Rejim Militer Menghancurkan Ekonomi Mesir

Pada saat seruan investasi digemakan, sehingga menteri investasi Mesir harus menemui pebisnis Saudi pangeran Walid di kapal pesiarnya seraya berharap konglomerat tadi bersedia berinvestasi, pemerintah Mesir baru-baru ini justru memutuskan menutup 15 perusahaan besar disana. Beberapa perusahaan tersebut adalah perusahaan waralaba asing, seperti perusahaan amerika, Radio Shack, Mobile Shop, dan beberapa perusahaan lainya dibawah dalih perusahaan tersebut mendanai “organisasi teroris” Ikhwanul Muslimin. Tuduhan terssebut selalu digunakan rejim untuk menjalankan rencana dan proyek mereka sendiri dalam rangka menyingkirkan perlawanan dan kompetisi, sekalipun di sektor usaha. 

Baca juga: Kebobrokan Rejim Al Sisi Terbongkar Sendiri

Setelah militer melakukan kudeta dan menyingkirkan kehidupan politik, maka mereka segera memenuhi pelbagai jabatan sipil dengan para pensiunan jenderal sebagai konsultan dan penasehat para menteri. Merekalah yang sebenarnya berkuasa dalam kementerian-kementerian tersebut. Mereka juga memimpin beberapa kelembagaan dan komite, seperti komite jalan dan jembatan, yang bertugas membangun fasilitas jalan dan jembatan. Namun, tidak lama kemudian, sebulan, jembatan tersebut roboh. Demikian pula, jalan raya yang dipenuhi dengan insiden kecelakaan dan tabrakan. Kondisi jalur kereta api juga menyedihkan. Jalur kereta api di Mesir menjadi jalur kedua tertua di dunia, namun karena diduduki militer pada 1952, keadaanya menjadi sangat menyedihkan. 

Institusi militer melakukan penetrasi ekonomi dalam segala aspeknya, mulai kontrak bisnis, rumah sakit, perusahaan gas dan makanan. Militer bahkan lebih jauh memproduksi asinan, selai, biskuit dan produk minuman. Proyek-proyek militer berkembang luas, mengendalikan tidak kurang 60 persen ekonomi Mesir. Tidak pelak, kondisi ini berpengaruh kepada tidak sehatnya dunia usaha sehingga banyak pebisnis yang menutup pabriknya setelah mereka tidak bisa bersaing dengan para monster ekonomi di sekitar mereka. Beberapa dari mereka terpaksa bekerjasama dengan monster tersebut, dengan memperkerjakannya, namun mereka mengeluhkan susahnya meningkatnya pendapatan mereka di bisnis mereka. 

Setelah militer mengendalikan penuh kehidupan ekonomi, mereka juga mengendalikan media. Tidak cukup itu, mereka juga mengendalikan isi dan apa saja berita yang dikehendaki untuk disiarkan. Setelah badan intelejen mendirikan beberapa stasium berita dan menempatkan semua media berada dibawah kaki mereka. 

Dalam rangka mengendalikan semua aspek kehidupan di Mesir, penutupan beberapa perusahaan baru-baru ini adalah upaya unuk mengendalikan impor elektronik di negeri ini, sehingga menjadikan militer sebagai satu-satunya pihak yang mengendalikan bisnis ini. Jelas, kebijakan ini akan merusak investasi dalam dan luar negeri. Apakah para investor asing mengambil resiko dengan berinvestasi di Mesir ketika menyaksikan sendiri hal-hal semacam ini. Militer merebut kendali perusahaan-perusahaan, merampok uang mereka dan kemudian menasionalisasinya? Ini adalah rencana sistemik untuk menyingkirkan keunggulan ekonomi dan lebih dari itu, bahkan menghancurkannya selama-lamanya. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *