Pesan Terakhir Kematian dari Aleppo

Dalam 24 jam terakhir, beberapa video dirilis oleh para penduduk Aleppo berbarengan dengan pemboman yang dilakukan oleh rejim Bashar al Assad atas 100 ribu penduduk sipil yang terjebak dalam medan perang dan tidak dapat pergi kemanapun.

PBB kini mengonfirmasi bahwa rejim Assad dan milisi Syiah dari Lebanon, Irak dan wilayah sekitarnya telah melakukan kejahatan kemanusiaan atas wilayah-wilayah yang dikuasainya di Aleppo. Mereka yang dibantai termasuk anak-anak dan perempuan yang diseret keluar dari rumah-rumah mereka.

Berbicara tengah malam kemarin, dokter gigi Salem Abu Al Nasr kelihatan emosional dan kelelahan, namun tetap tetap menjelaskan bagaimana situasi di Aleppo benar-benar berbahaya dan bagaimana “kehancuran manusia benar-benar nyata” atas kota terpadat dan terbesar di Suriah, bahkan menyaingi Damaskus.

Menggambarkan bagaimana senjata yang digunakan untuk membunuh penduduk sipil di Aleppo, dokter gigi menyatakan bahwa senjata berkekuatan dahsyat digunakan di wilayah “yang tidak lebih lebar dari 2 km dengan penduduk sekitar 80 ribu jiwa, dimana mayoritasnya warga sipil, kebanyakannya anak-anak, perempuan dan orang tua.”

Meminta rejim Assad supaya menghentikan pemboman atas warga sipil , Abu al Nasr mengatakan “setelah itu, kita dapat berbicara apa yang harus dilakukan. Keluarnya mereka yang bersenjata, keluarnya warga sipil…wilayah itu sekarang  menjadi medan genosida.”

“Kami ingin tetap hidup, dan kami mencintai kehidupan. Saya berdoa kita dapat bertemu lagi,” tutur Abu al Nasr yang tampaknya menjadi harapannya terakhir agar  didengar.

Warga kota Aleppo yang ketakutan, Lina Shamy memohon kepada dunia,“Kepada siapapun yang dapat mendengar kami. Kami disini menghadapi genosida di kota kami yang dikepung. Ini mungkin menjadi video terakhir saya.”

“Lebih dari 50 ribu penduduk sipil yang melawan diktator Al Assad terancam eksekusi atau mati karena pemboman,” beber Lina, sembari menjelaskan bahwa lebih dari 180 orang telah ditembak pasukan Assad dan milisi yang mendukungnya.”

Hampir sama seperti Abu Al Nasr, Lina mengatakan bahwa kotanya adalah wilayah yang tidak lebih dari 2 km dan tidak memiliki akses keluar. “Setiap pemboman akan menjadi ladang pembantaian,” ujarnya penuh ketakutan.

“Selamatkan Aleppo, Selematkan Kemanusiaan.”

Sama seperti Lina, dua orang pemuda yang terkepung di Aleppo juga melakukan hal yang sama, dengan penuh ketakutan meminta dunia menyelamatkan nyawa mereka.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, Allah melarangnya, kita akan melihat saudara-saudara kita diperkosa rejim Assad dan para milisi Syiah masuk ke kota Aleppo”, ujar salah satunya.

“Bayangkan bahwa ada saudara perempuan ada di Aleppo yang ditahan rejim dan diperkosanya.”

Pemandangan yang mengerikan tersebut tampaknya segera akan terjadi, seperti dikatakan oleh Bilal Abdul Kareem, jurnalis Amerika dari On The Ground News (OGN), yang mendapatkan pengakuan internasional sebagai jurnalis Barat terakhir yang masih tinggal.

Ditengah dentuman bom dan suara tembakan, Kareem menggambarkan kemungkinan yang akan terjadi. Dia sendiri ragu  masih dapat bertahan hidup. “Jika kita tidak mati di Aleppo, OGN akan terus dan terus mengabarkan kepada anda berita dari lapangan dan yang dapat anda percaya.”

Kareem, yang benar-benar menunjukkan ketegarannya, mengritik keras Arab dan dunia Islam.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga tidak luput dari kecaman Kareem. “Teman-teman, anda kali ini tidak menunjukkan orang yang punya keberanian. Erdogan, yang fasih membaca Al Qur’an, kali ini anda benar-benar tidak bertindak apa-apa.”

“Sebenarnya anda punya kesempatan menjadi pahlawan dan membantu orang-orang lemah ini dengan pasukan anda yang hanya berjarak 25 km. Namun anda tidak melakukannya.”

Tidak hanya mengritik Erdogan, Kareem juga mengecam yang lainnya. “Dan semuanya tidak melakukan apa-apa. Qataris diam, Saudi diam dan semuanya diam.”

Mungkin tidak semua orang yang mendukung revolusi Suriah setuju dengan pandangan Bilal Abdul Kareem, namun sang jurnalis yang pemberani sedang berkata jujur karena menyaksikannya sendiri di lapangan.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *