Qatar-AS Kerjasama Berantas Terorisme

Qatar dan AS telah menandatangani perjanjian memerangi “pendanaan terorisme” selama kunjungan Menlu AS Rex Tillerson ke Doha.

Menlu Qatar Syeikh Muhammad bin Abdulrahman al Thani dan Tillerson mengumumkan kesepakatan tersebut dalam konferensi pers bersama di ibukota Qatar.

Tillerson di Doha dalam rangka mendorong dialog untuk menyelesaikan perselisihan antara Qatar dan negara-negara Teluk lainnya.

Syeikh Muhammad mengatakan penandatanganan tersebut “tidak ada kaitannya dengan krisis dan blokade terhadap Qatar”.

“Sekarang, Qatar adalah negara pertama yang menandatangani kesepakatan dengan AS dan kami menyerukan kepada negara-negara yang memblokade Qatar untuk melakukan hal yang sama seperti Qatar,” tandasnya.

Tillerson memuji Qatar karena menandatangani perjanjian kerjasama dan berkomitmen dalam “melacak dan menggagalkan pendanaan teror”.

“AS hanya punya satu tujuan: menyingkirkan terorisme dari muka bumi,” katanya.

“Bersama AS dan Qatar akan melacak sumber pendaan terorisme, bekerjasama dan berbagi informasi serta menjadikan kawasan ini dan negeri kami aman.”

Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA menuduh Doha mendanai apa yang mereka sebut terorisme.

4 negara tersebut memblokade Qatar baik laut, darat dan udara pada 5 Juni.

Tillerson melakukan kunjungan 4 hari di kawasan Teluk dalam rangka membantu menyelesaikan krisis.

Rabu, dia akan bertemu dengan Menlu Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir di Jeddah.

Waktu yang Pas

Dia menolak berkomentar di Doha tentang batas waktu bagi penyelesaian perselisihan seraya menyebutkan bahwa diskusi tengah berlangsung.

“Peran saya disini adalah mendukung upaya Amir Kuwait dan mediatornya untuk mendiskusikan dan membantu kedua belah pihak saling memahami satu sama lain serta mencari solusinya,” ujarnya.

Kuwait mencoba memediasi krisis tersebut.

Pengamat Al Jazeera Marwan Bishara menyatakan bahwa “tidak ada waktu yang tepat kecuali sekarang ini” untuk menandatangani kesepakatan.

“Ini terjadi dengan waktu yang tepat dan penting penandatangani perjanjian kesepahaman tersebut sekarang ini karena membantah skeptisme sebagai kalangan terhadap tuduhan bahwa Qatar mendanai teror,” ulasnya.

Sementara Shafee Gabra, pengajar Universitas Kuwait menyatakan persetujuan tersebut akan meredakan ketegangan di Teluk.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *