Rusia dan Iran Ancam AS Jika Lakukan Serangan Lagi

Rusia mengecam serangan AS pekan lalu dan mengancam bahwa serangan berikutnya AS akan merusak keamanan global.

AS mengatakan bahwa serangan ke pangkalan angkatan udara Suriah dilakukan dalam rangka merespon penggunaan senjata kimia rejim Suriah fi kots Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib yang menewaskan setidaknya 87 orang.

Rusia mengklaim bahwa korban yang tewas karena senjata kimia yang berasal dari gudang pasukan pemberontak. Oleh karena itu, Rusia mendesak diadakan penyelidikan internasional.

Ketika menerima sekutunya Iran dan Suriah di Moskow Jumat untuk pertemuan trilateral atas perang sipil di Suriah, Menlu Rusia Sergey Lavrob mengatakan serangan yang sama akan mengakibatkan “konsekuensi yang menyedihkan tidak hanya untuk kemanan regional, namun global.”

 

“Kami menegaskan posisi kita dan bersatu dalam menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan agresi, yang melanggar prinsip hukum internasional dan piagam PBB”, ungkap Lavrov.

“Kami menyerukan AS dan sekutunya untuk menghormati kedaulatan Suriah dan membatasi diri dari tindakan yang sama atas apa yang terjadi pada 7 April demi menghindari akibatnya tidak hanya bagi keamanan regional, namun global,” ancamnya.

 

Korban senjata kimia menuntut keadilan

Kami tidak ingin proses perdamaian terganggu,” tambahnya.

3 negara (Rusia, Iran dan Suriah) menyerukan adanya penyelidikan internasional yang independen atas serangan senjata kimia dan serangan rudal aS.

Menlu Suriah Walid Muallem menyambut para penyelidik internasional untuk mengunjungi pangkalan udara yang diklaim Washington menjadi tempat peluncuran serangan senjata kimia.

“Pemerintah Suriah berulang kali mengatakan kami tidak mempunyai senjata kimia. Ini karena semuanya telah diserahkan pada 2014. Apa yang terjadi di Khan Sheikhoun merupakan pemalsuan dan angkatan udara Suriah tidak menggunakan senjata kimia.”

Menurut Rusia, penyelidikan awal yang dilakukan badan senjata kimia PBB harus diperluas dengan memasukkan para ahli dari banyak negara,

“Jika partner kami AS dan beberapa negara Eropa percaya versinya silahkan, mereka tidak punya alasan untuk takut dengan pembentukan kelompok independen,” tukasnya. “Penyelidikan harus transparan dan tidak menimbulkan keraguan bahwa seseorang menyembunyikan sesuatu.”

Wartawan Aljazeer Rory Challand melaporkan dari Moskow bahwa Rusia, Suriah dan Irak khawatir serangan rudal jelajah Tomahawk memberikan sinyal keterlibatan lebih jauh AS dalam konflik Suriah.

 

 

 

“Sebelum serangan rudal tersebut, AS sebelumnya melihatkan ketidakpeduliannya untuk melakukan serangan terhadap Assad. AS memerangi ISIL dan mendukung kelompok pemberontak di lapangan,” kata Challands.

Lavrov sebelumnya telah bertemu dengan Menlu AS Rex Tillerson di Moskow. Sembari menekankan pentingnya membangun kembali hubungannya dengan Rusia, Menlu AS juga mengecam dukungannya kepada diktator Assad.

AS telah menegaskan tindakan kejahatan Assad terhadap kemanusiaan, termasuk serangan atas penduduk sipil dengan senjata kimia.

Apakah Rusia akan Meninggalkan Assad?
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *