Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/post-template.php on line 275

Said Nursi: Ulama Usmani Melawan Republik Sekuler Turki

Pepayah mengatakan,” kematian orang bijak seperti kematian alam semesta.” mereka yang menggabungkan kapasitas intelektual dengan jiwa yang suci seperti lilin yang menerangi kegelapan dunia. Seperti yang dikatakan Al Qur’an diantara umat manusia hanya orang-orang bijaksana saja yang menghormati Allah karena mereka adalah contoh orang-orang yang berani melawan kezaliman dengan tekad baja dan perjuangan terus menerus.

Bahkan Jasadnyapun Mengganggu Penguasa

Bediüzzaman Said Nursî membagi kehidupannya kedalam tiga kategori: Said lama, Said baru dan Said ketiga. Dalam era Said Lama (1876-1927) dia aktif dalam politik keseharian. Dia bermimpi membangun universitas yang dinamakan “Medresetuz Zehra” dimana ilmu fisika diajarkan bersama dengan mata pelajaran agama. Dia mengabdikan hidupnya untuk merelisasikan impiannya. Di satu sisi, dia membela legitimasi konstitusi melawan penindasan dan otokrasi, namun disisi lain, dia bergerak untuk menahan kejatuhan Usmani. Dia ditawan oleh Rusia yang sedang menginvasi Anatolia timur. Namun, hal ini tidak menghentikannya menulis buku kecil untuk menjawab pertanyaan filosofis yang diarahkan untuk melawan pemikiran Islam. Dia menulis tafsir Qur’an “Isharat-ul Ijaz” selama perang dengan Rusia di Kaukasus dibawah kondisi yang sulit.

Semua Hambatan Kemajuan Kaum Muslimin: Ketidakpedulian, Kemiskinan dan Pemberontakan

Ambisi yang membakar Nursi untuk  mendirikan “Medresetuz Zehra” mendominasi agendanya dalam pelbagai konperensi yang dia hadiri dan buku-buku yang dia tulis bersama dengan para pejabat senior pemerintahan. Dia berpikir bahwa institusi ini akan menawarkan pengobatan atas penderitaan intelektual Muslim di abad tersebut.

Setelah dia memutuskan untuk menempuh kehidupan tertutup di bagian timur Anatolia setelah perang, dia dipaksa mengintegrasikan kembali kehidupan sosialnya. Nursi menganggap hal ini sebagai peringatan dari Allah dan terus mencari solusi atas problem dunia Islam. Dia secara intelektual bersemangat menganalisis permasalahan Muslim di seluruh dunia. Dia yakin bahwa problem utama yang menyebabkan kekalahan dunia Muslim karena ketidakpedulian, kemiskinan dan hilangnya persatuan. Menurut Mursi, problem-problem mendorong anarki dan pengkhianatan.

Sebagai upaya memecahkan masalah ini, dia mengusulkan pembukaan “Medresetuz Zehra”, yang kemudian memiliki banyak cabang di provinsi Anatolia timur seperti Van, Bitlis, Siirt dan Diyarbakir yang banyak dihuni penduduk Kurdi dan Armenia. Bahasa pendidikannya adalah bahasa Turki, Kurdi, Arab dan Persia.

Dalam upayanya mencari sumber keuangan untuk membuat universitas, Nursi menemui Sultan sebagai langkah awalnya. Namun, setelah dia meminta untuk bertemu dengan Sultan Abdulhamid II untuk menjelaskan keinginannya, justru serangkaian masalah kemudian muncul. Permintaannya ditolak. Surat yang disampaikan disalahpahami, Sultan sebaliknya menarinya gaji yang sebenarnya bukan merupakan keinginan Nursi. Ketika Nursi mengembalikan tawaran Sultan tersebut, dia malah dikirim ke rumah sakit jiwa di Istanbul. Dia dianggap memiliki keterkaitan dengan meletusnya Gerakan 31 Maret, yakni adanya bentrokan dalam tubuh militer untuk menjatuhkan Sultan, dan kemudian diseret ke pengadilan. Meskipun jaksa penuntut mengajukan hukuman mati bagi Nursi, namun pembelaannya yang dipersiapkannya dengan baik membebaskan dirinya dari tuntutan hukum tersebut.

Setelah peristiwa itu, dia kembali ke Van dari Istanbul dan menghabiskan banyak waktunya mempersiapkan latar belakang intelektual bagi gagasan Medresetuz Zehra yang hendak didirikannya. Dia mempersiapkan pelbagai rencana, termasuk persiapan kurikulum dan laporan keuangan. Nursi kemudian berangkat menunaikan ibadah Haji. Selama perjalanannya, dia memberikan banyak ceramah di setiap kota yang dikunjunginya, dan yang terakhir di Masjid Umayyah Damaskus, dimana dia mendengar bahwa pemerintah di Istanbul telah berganti. Nursi menganggap ini sebagai kesempatan dan membatalkan keinginannya untuk melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Ketika sampai di Istanbul di diterima oleh Sultan baru, Mehmet V.

Dengan dukungannya, pembangunan Medresetuz Zahra dimulai di pantai Danau Van. Ketika impiannya mulai terealisasi, kesulitan baru justru menghampirinya. Perang Dunia I, yang mendorong kejatuhan Khilafah Usmani. Keinginan Nursi tidak terselesaikan seiring semakin meningkatnya tekanan atas Khilafah. Rusia menyerang Turki dengan bantuan milisi Armenia. Setelah dia mendirikan sekelompok relawan, yang terdiri atas  murid-muridnya, Nursi bergabung dalam perang dalam rangka melindungi Van. Dia ditangkap, sementara beberapa muridnya syahid dalam pertempuran termasuk keponakannya Ubeyd. Dia kemudian berhasil lolos dari kamp tahanan di Rusia dengan bantuan seorang yang dia katakan berpakaian seperti orang Arab. Ketika dia kembali ke Anatolia. dia meneruskan pekerjaannya yang terbengkalai untuk membangun Medresetuz Zahra.

Mantan PM Inggris Gladstone mengatakan: “Kami tidak dapat mengendalikan Muslim sepanjang mereka masih berhubungan dengan Qur’an. Apakah kita ambil kitab ini dari mereka atau jauhkan Al Qur’an dengan Muslim.”

Membaca pernyataan ini, Nursi sangat marah dan mengatakan: “Saya akan buktikan Qur’an adalah matahari spiritual yang tidak akan pernah padam di dunia”. Hal ini menjadi titik balik karir intelektual Nursi berikutnya, dia memfokuskan diri untuk membuktikan mukjizat Al Qur’an dan mengaitkannya dengan fakta-fakta ilmiah.

Karena adanya undangan terus menerus, Nursi memutuskan berpindah ke Ankara pada 1922, setahun sebelum deklarasi berdirinya Republik Turki. Kunjungannya ke parlemen Turki, yang  dianggap tidah sah oleh kesultanan Usmani di Istanbul disambut meriah. Meskipun mendapatkan penerimaan hangat di Ankara, Nursi sangat terganggu oleh ketidakpedulian para anggota parlemen terhadap prinsip-prinsip Islam. Dalam rangka memperingatkan mereka, Nursi membuat tulisan yang mengundang perhatian jamaah shalat. Dalam tulisan itu, dia menjelaskan prinsip, nilai dan ide yang diinginkan kaum Muslimin Usmani kepada para wakil mereka untuk berjuang memenangkan Perang Kemerdekaan.

Tampak jelas bahwa Nursi tidak dapat tinggal diam terhadap gaya hidup mereka yang tidak islami dan berupaya mengubahnya dengan cara yang bijaksana. Setelah terjadinya perubahan rejim di awal era Republik, periode kedua kehidupan Nursi dimulai. Fase ini ditandai dengan pengasingan dirinya. Selama masa itu, dia banyak menulis pemikiran agama untuk membantah pengaruh positivisme yang semakin berpengaruh. Nursi memusatkan energinya dengan mendidik murid-muridnya melalui surat dan pamflet setelah rejim yang berkuasa memaksanya berpindah dari kota ke kota. Dia tidak memiliki apa-apa kecuali hanya kacamata, cangkir teh, sajadah dan Qur’an. “Keadaan memaksaku bepergian sendiri dari gunung ke gunung”, katanya, tidak juga mengeluh, namun bersyukur atas setiap tantangan yang dihadapinya.

Pada 1935, Nursi dan beberapa muridnya ditahan dan dijebloskan ke penjara. Diilhami oleh Nabi Yusuf, Nursi menganggapnya penjara sebagai kesempatan -pendidik Yusuf- untuk mengajari orang-orang yang tinggal di dalamnya dan mengajaknya untuk berakhlak mulia. Disepanjang hidupnya hingga wafatnya pada 1960 dihabiskan dalam penjara atau berada dalam pengasingan di desa-desa terpencil di Anatolia, menulis dan menyebarkan surat-suratnya (risalah) untuk mengajari para pengikutnya tentang prinsip-prinsip dasar Islam. Kumpulan tulisannya lebih dari 1ooo halaman, dicetak dan disebarkan kembali oleh para pengikutnya di pelbagai kota dan desa di Turki.

Akhirnya, dia menyerukan semua pengikutnya dalam kitabnya “Munazarat”, “Jangan takut. Keseimbangan secara bertahap akan berpihak  ketika kebebasan, harga diri dan peradaban menjadi hal yang dihormati di mata manusia. Jika mereka membunuh kita dengan memotong-motong tubuh kita menjadi 20 bagian, kita akan kembali menjadi 300.Kita akan mengarahkan kemanusiaan segera setelah kita menyingkirkan konflik yang memecah belah kita. Kita tidak takut mati yang akan membawa kita kepada kehidupan yang tidak berakhir. Islam akan tetap ada walaupun kita mati. Bahkan masa depan yang jauh itu sebenarnya dekat.”

 

Facebook Comments

Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u692536656/public_html/wp-includes/class-wp-comment-query.php on line 405

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *