Puisi Kejatuhan Seville, Andalusia oleh Abu Al Baqa al Rundi

Kota Seville Andalusia jatuh ke tangan pasukan Kristen Catille pada 1248, setelah 500 tahun menjadi kota Muslim. Abu al-Baqa’ al-Rundi adalah penyair Andalusia pada waktu itu dari kota Ronda, di Iberia Selatan yang menulis duka cita atas kejatuhan kota yang pernah jaya pada 1267. Dia memiliki perhatian atas sejarah Arab dan Persia dalam puisinya, seraya berharap dapat membangkitkan kaum Muslimin untuk melawan dan merebut kembali kota tersebut. Berikut ini terjemahan puisinya:

Segala sesuatunya jatuh setelah mencapai kesempurnaanya, oleh karena itu, jangan biarkan orang tertipu oleh manisnya kehidupan yang menyenangkan.

Saat anda memperhatikan, ada banyak peristiwa yang tidak terduga: dia yang pada suatu ketika membuat bahagia, namun di waktu lain, banyak yang menderita;

Dan ini adalah rumah yang tidak akan menampakkan belas kasihan pada siapapun, atau menjadikan keadaan tetap seperti semula,

Nasib tidak terhindarkan merusak setiap selimut surat ketika pedang-pedang dan tombak Mashrifi bergelegak tanpa dampak;

Setiap pedang yang keluar dari sarungnya hanya untuk menghancurkannya, bahkan sekalipun itu Ibn Dhi Yazan dan belati Ghundam.

Dimanakah para raja Yaman dan dimanakah mahkota mereka yang bertahta intan?

Dimanakah bangunan Shaddad yang menjulang di Iram dan dimanakah imperium Sassaniyah yang berkuasa di Persia?

dimanakah emas Qarun yang dulu dimilikinya, dimanakah Ad, Shaddad dan Qahtan?

Sebuah dekrit yang dikeluarkan mengatasi segalanya sehingga mereka semua tewas dan orang-orang yang dulu pernah ada seperti tidak pernah ada.

Kerajaan dan para rajanya berdatangan seperti sebuah pemimpin yang tengah menceritakan mimpinya. 

Takdir telah melawan Darius demikian pula pembantainya, dan seperti Kisra yang tidak lagi memiliki tempat berlindung. 

Ini seperti tidak ada lagi perjuangan yang dilakukan dan seperti Sulaiman tidak pernah memerintah dunia.

Kesusahan telah terbawa oleh takdir dari banyak hal, sementara sang waktu telah membawa kebahagiaan dan kesedihan.

Atas kecelakaan ini, tidak ada ketenangan yang sanggup diemban, tidak ada ketenangan didapat setelah kejatuhan Islam. 

Peristiwa yang tak tertanggungkan telah terjadi di semenajung, seperti Uhud telah jatuh karenanya dan Thahlan telah runtuh!

Iblis telah menghancurkan semenanjung dengan Islam didalamnya, tanah demi tanah berjatuhan hingga seluruh kawasan dan tempat sirna dari agama. 

Oleh karena itu, tanyalah Valencia, apa itu negara Murcia, dan dimana Jativa dan dimana Jaen?

Dimana Cordoba, rumah ilmu pengetahuan, dan banyak cerdik pandai yang pernah berjaya didalamnya?

Dimana Seville dan kesenangan yang ada, dimana sungai  manis yang mengalir deras?

Ada ibukota dengan tiang-tiang menjulangnya, namun tiang-tiang itu telah hilang, tidak lagi ada!

Pancuran air wudhu kini berubah jadi aliran air mata keputusasaan, seperti pecinta menangis sedih karena kehilangan kekasihnya,

Rumah-rumah kami telah kosong dari Islam dan kini didiami oleh orang-orang kafir;

Masjid-masjid kini berubah menjadi gereja dimana lonceng dan salib bertebaran. 

Bahkan mihrabpun menangis kendati batu bata, dan bahkan mimbarpun berduka sekalipun mereka kayu!

Wahai anda yang masih tidak peduli meskipun anda menemui peringatan takdir: jika anda tertidur, maka takdir anda tetap terjaga!

Dan anda yang berjalan dengan suka cita sementara tanah kelahiran anda memalingkan anda dari peduli, dapatkan tanah kelahiran anda memperdaya anda setelah hilangnya Seville?

Ketidakberuntungan ini telah menyebabkan mereka lupa, ataukah mereka melupakannya disepanjang waktu!

Wahai anda yang menaiki tunggangan kuda yang indah seperti rajawali yang sedang terbang gagah;

Dan anda yang membawa pedang India yang tampak seperti api dalam kegelapan di tengah debu perang,

Dan wahai anda yang tinggal bermewah-mewah, anda yang punya kekuatan dan kekuasaan di tempat tinggal anda,

Tidakkah anda mendengar berita tentang rakyat Andalusia, dari para penunggang kuda yang mengabarkannya?

Berapa sering orang yang lemah, yang dibunuh dan ditawan sementara tak seorangpun meneriakkan permintaan bantuan kami,

Apa artinya ini, jika hal ini merusak ikatan Islam atas sepengetahuan anda, kapan anda wahai hamba Allah menjadi saudara kami?

Tidak adakan jiwa kepahlawanan dengan semangat membaja, tidak adakah para penolong dan pembela kebenaran?

Wahai, yang menangani penghinaan manusia yang dulu pernah kuat, dimanakah anda?

Kemarin mereka menjadi raja di istana-istana mereka, namun kini menjadi budak di tanah orang kafir!’

Kini mereka pucat pasi, tanpa seorangpun yang membelanya, memakai jubah kehinaan dalam pelbagai bayang yang berbeda,

Dan kini mereka menangis sedih ketika mereka dijual, dimana ketakutan dan kesedihan telah menyelimuti jiwa mereka. 

Celaka, banyak ibu dan anak yang terpisah sebagaimana jiwa dan tubuh mereka terpisah!

Dan banyak anak gadis yang bersinar seperti menteri, permata dan rubi,

Kini mereka terkoyak oleh orang barbar diluar kemauan mereka, air mata terkuras dan jiwa mereka terguncang.

Hati mereka meleleh karena kepedihan, adakah Islam tersisa dalam hatinya!

لِكُلِّ شَيءٍ إذا ما تمَّ نُقصَانُ * * * فلا يغرُّ بطِيب العَيشِ إنسانُ

هيَ الأمورُ كما شاهدتُها دُولٌ * * * من سره زمنٌ ساءتهُ أزمانُ
وَهَذِهِ الدَّارُ لا تبقِي على أحدٍ * * * ولا يدُومُ عَلَى حَالٍ لَهَا شانُ
أين المُلُوكُ ذوي التُيجانِ مِن يمنٍ * * * وأين منهم أكاليلٌ وتيجانُ
وأين ما شادهُ شدادُ في إرمٍ * * * وأين ما ساسهُ في الفُرسِ ساسانُ
وأين ما حازه قارون من نهبٍ * * * وأين عادٌ وشدادٌ وقحطانُ
أتى على الكل أمرٍ لا مرد لهُ * * * حتى قضوا فكأن القوم ما كانُوا
وصار ما كان من ملك و من ملكٍ * * * كما حكى عن خيال الطيف وسنانُ
كأنما الصعب لم يسهل له سببٌ * * * يوماً ولا ملك الدنيا سليمانُ
فجائع الدنيا أنواعٌ منوعةٌ * * * وللزمان مسراتٌ وأحزانُ
وللحوادث سلوانُ يسهلها * * * وما لما حل بالإسلام سلوانُ
هي الجزيرة أمرٌ لا عزاء لهُ * * * هوى له أحدٌ وانهد شهلانُ
أصابها العينُ في الإسلام فارتزأتُ * * * حتى خلت منه أقطارٌ وبلدانُ
فاسأل بلنسية ما شأن مرسية * * * وأين شاطبة أم أين جيانُ
وأين قرطبةُ دار العلوم فكم * * * من عالم قد سما فيها له شأنُ
وأين حمصُ وما تحويه من نزهٍ * * * ونهرها العذب فياض وملآنُ
قواعد كن أركان البلاد فما * * * عسى البقاء إذا لم تبق أركانُ
تبكي الحنفيةُ البيضاءُ من أسفٍ * * * كما بكى لفراقِ الإلف هيمانُ
على ديارِ من الإسلامِ خاليةٌ * * * قد أقفرت ولها بالكفر عمرانُ
حيث المساجدُ صارت كنائس * * * ما فيهنَّ إلا نواقيسٌ وصلبانُ
حتى المحاريب تبكي وهي جامدةٌ * * * حتى المنابرُ تبكي وهي عيدانُ
يا غافلاً وله في الدهرِ موعظةٌ * * * إن كنت في سنةٍ فالدهرُ يقظانُ
وماشياً مرحاً يلهيه موطنهُ * * * أبعد حِمصٍ تغرُّ المرءُ أوطانُ
تلك المُصيبةُ أنست ما تقدمها * * * ومالها من طوالِ الدهرِ نسيانُ
يا راكبين عتلق الخيل ضامرة * * * كأنها في مجال السبقِ عقبانُ
وحاملين سيوف الهند مرهفةً * * * كأنها في ظلام النقع نيرانُ
وَرَاتِعِين وراء البحر في دَعَةٍ * * * لَهُم بأوطانهم عزٌ وسلطانُ
أعندكم نبأٌ من أهلِ أندلُسٍ * * * فقد سرى بحديثِ القومِ ركبانُ
كم يستغيثُ بنا المُستضعفُونَ وهم * * * قتلى وأسرى فما يهتزَّ إنسانُ
لمثلِ هذا يبكي القلب من كمدٍ * * * إن كان في القلبِ إسلامٌ وإيمانُ

Source:

Constable, Olivia Remie. Medieval Iberia: Readings from Christian, Muslim, and Jewish Sources. Philadelphia: U of Pennsylvania, 1997.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *