Plot Gila Pendiri Zionis untuk Tundukkan Sultan Abdulhamid II

Konflik Israel-Palestina telah diawali sejak gerakan Zionis yang didirikan Theodore Herzl merencanakan mendirikan negara nasional bagi para Yahudi di Palestina. Ide tersebut mendapatkan penentangan sengit Sultan Abdulhamid II yang mengendalikan wilayah Palestina pada saat itu.

Theodore Herzl pada awalnya berambisi mendirikan negara Yahudi berdasarkan ideologi Zionis di Argentina atau di Palestina yang dianggapnya sebagai “tanah yang dijanjikan Tuhan”. Herzl adalah seorang pelobi yang berpengalaman yang memiliki jaringan yang luas dengan para pengambil kebijakan di seluruh negara Eropa.  Dalam banyak hal latar belakang ini sangat membantunya dalam mewujudkan cita-citanya.

Keinginan pertamanya pada waktu itu adalah menghimpun para pengikutnya yang kaya untuk mengumpulkan dana untuk melunasi semua hutang kekhilafahan Usmani sehingga mereka mendapatkan ijin untuk membeli tanah di wilayah yang dijanjikan tersebut.

Herzl adalah sosok yang dihormati dikalangan para elit Yahudi pada waktu itu. Dia menulis surat kepada Baron Maurice de Hirsch, seorang Yahudi Jerman, penyandang dana memintanya untuk memberikan bantuan keunagan dalam merealisasikan rencana jangka panjangnya. Tanggapan Hirsch positif, dia bersedia membiayai perkumpulan kolonialisasi Yahudi yang didirikan pada 1891, yang dimaksudkan Herzl sebagai kegiatan untuk mengordinasikan imigrasi Yahudi ke tanah Palestina.

Herzl mengambil satu langkah lebih jauh yang menjadi ambisinya. Dia bertemu dengan Hirsch dan menegaskan bahwa rencananya adalah mendirikan negara Yahudi di tanah yang dijanjikan. Dalam pertemuan tersebut, Hirsch mendengarkan gagasan ambisius Herzl dan berkesimpulan bahwa ide tersebut luar biasa dan hampir sulit diwujudkan.

Namun bukan Herzl, jika mudah menyerah. Dia segera memperkenalkan rencana B yang berisi tawar menawar yang ketat antara dirinya dengan Sultan Usmani. Pada saat itu, dia memberi tawaran kepada Abdulhamid II untuk membayar semua hutang khalifah Usmani dengan konsensi tanah di Palestina. Dia membutuhkan seseorang yang terpercaya sebagai fasilitator untuk menghubungi Sultan. Dipilihlah Michael Newlenski, anggota staff kedutaan Austria-Hungaria di Istanbul sebagai tangan kanannya.  Atas undangan Herzl, Newlenski berangkat ke Wina untuk mendiskusikan bagaimana cara meyakinkan Sultan yang dikenal sebagai orang yang teliti dalam bernegosiasi. Mereka menawarkan dua hal yang dianggap sebagai daya tariknya:

Pertama, menawari membayar semua hutang kerajaan Usmani dan kedua, membantu menangani isu Armenia.

Bagi Herzl tidak ada waktu untuk kalah, dia menekan Newlenski untuk mengatur pertemuannya dengan Sultan. Karena kedekatan hubungan antara Newlenski dengan Abdulhamid II, Herzl akhirnya menemui Sultan. Seperti telah disepakati sebelumnya, Newlenski menawari Sultan untuk membayar semua hutang Usmani dan membantu meringankan tekanan dunia internasional atas Usmani berkaitan dengan penduduk Armenia. Jawaban Sultan atas tawaran tersebut sangat tegas:

“Nasehati Herzl untuk tidak mengambil langkah lebih jauh dalam proyek ini. Saya tidak dapat menyerahkan tanah ini karena bukan milik saya. Tanah itu milik negara Islam yang berperang atas nama tanah ini dan mengalirkan darah mereka. Orang-orang Yahudi silahkan miliki uang mereka. Jika khilafah Islam suatu hari jatuh maka mereka dapat mengambil alihnya tanpa harus membayarnya. Disaay saya hidup, saya lebih memilih menarik pedangnya ketimbang melihat tanah Palestina diambil alih dari negara Islam. Ini tidak akan pernah terjadi. Saya tidak mulai memotong tubuh saya ketika masih hidup.” (Catatan harian Theodore Herzl, hal 378-379).

Atas jawaban ini, Theodore Herzl tidak ragu kemudian untuk bermain kotor dengan dibantu salah satu diplomat Usmani. Herzl menjelaskan pertemuan tersebut dalam catatan hariannya;

“Kemarin saya bertemu dengan seorang tamu: Ali Nuri Bey, mantan konsul jenderal Turki, antara 9.30-12.30. Proposalnya sederhana, mengerahkan dua kapal perang di Bosporus, bom Yildiz, biarkan Sultan melarikan diri atau ditangkap, tempat Sultan lain (Murad atau Reshad). namun sebelum itu bentuk pemerintahan peralihan yang memberi kita Palestina.”

“Dua kapal perang akan berharga 400 ribu pound, sisanya dibutuhkan 100 ribu pounds. Serangan membutuhkan setengah juta pound. Jika kita gagal kita akan kehilangan uang dan prajurit kita. Dia tampak tenang ketika dia mempresentasikan rencananya kepada saya, seperti menawari semangkuk gandum. Ali Nuri mengatakan bahwa dia akan ikut dalam perjalanan tersebut dan turut berlabuh. Serangan tersebut akan dilakukan oleh seribu pasukan dan mulai selama Selamlik. Kapal akan melewati Dardanella pada malam hari dan memborbardir Yildiz di pagi harinya.” (Catatan Harian Theodore Herzl Volume 4, halaman 1615)

Tampaknya plot gila terlalu sulit untuk dijalankan Herzl. Sebaliknya dia lebih menyukai melakukan aktivitasnya secara rahasia untuk beberapa lama, hingga kemudian siap membangun jaringan perlawanan yang cukup kuat, dengan mengandalkan mobilisasi kekuatan dari Gerakan Turki Muda untuk melawan Abdulhamid. Penggulingan Abdulhamid pada 1908 sebagai akibta kudeta militer adalah peristiwa yang menentukan bagi Turki dan Timur Tengah selanjutnya, serta mengubah nasib imperium Usmani sendiri dan Palestina.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *