Proposal Palestina Ala Trump untuk Kepentingan Israel Raya

Tahun 2017 menandai deklarasi Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan menjanjikan pemindahan kedutaannya ke kota tersebut. Keputusan tersebut sama terkutuknya dengan Deklarasi Balfour 100 tahun lalu yang disebut hari terkutuk dalam sejarah Arab dan duni Islam dimana pada 2 Novmber 1917, James Balfour mengirimkan surat kepada Lord Lionel Walter Rothschild, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, pemimpin gerakan Zionis internasional yang mengekspresikan dukungannya atas pendirian tanah air bagi Yahudi di Palestina. 

Ini adalah janji yang dibuat oleh mereka yang tidak mempunyai hak membuat janji kepada mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Populasi Yahudi di Palestina pada saat itu tidak lebih dari 50 ribu, sementara populasi mereka tidak dunia berkisar 12 juta. Mereka hanya merepresentasikan 5 persen dari total 650 ribu rakyat Palestina yang tinggal di tanah itu selama ratusan tahun lamanya. Namun, janji ini mengabaikan eksistensi mereka dan hanya memberikan hak politik, ekonomi dan pemerintahan kepada sekelompok kecil mereka. 

Sementara Deklarasi Balfour mengakui hak rakyat Yahudi untuk mendirikan tanah air di Palestina, langkah berbahaya dan lebih penting adalah Konferensi Perdamaian Versailles yang diselenggarakan pada 1919, yang berujung kepada kesepakatan Pangeran Faisal, yang mewakili Kerajaan Hijza dengan Dr Chaim Weizmann, yang mewakili organisasi Zionis. Kesepakatan ini memasukkan klausul yang mengabaikan hak rakyat Palestina dan memperkuat kehadiran Yahudi di Palestina, seperti bunyi pasal berikut ini: “Semua tindakan yang dibutuhkan harus dilakukan dalam rangka memperkuat dan mendorong imigrasi Yahudi ke Palestina secara besar-besaran dan sesegera mungkin para imigran Yahudi ke  tanah tersebut lewat permukiman dan perkebunan intensif. Dalam melakukan langkah itu, para petani dan pemilik lahan Arab harus dilindungi haknya dan dibantu dalam memajukan pembangunan ekonomi mereka.”

Kebijakan yang diambil membuka pintu Palestina bagi Yahudi di seluruh dunia dan mereka menerima dan menyaksikan para imigran Yahudi dari seluruh dunia berbondong-bondong masuk ke Palestina. Lebih dari 70 kebangsaan membentuk wadah bersatu Yahudi di Palestina dan menjadi langkah pertama pembentukan negara Yahudi. 

Deklarasi Balfour adalah dokumen resmi yang dirujuk gerakan Zionis internasional dalam rangka mendukung tuntutan bagi pembentukan negara Yahudi di Palestina dan sekaligus merealisasikan mimpi Yahudi. Dan mimpi tersebut menjadi nyata seiring berdirinya Israel pada 15 Mei 1948. Negara ini mendapatkan keanggotaan PBB melalui tekanan negara-negara adidaya sehingga dapat disebut sebagai negara pertama dalam sejarah sistem politik internasional yang didirikan atas tanah curian dan setelah penduduk aslinya diusir dari kampung halamannya. Negara ini juga menerima dukungan dari negara besar di dunia, AS yang membiarkan Israel bertindak arogan di kawasan, melancarkan perang, memperluas dan merampas lebih banyak tanah Palestina dan Arab. Negara ini juga menyiksa rakyat Palestina yang masih tinggal di Palestina tanpa ampun dan belas kasihan.

Saya tidak akan terlalu jauh masuk ke sejarah atau masuk ke alasan mengapa Inggris mendukung pendirian Israel demkian pula alasan dibalik tidak terbatasnya dukungan Barat atas negara tersebut. Apapun alasan kemanusiaan dan keagamaan yang diberikan sebagai justifikasi tindakan tersebut adalah hal yang salah dan menyesatkan, yang bertujuan  mencuci tangan proyek imperialis Barat yang dinamakan Israel. Inilah adalah negara yang ditanam di kawasan itu dalam rangka melayani kepentingan kolonial Barat, dan pada waktu itu, Israel disebut sebagai anjing penjaganya. 

Sesaat sebelum peringatan Deklarasi Balfour, anjing penjaga kawasan itu membom salah satu terowongan para pejuang di Gaza yang menyebabkan syahidnya 12 mujahidin. Ini seperti upaya provokasi dan ingin melihat apa reaksinya, sebagai bentuk tes yang sulit ditengah atmosfer peringatan yang menyedihkan. 

Pemboman ini memprovokasi luka dan memantik kemarahan dalam jiwa rakyat Palestina. Provokasi justru semakin mendorong mimpi pembebasan yang tidak pernah ditinggalkan Hamas sejak gerakan itu didirikan. Namun, mereka kini dibatasi oleh kesepakatan terkutuk, sama terkutuknya dengan Deklarasi Balfour, yakni kesepakatan rekonsiliasi, dimana Hamas menyerahkan otoritas politiknya di Gaza dan menyerahkan kendali perbatasannya kepada presiden otoritas Palestina yang masa jabatannya berakhir beberapa tahun lalu.  Dia, seperti halnya sahabatnya Netanyahu memilih berada dibawah atmosfer Deklarasi Balfour dalam mengendalikan Gaza, dengan perayaan yang memalukan dimana dia memasang fotonya berjejer dengan foto Al Sisi, seolah menggambarkan dirinya sebagai pemenang yang mendapatkan kembali kendali perlintasan dari kekuatan pendudukan, bukannya mengambil alih dari saudaranya Palestina karena baru saja menandatangani kesepakatan rekonsiliasi yang berdasarkan prinsip kerjasama. Ini tidak pelak menimbulkan kegoncangan dalam tubuh Hamas. Sebagian pemimpinnya terpaksa bungkam atas kejadian tersebut. 

Gambar ini menunjukkan hal yang sebenarnya dibalik rekonsiliasi, yang sebenarnya dikendalikan oleh badan intelejen Israel dalam rangka menjalankan kepentingan negara Zionis tersebut, bukan kepentingan persatuan Palestina seperti yang mereka klaim. Setelah menyingkirkan Hamas dari sisi politik, mereka ingin mempreteli gerakan ini dari segala sumber kekuatannya. Tujuan utama dari rekonsiliasi ini adalah dalam rangka melucuti Hamas dan menempatkannya berada di bawah otoritas Palestina. Abu Mazen (abbas) sendiri berulang kali menyatakan bahwa dirinya beraliansi dengan keinginan Israel seperti yang diinginkan Netanyahu, memudahkan jalan mengintegrasikan gerakan ini dalam otoritas Palestina sebagai jalan yang dipaksakan pemerintah AS dan beberapa negara Arab. Jalan penyelesaian ini termasuk normalisasi dengan Israel sebaga bagian dari kesepakatan abad ini, yang dimulai dengan deklarasi Yerusalem sebagai ibukota Israel. 

Ini adalah dilema sesungguhnya bahwa Hamas telah menempatkan dirinya dalam kesepakatan rekonsiliasi yang mencurigakan dan penuh jebakan. Saya kira Hamas bukannya tidak melihat, namun saya yakin bahwa yahya Sinwar, kepala Hamas di Gaza, yang membuat konsesi dengan Fatah lebih dari yang dituntut sebagai upayanya mencari jalan keluar. Opsi pertama adalah Hamas tetap menjadi gerakan perlawanan dan berdiri menantang trend Oslo dengan segala kemampuannya, memperbaiki kesalahan strategis yang dibuatnya dan ini bukan hal mudah karena faktanya sekarang dibawah kendali intelejen Mesir dan Al Sisi sangat membenci Hamas. Mereka tentu tidak akan membiarkan Hamas mengulang skenario 2007. Opsi kedua adalah Hamas menjadi catatan  sejarah perlawanan Palestina, yang dimulai pada 1920 dan kemudian mendirikan gerakan perlawanan baru, membawa obor perlawanan untuk membebaskan Palestina. 

Sementara Deklarasi Balfour 1917 memberikan tanah air bagi Yahudi di Palestina, maka deklarasi Trump pada 2017 memberikan Israel seluruh wilayah Arab dan mencapai apa yang diimpikannya, Israel Raya dari Sungai Nil hingga Eufrat dengan alat kesepakatan abad ini.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *