah kembali ke Israel.

Kembali 20 tahun, kita lihat bagaimana cara Hussein, ayah raja Abdullah berhadapan dengan Netanyahu pada 1997 setelah Mossad mencoba membunuh pemimpin Hamas, Khaled Meshaal di Amman, dengan menyemprotkan racun ke telinganya. 

Raja Yordania pada waktu itu mengancam untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel jika Meshaal, yang dalam keadaan koma tersebut meninggal. Dia akhirnya mendapatkan penawar racun dari kepala Mossad, Danny Atom, pembebasan Ahmed Yassin, pemimpin spiritual Hamas dan banyak lagi para tahanan Palestina kemudian. 

Cukup bayangkan skandal apa yang terjadi di belahan dunia lainnya jika polisi dicegah mewawancari, apalagi menyelidikinya pembunuhan ganda karena dia adalah penjaga kedutaan asing. 

Namun ini benar-benar terjadi di Yordania, karena raja kemudian harus mengikuti tuannya, Jared Kushner, menantu Donald Trump yang kebetulan menjadi utusan AS untuk Timur Tengah menelpon raja Abdullah. Satu generasi telah berganti dan yang terjadi sebaliknya: Jika dulu, Raja Hussein menelpon Bil Clinton. 

Negara, yang menyandang penjaga tempat suci (Al Aqsa) menyerah terhadap Israel dalam isu kamera pengawas di Haram Al Sharif setahun lalu. Ini adalah aturan yang diterapkan negara Zionis di sekitar gerbang Al Aqsa dan Kota Tua dengan sepengetahun penuh dan persetujuan “penjaga” Al Aqsa.

Ini Tentang Kedaulatan

Rakyat Palestina tidak dulu dan sekarang menganggap krisis Al Aqsa adalah tentang kedaulatan, bukan keamanan. Banyak kedaulatan rakyat Palestina telah digadaikan dalam permasalahan Yerusalem Timur (ada setidaknya 2000 pemukim ilegal Yahudi di kawasan Muslim di kota tua ini dan sebaliknya, lebih dari 14.500 warga Palestina telah dicabut ijin tinggalnya dari 1967 hingga 2014); dan ingat apa yang ditawarkan juru runding Palestina, Saeb Erekat kepada Menlu Tzipi Livni “Yerushakayim” dalam sejarah), maka Al Aqsa kini benar-benar ditinggal sendiri. 

Bagi Mahmoud Abbas dan Otoritas Palestina, penolakan para ulama dalam badan Waqaf untuk masuk ke Masjid Haram al Sharif atau apa yang disebut Yahudi “Temple Mount” adalah makanan dari surga. Ini adalah epitoma aksi protes damai dan lebih jauh apa yang terjadi di Tepi Barat, tidak merugikan Ramallah sama sekali. 

Peristiwa itu menjadikan Abbas hanya menonton tanpa ada kepemimpinannya yanag nyata. “Kami mendukung dan bangga dengan anda serta apapun yang anda lakukan. Anda peduli dan menjaga masjid Al Aqsa, menjaga tanah, kehormatan, agama dan tempat suci anda. Ini adalah reaksi tepat kepada siapapun yang hendak melukai tempat suci. Yerusalam adalah ibukota kita dan kedaulatan kita, dan apa yang anda lakukan adalah hal yang benar. Anda berdiri sebagai seorang pria dan kami mendukung anda dan mendukung apapun yang anda lakukan.”

Namun, dalam kenyataannya tidak ada yang dilakukannya. Tidak pula Arab Saudi. Tujuan strategis mereka adalah berdagang dengan Israel atas apa yang mungkin terjadi. Pengakuan negara Yahudi tidak akan datang dengan cepat. Satu-satunya pemimpin regional yang membuat pernyataan konsisten dalam mendukung akses masuk yang tidak boleh diganggu adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dan ini menjadi preseden kelima, tidak ada reaksi dari negara Arab. Mereka bungkam. 

Namun itu semua jauh dari gambar seluruh cerita.

Aktivis Hamas dan Fatah Bersama

Di jalanan, krisis telah menyatukan rakyat Palestina tidak terkait dengan klan maupun faksi. Perjuangan Al Aqsa telah melakukan sesuatu yang lebih maju daripada bertahun-tahun negosiasi bagi rekonsiliasi Fatah dan Hamas yang selalu gagal. Para aktivis Hamas dan Fatah berjuang bersama-sama di jalanan, termasuk keterlibatan faksi-gaksi lainnya. 

Salah satu pemimpin pergerakan, Dr Mustafa Barghouti, seorang pejuang anti kekerasan, perlawanan sipil mengatakan, “Kami adalah di tengah pergeseran yang besar. Apa yang terjadi sekarang bukanlah hal yang kebetulan atau sementara. Ini dapat menjadi awal intifadha ketiga yang berbeda dari sebelumnya. Apa yang unik adalah ini tidak lagi aksi individual, namun gerakan rakyat yang menarik perhatian banyak rakyat. Ini adalah momentum rakyat untuk mengisi kembali energi rakyat Palestina. Ini memang membutuhkan waktu, namun kita sedang menuju jalan itu. Ini akan mengatasi otoritas Palestina. Karena mereka sebenarnya tidak ada. Ini akan mengubah kepemimpinan di Palestina.”

Apakah ini optimisme berlebihan?

Anda dapat melihat refleksi tersebut di luar negeri. Gerakan BDS (Boikot Israel) kini semakin berkembang. Dianggap oleh Israel sebagai ancaman eksistensial ini telah menjadi gerakan global yang membentang dari Norwegia hingga Chili dengan jutaan simpatisan. Gerakan ini tidak terafiliasi dan melampaui perbedaan agama, suku dan gender serta bersandar kepada kesamaan hak. Mereka berteriak: “Dari Palestina hingga Meksiko. Semua dinding harus runtuh.”

Perjuangan rakyat Palestina menjadi perjuangan arus utama, seperti halnya politisi seperti Bernie Sanders dan Jeremy Corbyn yang dulu tidak dikenal kini menjadi tokoh berpengaruh. Tes uji coba itu telah berlangsung di London. Lebih 10 ribu orang menghadiri acara 2 hari, Palestine Expo, meskipun pelbagai kelompok Yahudi berupaya menggagalkannya. 

Diluar dan didalam Palestina, sebuah generasi baru berjuang keras merebut kendali dari kepemimpinan tua yang korup yang telah kehilangan otoritas politik  dari rakyatnya. Untuk generasi ini, perdamaian sebenarnya tidak pernah ada. Ini hanyalah omong kosong untuk menutupi kejahatan dan perluasan wilayah Israel di setiap penjuru Tepi Barat. Mereka ini tidak mudah dibeli, dikooptasi atau dinetralkan seperti generasi tua sebelumnya. Mereka berupaya mencapai apa yang generasi sebelumnya tidak bisa.

Dengan melihat reaksi para pemimpin negara-negara Arab, Palestina memang sendirian, namun perjuangan mereka kini semakin menginternasional. Para pemimpin Arab itu seharusnya sadar. Intifadha kedua memberi jalan lahirnya Arab Spring. Apa yang akan terjadi jika yang ketiga ini bermula dari pintu Masjid Al Aqsa?

– David Hearst, kepala editoMiddle East Eye. 

Facebook Comments

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *