Pertarungan Tajam Macron dan Le Pen dalam Pilpres Perancis

Pemilu presiden Perancis masuk kedalam titik didih karena pertarungan dua kandidat yang berbeda tajam visinya.

Kandidat partai sayap kanan, Marine Le Pen mengkampanyekan “nasionalisme” dan pendekatan “Perancis Pertama”.

“Negara yang diinginkan Macron adalah tidak ada lagi Perancis, kecuali wilayah sampah, ruang berdagang dimana yang ada adalah konsumen dan produsen,” ujar Le Pen kepada ribuan pendukungnya di Nice.

Sementara Macron, kandidat dari Partai Buruh mengirim pesan yang berbeda: “Saya disini akan menjadi suara harapan bagi negara kita dan bagi Eropa,” ucapnya setelah pemungutan suara putaran pertama 23 April lalu.

Baik Le Pen dan Macron telah menyingkirikan kekuatan politik tradisional sebagai masuk ke dalam putaran berikutnya 7 Mei mendatang.

Mantan bankir berusia 39 tahun yang belum pernah bertanding sebelumnya baru  masuk partai politik  12 bulan yang lalu dan dan kini menjadi kandidat presiden Perancis termuda.

Meskipun tidak banyak memiliki pengalaman politik, jajak pendapat sekarang ini menempatkan dirinya 20 persen poin  diatas Le Pen.

Presiden Perancis Hollande mendorong karir politik Macron, mengangkatnya sebagai penasehat ekonominya dan kemudian menerjunkannya sebagai menteri ekonomi dalam pemerintahan sosialisnya.

Melihat pergeseran partai-partai yang mapan, Macron mundur dari kabinet Agustus lalu dan berkonsentrasi membangun gerakan politiknya sendiri yang disebut “En Marche” (Bergerak).

Sejak itu, dia mampu menarik dukungan 250 ribu anggota dan membantah para pengritiknya bahwa daya tariknya tidak akan melebihi dari kalangan profesional, muda dan kelompok urban.

Baik dalam politik maupun kehidupan pribadinya, Macron telah memecah tradisi.

Penggemar teater dan puisi yang berasal dari keluarga kelas menengah di Amiens, Selatan Perancis ini jatuh cinta kepada guru sekolah menengahnya, Brigitte Trogneux.

Perempuan yang terpaut seperempat abad ini, meninggalkan suaminya dan menikah Macron pada 2007.

Rasa percaya diri yang hampir tak tergoyahkan ini menjadikan Macron mengejar Brigitte dan meninggalkan jejak dalam karirnya.

Dengan menang dalam putaran pertama menjadikan Macron semakin percaya diri.

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *