Perlawanan Umat Islam India Melawan Penjajahan Inggris

Setelah beberapa abad India berada di bawah kendali Perusahaan India Timur milik Inggris, Muslim di anak benua India melakukan perlawanan terhadap Inggris, yang sering disebut sebagai Pemberontakan India pada 1857. Jika perlawanan berhasil, tentu ini akan menjadi inspirasi bagi rakyat jajahan di manapun juga melawan kolonialisme Eropa.

Namun Allah berkehendak lain, perlawanan tersebut gagal dan menjadi perlawanan paling berdarah dan sangat mahal.

Karena muak berada dibawah penindasan kekuasaan Inggris, rakyat di pelbagai penjuru India bangkit melawan kolonialis Inggris. Pemberontakan bermula ketika Sepoy, prajurit yang dipekerjakan oleh Perusahaan Inggris di India memberontak setelah berlangsungnya diskriminasi dan relasi keagamaan yang membahayakan, diantaranya tindakan yang dianggap bertentangan dengan keyakinan agama baik Sepoy Hindu maupun Muslim. Misalnya, peraturan yang mengharuskan sepoy Muslimย mengggunakan lemak babi untuk membersihkan senjata, meskipun diprotes oleh mereka.

Aksi perlawanan mereka mendapatkan momentum ketika ketidaksukan penindasan Inggris menyebar di kalangan rakyat, termasuk diantara para Nawab, para penguasa lokal yang disetujui oleh Inggris. Mereka biasanya tunduk kepada Inggris dengan balasan pemberian kekuasaan lokal dan perlindungan.

Pemimpin spiritual pemberontakan adalah sultan Mughal terakhir, Syah Alam yang digulingkan menyusul pemberontakan mereka. Sultan terakhir ini kemudian dideportasi ke Birma dan wafat beberapa tahun kemudian.

Salah satu elemen terpenting dalam perlawanan ini adalah para ulama. Mereka sukses menggerakan puluhan ribu orang dan menyebar baik di kota-kota besar maupun di daerah pedesaan. Jumlah penduduk India besar dan Muslim membentuk populasi yang besar karena peran ulama.

Peran ulama cukup kuat meskipun mengalami penurunan selama era para Nawab. Umat mendapatkan pendidikan dalam tradisi dan mazhab Hanafi. Dalam masa itu, para ulama berkumpul dalam gerakan yang bernama Jamiatul Ulama yang terdiri atas ratusan ribu ulama dan santri. Para ulama ini secara aktif mengajak rakyat, khususnya kaum Muslim melalui khutbah di masjid-masjid untuk melawan kolonialisme yang tidak dapat diterima.

Yang menarik, meskipun memiliki perbedaan budaya dan keyakinan, Muslim dan Hindu berjuang bersama. Dalam kasus masyarakat Hindu, mereka mengakui kepemimpinan Shah Alam sebagai pemimpin perlawanan. Otoritas Mughal pada 1857 hanya terbatas Delhi dan sekitarnya, dimana Shah Alam mengordinasi dan mengarahkan mereka.

Sementara pemeluk Hindu memberontak bersama Muslim di banyak tempat dan sebagaian melakukan perlawanan terpisah, namun sebagai besar perlawanan ini dianggap sebagai pemberontakan Muslim. Kaum Muslimin dipandang memiliki motivasi terbesar dalam memberontak, sebagiannya untuk mengembalikan kekuasaannya yang hilang dan memulihkan kehormatan. Sebelumnya, mereka mengusai separuh wilayah utara sebelum direbut Inggris.

 

Pemberontakan terjadi dalam bentuk pelbagai perang kecil di pelbagai tempat di India antara para pemberontak dan pasukan Inggris dan juga para nawab yang sebagiannya masih setia kepada Inggris. Mereka menggunakan para pegawai loyal yang telah disuap dan mendapatkan jaminan keamanan, Mereka dimanfaatkan baik oleh Inggris maupun para nawab agar tetap loyal terhadap Inggris.

Di tempat-tempat tertentu, perlawanan terbatas dengan protes dan demonstrasi. Di bagian lain, perang terjadi selama beberapa bulan, namun pada akhirnya berhasil dikalahkan. Satu demi satu,ย  pusat pemberontakan berhasil dikalahkan Inggris dan para agennya.

Apa yang kemudian terjadi adalah qatl aam, pembunuhan tanpa pandang bulu yang terjadi dimana-mana. Pertumpahan darah, pembantaian dan balas dendam yang dilakukan Inggris dalam skala besar-besaran. Darah mereka mengalir di sungai-sungai. Inggris memberikan tugas pembantaian kepada para nawab dan selanjutnya mereka mengeksekusi para ulama dan rakyat. Tindakan balas dendam Inggris tergolong brutal. Rakyat dibunuh secara massal, diantaranya dengan digantung di tempat umum sebagai pesan kepada para pemberontak agar tidak melawan penjajah.

Kelompok yang paling menderita dalam pemberontakan ini adalah para ulama dan santri. Mereka ditangkap dan menjadi model pembunuhan sebagai contoh bagi yang lainnya. Mereka yang dibantai mencapai puluhan ribu karena dianggap sebagai sumber dan inspirasi perlawanan sehingga dianggap bertanggung jawab.

Pembantaian banyak terjadi antara Delhi dan kota Moradabab jalan sepanjang 180 km. Dikisahkan tidak ada pohon disepanjang jalan itu yang tidak tergeletak mayat kaum Muslimin atau anggota Jamiatul Ulama yang digantung.

route-map-sat-tal

Perlawananpun berakhir. Revolusi gagal. Rakyat India mengalami pembantaian besar, namun lebih dari itu kehilangan ribuan ulamanya. Mereka kehilangan api perlawanan dan semangat rakyat untuk berubah. Selama satu dan dua generasi, kaum Muslimin kehilangan semangat untuk melawan, namun ketika kembali tidak lagi dalam semangat yang sama seperti yang dilakukan para ulama sebelumnya.

Pemberontakan 1857 yang gagal mungkin menjadi bencana terbesar dalam sejarah Muslim India. Kita masih merasakan dampaknya sekarang.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *