Presiden Erdogan: Militer Turki Telah Dibersihkan dari Gulenis

Presiden Recep Tayyip Erdoğan mengatakan bahwa militer Turki telah dibersihkan dari para perwira pemberontak yang loyal kepada FETO (Organisasi teror Gulenis) yang terlibat dalam percobaan kudeta tahun lalu. Berbicara di depan wisuda akademi militer, Erdogan yang juga menjabat sebagai panglima angkatan bersenjata menjelaskan bahwa akademi telah direstrukturisasi pasca kudeta 15 Juli dan sistem lama juga diperbaharui. 

“Kami melihat bahwa mereka yang mencoba memaksakan kekuasaan atas negeri kita mulai menjalankan agenda melalui akademi militer. Sangat penting sekali bahwa hampir semua perwira tinggi yang lulus dari sekolah ini dalam 10 tahun terakhir telah bertindak bersama dengan para pelaku kudeta,” papar Erdogan, seraya menambahkan bahwa militer adalah salah satu nilai bersama bagi bangsa Turki, sama seperti pendiri bangsa, Mustafa Kemal Atatürk. Erdoğan menekankan bahwa militer Turki bukan militernya pelaku kudeta, namun milik bangsa Turki. Dia lebih jauh mengatakan bahwa tidak boleh ada intervensi dalam militer dan setiap serangan terhadap militer adalah serangan terhadapnya. 

“Akademi militer Turki, baik para staff akademik dan mahasiswanya digerakkan untuk satu tujuan, yakni menjadikan sebagai perwira militer yang paling cakap untuk militer Turki,” tandas Erdogan, seraaya menambahkan bahwa mereka yang mencoba melakukan misi lainnya akan dilarang.

Infiiltrasi FETÖ ke dalam militer telah didiskusikan sejak 1990-an. Lebih dari 2000 kadet dikeluarkan dari akademi militer selama 10 tahun terakhir. Kondisi pelatihan yang tidak manusiawi dalam kamp orientasi dan sebagai akibatnya terjadi masalah kesehatan, masalah pribadi dengan komandannya atau hukuman berdasarkan bukti palsu, seperti dalam kasus Ergenekon dan Balyoz, adalah alasan serius bagi pembenahan. Setelah 15 Juli, pemerintah telah mengeluarkan serangkaian kebijakan baru untuk membersihkan dan mencegah adanya intervensi lebih lanjut dari kelompok FETÖ di akademi militer. 

Sebagai bagian dari restrukturisasi, sekolah tinggi militer telah ditutup sejak terungkap bahwa FETÖ sering mencuri soal-soal ujian masuk akademi militer. Disamping itu, akademi militer sekarang dibawah pengawasan Kementerian Pendidikan Nasional. 

“Kami  terus memerangi para pengkhianat. Kami tidak akan membiarkan siapapun melihat ini sebagai kesempatan memanfaatkan para prajurit kami,” ujar Erdogan, yang menunjukkan bahwa dalam saat-saat ini profesionalisme mereka dibutuhkan dalam operasi anti terorisme baik di dalam dan di luar Turki, khususnya di Suriah dan Irak. 

FETÖ, yang dipimpin oleh Fetullah Gülen merancang kudeta gagal yang menewaskan 249 orang pada 15 Juli 2016. Melalui para anggotanya di militer, mulai dari prajurit hingga perwira tinggi dan jenderal, kelompok ini hendak mengambil alih kekuasaan dan membunuh Presiden Recep Tayyip Erdoğan, menurut para jaksa. Perlawanan masyarakat atas kudeta dipuji sebagai penyebab gagalnya rencana tersebut. FETÖ diinvestigasi dan diadili dalam dua kali rencana kudeta untuk menjatuhkan pemerintah pada 2013. Puluhan ribu orang ditahan dan ditangkap karena terkait dengan kelompok teroris dibawah UU keadaan darurat yang diumumkan setelah kudeta. 

“Jujur saja, sekarang dalam konteks personil dan pengalaman, Turki menjadi salah satu militer paling kuat di dunia,” ujar Erdogan.

“Selama krisis Suriah, kita dapat melihat sekali lagi kapan ketika kita dalam masalah, tidak ada orang lain kecuali saudara-saudara kita sendiri yang membantu kita. Sayangnya, kita menyadari fakta bahwa sekutu dan negara-negara sahabat kita tidak membantu kita dalam hal kekuatan militer,” kritik Erdogan meskipun menegaskan bahwa Turki harus mengatasinya sendiri. 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *