Desember 2016, Moskow mengungkapkan kepada media kontaknya dengan Taliban, kelompok perlawanan yang berupaya menggulingkan pemerintah Afghanistan. Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan kerjasama intelejen dengan Taliban untuk melawan para militan ISIS di Afghanistan.

Moskow berulang kali menyatakan kekhawatirannya atas militan ISIS, meskipun dalam banyak hal terlampau berlebihan dalam menaksir kehadiran dan kekuatan riilnya di Afghanistan.

Sementara itu, pemerintah Afghanistan menyatakan bahwa Rusia telah mengirimkan senjata kepada kelompok Taliban, meskipun dibantah Rusia.

Perhatian terbaru Rusia atas Afghanistan membuka kembali lembar baru apa yang dapat disebut sebagai “permainan baru” pelbagai negara besar di jantung asia, diluar AS, China, India, Pakistan dan lainnya.

Serangan diplomatik Rusia dengan memberi dukungan tempur kepada Taliban semakin membuka peran baru Rusia di Afghanistan.

Ide Ekspansionisme Rusia

Keterlibatan Rusia di Afghanistan dapat dibaca sebagai bagian ide ekspansionisme Vladimir Putin untuk memperbaharui posisi Rusia sebagai pemain penting geopolitik.

Sejak memerintah pada 1999, Putin telah mengejar apa yang disebut sebagai kebijakan intervensionis melalui perang propaganda, serangan siber dan konflik bersenjata.

Perang Chechen kedua pada 1999, konflik di Georgia pada 2008, pencaplokan Crimea pada 2014, serangan militer di Suriah pada 2015 dan operasi siber di AS dalam pemilu presiden 2016 menjadi contoh-contoh yang penting.

Presiden Putin telah sukses mengeksploitasi pelbagai perang tersebut untuk memperkuat posisi Rusia dalam transaksi politik internasional, disamping mengonsolidasikan posisi di dalam negerinya. Pertanyaannya: Apa yang diinginkan Rusia di Afghanistan?

Rusia tampaknya memiliki banyak kepentingan di Afghanistan. Dengan bersekutu dengan Taliban, Rusia akan mendapatkan kemampuannya untuk memperkuat posisi tawar dalam berinteraksi dengan Washington. Seiring dengan instabilitas yang meningkat Afghanistan, maka hal itu tidak pelak akan menjadi ancaman langsung terhadap keberlangsungan pemerintah Afghanistan dukungan AS serta membahayakan misi AS dan NATO di negara itu.

Dalam kalkulasi Rusia, upaya untuk mengganggu AS/NATO dalam situasi yang serba tidak menentu tersebut, akan menjadi saat yang tepat untuk mendapatkan konsensi dari AS dalam bentuk melunaknya tekanan atas Crimea,  sanksi AS dan beberapa lainnya.

Menciptakan Legitimasi

Mungkin juga Rusia mencoba mendapatkan keuntungan tambahan berkaitan dengan masa depan Afghanistan sehingga dapat terlibat langsung dalam diplomasi global dan regional tentang masa depan perdamaian dan keamanan di Afghanistan. Motivasi kuncinya dalam konteks ini adalah terlemparnya Rusia dalam pembicaraan penting tentang Afghanistan di masa lalu.

 

Ambisi Rusia semakin menguat seiring semakin  merosotnya peran pemerintah Kabul dan melemahnya kejelasan sekutunya Barat dalam menghadapi ancaman Taliban dan kelompok teroris lainnya.

Dengan memberikan dukungan kepada Taliban, Rusia mungkin berpeluang menggantikan peran politik dan militer di Afghanistan, seiring semakin melemahnya tekad negara-negara Barat untuk menangani masa depan pemerintah di negara itu yang tengah menghadapi kejatuhan.

Dengan mengangkat isu ancaman ISIL, Rusia tidak hanya mencoba membangun legitimasi dengan berkolusi dengan Taliban, namun juga menancapkan kehadiran militer dan pengaruh politiknya di Asia Tengah.

Ketika negara-negara Asia Tengah jatuh dibawah pengaruh ekonomi China, Rusia melihat dirinya kehilangan peran hegemoniknya.

Kehadiran militer Rusia yang meningkat di Asia Tengah akan memperkuat peran keamanan negara itu di Asia Tengah dan memperluas ketergantungan keamanan negara-negara Asia Tengah atas Rusia.

Ada juga motif ekonominya dibalik permainan baru Rusia ini. Republik di Asia Tengah memiliki cadangan gas dan minyak yang kaya. Para pemimpin republik Asia Tengah mencari pasar baru, khususnya di kawasan Asia Selatan yang tengah kekurangan.

Jika negara-negara Asia Tengah mencoba mendiversifikasi pasar untuk gas alam, maka ini akan mengurangi genggaman Rusia atas pasar energi di kawasan tersebut.

Jika Afghanistan menjadi rute terpenting bagi gas alam Asia Tengah mencapai Asia Selatan, maka koalisi Rusia dengan Taliban akan memungkinkan Rusia untuk menggagalkan gas alam Asia Tengah ke Asia Selatan, dengan demikian memaksa negara-negara Asia Tengah untuk tetap tergantung dengan Rusia dan China sebagai pembeli utama gas alam di Asia Tengah.

Meski demikian, tidak diragukan jika Rusia memiliki kekhawatiran yang wajar tentang berkembangnya ekstrimisme di kawasan ini. Banyaknya para pejuang ISIS yang berdatangan dari negara-negara Asia Tengah yang dianggap Rusia sebagai halaman belakang keamanan.