Rekaman Rahasia Mengungkap Pengaruh Israel Terhadap Politik Luar Negeri Inggris

*David Hearst

Seorang pejabat senior kedutaan Israel di London secara diam-diam direkam sedang membicarakan tentang bagaimana dia akan “menjatuhkan karir” wakil Menlu Inggris Alan Duncan, seorang penentang vokal kebijakan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.

Dia mengatakan Duncan, yang juga salah satu menteri senior dalam partai Konservatif berbicara tentang permukiman yang menyebabkan “banyak masalah”. Dia juga menyebut Menlu Boris Johnson sebagai seorang idiot.

Dalam pembicaraan terpisah dengan seorang staff kedutaan, Crispin Blunt, yang juga ketua komite urusan luar negeri persemakmuran digambarkan sebagai “target berikutnya karena pandangannya yang pro Arab ketimbang pro Israel”.

Pengungkapan tersebut tidak pelak mengundang reaksi politik dari pelbagai kalangan, diantaranya Desmon Swayne, mantan menteri dan pembantu PM David Cameron, yang menyerukan diadakannya penyelidikan menyeluruh.

Apa yang tidak boleh terjadi di Israel sedang dilakukan terhadap Inggris dengan kekebalan yang sama yang dimilikinya terhadap Palestina. Ini adalah bentuk pelanggaran jelas terhadap kebijakan politik negara lain dan menjadi hal aneh,” tandasnya.

Dalam pernyataannya, kedutaan Israel mengatakan bahwa duta besar Israel Mark Regev telah meminta maaf kepada Duncan dan menyebut tindakan tersebut tidak dapat diterima sama sekali.

Juru bicara kantor Menlu juga mengonfirmasi permintaan maaf Israel tersebut.

“Duta besar Israel telah meminta maaf dan jelas pernyatan tersebut tidak mencerminkan pandangan kedutaan maupun pemerintah Israel,” katanya. “Inggris memiliki hubungan kuat dengan Israel dan kami menganggap kasus ini selesai.”

Rekaman rahasis, yang mengungkap bagaimana pengaruh Israel meluas hingga ke level senior Partai Konservatif yang lagi berkuasa, juga termasuk rekaman dengan seorang asisten menteri Konservatif lainnya yang mengungkap bagaimana dia menggunakan posisinya untuk merancang pertanyaaan dukungan terhadap Israel.

Percakapan yang difilmkan oleh Al Jazeera ini terjadi di restauran di London tahun lalu dan menampilkan Shai Masot, pejabat politik kedutaan, dan Maria Strizzolo, mantan asisten Robert Halfon, menteri pendidikan yunior dan wakil ketua Partai Konservatif. Dia juga menyebutkan pernah bertemu beberapa kali dengan para bos Massot di Kementerian Urusan Strategis  di Israel.

Berbicara dengan reporter yang tengah menyamar ini, aktivis pro Israel ini membanggakan diri bagaimana dia telah menundukkan Halfon ketika menjadi anggota parlemen dari Harlow, Essex: “Dan lihat dia, dia sekarang menjadi menteri, sedang saya masih seperti ini.”

Operator yang Terinspirasi Machiavellian

Masot yang profil online dinonaktifkan setelah skandal menggambarkan Niccolo Machiavelli sebagai “tuhannya” dan meminta apa dia dapat melakukan hal yang sebaliknya: “Dapatkan saya memberimu beberapa anggota parlemen yang anda dapat jatuhkan?”

Strizzolo yang kini bekerja sebagai PNS di Departemen Departemen untuk Badan Pendanaan Ketrampilan Pendidikan menjawab:

“Well, anda tahu, jika anda lihat cukup keras saya yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan.”

Masot: “Yah saya punya beberapa anggota parlemen.”

Strizzolo: “Ayo kita bahas disini”

Masot kemudian memberitahu sang reporter: “Tidak, dia tahu anggota parlemen mana yang ingin saya jatuhkan.”

Strizzolo menjawab bagus untuk mengingatkannya, dan Masotpun kemudian menjawab: “Wakil Menlu.”

Ini menjadi hal yang tidak mengejutkan Strizzolo yang kemudian mengatakan: “Apakah anda ingin meneruskannya.”

Masot: “Tidak, dia membuat banyak masalah.”

Strizzolo kemudian mengingatkan perselisihan antara Duncan dengan Halfon, bosnya, yang dikatakannya akan hancurkan bosnya. Halfon kemudian menghubungi pengawas partainya yang meminta Duncan “untuk tenang”.

Percakapan tentang apa yang akan dilakukan terhadap Duncan kemudian berlanjut, dengan Masot mengatakan: “Benar tidak bicara lagi, tetapi…” dan kemudian Strizzolo menyahut: “Bagaimana dengan sedikit skandal kecil mungkin?”

Sebagau respon atas terungkapnya video tersebut, Crispin Blunt menyatakana bahwa Israel perlu menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Ketika aktivitas  perwakilan negara asing dalam politik kerajaan Inggris menimbulkan kemarahan dan pantas diinvestigasi, maka pertanyaan riil-nya adalah apa yang akan dilakukan pemerintah Israel sendiri,” ungkapnya.

“Masa depan perdamaian dan keamanan Israel tidaklah dapat dilakukan dengan mengabaikan fakta kelompok lobi baik di Israel maupun oleh komunitas Yahudi di seluruh dunia yang hendak merusak para politisi asing yang memiliki pandangan seperti itu.”

Duncan menjadi target Israel pada 2014 ketika dia menyerang kebijakan permukiman Israel di Tepi Barat, yang dia katakan sebagai perpaduan jahat pendudukan dan pelanggaran, yang sama dengan sistem apartheid yang hanya memalukan pemerintah Israel.

Pidato itu menjadi salah serangan paling tajam kepada pemerintah Benjamin Netanyahu oleh seorang politisi papan atas Inggris.

Duncan mengatakan: “Permukiman adalah koloni ilegal yang dibangun diatas milik orang di negara lain. Itu merupakan tindakan pencurian yang diprakarsai dan didukung oleh negara Israel.”

Diskusi tentang Duncan menjadi percakapan berjam-jam yang direkam selama beberapa bulan, yang menunjukkan bagaimana Masot mencoba memanipulasi debat politik atas Israel dan Palestina di kalangan Partai Konservatif maupun partai oposisi, Buruh.

 

 

 

 

Reporter Al Jazeera mendapatkan kepercayaan Masot sehingga dapat menyusup ke lingkaran mereka dengan efektif sehingga mendapatkan pekerjaan di kedutaan untuk membantu memerangi gerakan (boikot Israel) di Inggris.

Strategi yang digambarkan oleh anggota senior lobi Yahudi AS AIPAC sebagai upaya memutus Inggris dari sentimen pro Palestina di Eropa dan mendekatkan kembali negara itu kepada AS.

Bocoran rekaman percakapan di kedutaan juga mengungkapkan derajat penetrasi Israel atas Partai Konservatif melalui organisasi yang disebut “Partai Konservatif Sahabat Israel (CFI)” dimana Halfon dan Strizzolo bergabung.

Kuatnya dukungan Partai Konservatif kepada Israel dapat dilihat pekan lalu atas komentar juru bicara PM Theresa May yang tampaknya mengritik pidato Menlu AS John Kerry dimana dia mengatakan bahwa kebijakan pemerintah Israel didorong oleh “banyak elemen ekstrim“.

“Kami tidak percaya bahwa ini menjadi langkah yang tepat untuk menyerang sekutu kita pemerintah (Israel) demokratis,” ujar juru bicara tersebut.

Daily Mail menjadikan pernyataan kritis May ini sebagai berita utama, Poisonous conduct is a disgrace: Minister who served in David Cameron’s government says it is time to end the problem of Israel buying UK policy (Tindakan Berbahaya yang Memalukan: Menteri yang Bekerja dalam Kabinet Cameron mengatakan saatnya mengakhiri problem Israel yang ikut campur dalam Kebijakan Inggris), dimana seorang mantan menteri menulis: “Alasannya jelas: Partai Konservatif ingin uang donor dari pro Israel sehingga prinsip dalam kebijakan luar negeri dipertaruhkan.”

 

 

“Banyak negara mencoba memaksa pandangan mereka kepada lainnya, namun apa yang menjadi skandal di Inggris adalah bahwa bukannya melawan, namun pemerintah yang ada justru tunduk, mengambil uang mereka, dan memperbolehkan Israel ikut campur dalam menentukan kebijakan dan bahkan nasib para menteri kita. Kini bahkan, jika saya mengungkapkan siapa saya, maka saya akan menjadi subyek serangan dan pembunuhan karakter,” tulis mantan menteri tersebut.

Maka tampak jelas orang-orang di partai Buruh dan Konservatif telah bekerja dengan kedutaan Israel yang telah memanfaatkan mereka untuk mendemonisasi dan mencaci para anggota parlemen yang kritis terhadap Israel; menjadi pasukan idiot Israel di parlemen. Ini adalah tindakan politik yang korup dan tidak dapat diterima secara diplomatik,”tambahnya.

“Kita perlu melakukan penyelidikan penuh terhadap kedutaan Israel, keterkaitan, akses dan pendanaan mereka…dan juga juga sikap dari partai-partai politik bahwa mereka mempersilahkan dukungan politik dan keuangan dari komunitas Yahudi di Inggris, namun tidak dapat menerima kesepakatan yang terkait dengan kebijakan Israel sepanjang tidak menghentikan permukiman ilegal mereka di tanah Palestina.”

Rekaman tersebut juga mengungkapkan bagaimana kedutaan Israel telah membantu mendirikan -dalam beberapa kasus mendanainya secara langsung- sejumlah organisasi yang diklaim sebagai independen. Ini termasuk Uni Mahasiswa Yahudi dan kelompok bagi para diplomat cemerlang yang dinamai “Young Diplomatic London” dimana Masot sebagai komite eksekutif.

Strizzolo mengatakan bahwa banyak anggota parlemen Tory (Konservatif) yang menjadi anggota CFI termasuk Theresa May, Kanselir Exchequer Philip dan Boris Johnson.

Dia juga mengklaim dirinya berjasa atas munculnya pertanyaan yang disampaikan Halfon pada saat terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap 3 remaja Israel oleh Hamas di Tepi Barat pada Juni 2014.

Insiden ini menyebabkan ketegangan yang berujung kepada serangan Israel terhadap Gaza beberapa bulan kemudian yang menewaskan lebih dari 2000 warga Palestina.

 

Strizzolo yang berada di Israel dengan CFI pada saat itu mengatakan: “Dan saya sedang menelpin Rob (Halfon) untuk menyakinkan dia memasukkannya dalam daftar pertanyaan kepada perdana menteri.”

“Apa dia melakukannya?”, sergah reporter.

Strizzolo berujar: “Ya. dan juga menjadi pertanyaan penting untuk mendapatkan sikap pemerintah atas 3 anak tersebut.”

Halfon berbicara tentang insiden di parlemen pada 2 Juli 2014, ketika menanyakan pertanyaan tersebut dan PM David Cameron pada saat itu meresponnya, “Dunia telah menyaksikan pembunuhan tragis dan brutal atas 3 remaja Israel yang mungkin dilakukan oleh Hamas.”

“Apakah teman terhormat saya ini memberikan dukungan kepada pemerintah Israel setiap saat? apakah dia setuju bahwa -jauh dari sikap menahan diri, Israel harus melakukan apapun yang diinginkannya untuk membasmi jaringan teroris Hamas, dan dia memberikan dukungan kepada pemerintah Israel?”

Cameron menjawab bahwa dia tahu bahwa Halfon sangat sensitif atas isu-isu ini,” namun operasi militer harus dilakukan dengan penuh kehati-hitan untuk menghindari eskalasi lebih jauh.”

“Sangat penting bahwa Inggris berdiri disamping Israel seperti keinginannya untuk mencari keadilan bagi siapapun yang bertanggung jawab dan diseret ke pengadilan,” katanya.

Strizzolo juga mengatakan bahwa dia “siap untuk melakukan segala sesuatu” untuk para anggota parlemen sehingga tidak boleh mengatakan tidak.  “Maka anda siap segala sesuatunya untuk mereka, sulit bagi mereka untuk mengatakan “oh tidak, saya tidak punya banyak waktu. Maka jika mereka telah memiliki pertanyaan untuk PM, sulit untuk mengatakan,” oh tidak, saya tidak akan melakukannya.”

 

Halfon tidak bersedia berkomentar atas pengungkapan rekaman tersebut.

Masot adalah mantan mayor dalam angkatan laut Israel yang menggambarkan posisinya di kedutaan sebagai penempatan politik dan bukan diplomat karir.

Dia mengatakan bekerja untuk kementerian urusan strategis yang didirikan oleh Netanyahu untuk melakukan apa yang digambarkannya sebagai “perang rahasia Israel melawan gerakan BDS (boikot Israel).

Masot mengatakan bahwa Mark Regev, duta besar Israel sekarang adalah sahabatnya, walaupun di kesempatan lainnya lebih condong menyebutnya sebagai seorang “dovish” (lebih suka pendekatan damai).

“Mark Regev, dia selalu menanyaiku, yah dia sahabat baik,” katanya.

“Namun orang-orang yang mengitarinya adalah orang-orang baik, menyenangkan, Mark adalah orang baik, namun dia bukannya orang siap berperang.”

Dalam pernyataannya, Strizzolo menyatakan percakapannya dengan Masot lebih merupakan “gosip dan bualan” yang biasa terjadi dalam konteks sosial.

“Usulan yang saya sebagai pegawai negeri pendidikan dapat lakukan adalah hal sulit,” kilahnya.

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *