Senjata ISIS Terlacak Berasal dari AS dan Saudi

Senjata-senjata yang disuplai AS dan Arab Saudi untuk para pejuang oposisi banyak yang jatuh ke tangan ISIS sehingga memperkuat jumlah dan kualitas kekuatan persenjataan kelompok ini, demikian hasil studi kelompok monitoring Conflict Armarment Research (CAR) Selasa.

Laporan pelbagai senjata ISIS didapatkan dari hasil studi lapangan tentang senjata dan asal usulnya selama 3 tahun di Irak dan Suriah.

Kelompok monitoring ini menganalisis lebih dari 40 jenis senjata yang dimiliki, termasuk senjata, amunisi dan material yang digunakan untuk membuat bahan peledak.  Beberapa didapatkan kelompok ini melalui pergeseran aliansi dalam tubuh oposisi Suriah. 

Riset mengatakan kebanyakan senjata dirampas dari tentara Suriah dan Irak, namun beberapa lainnya didapatkan dari negara-negara lain yang terlibat dalam konflik di Suriah.

“Irak dan Suriah telah melihat kekuatan senjata ISIS yang besar, yang disuplai oleh negara-negara seperti Arab Saudi dan AS yang melawan koalisi anti ISIS dimana  dua negara tersebut memberikan dukungannya,” ungkap CAR.

Semua senjata yang diuji dibuat oleh negara-negara Uni Eropa dan disalurkan ke kelompok-kelompok bersenjata di Suriah, dimana tertera klausul dalam kontrak AS dan Saudi perihal larangan pengiriman kembali ke pihak ketiga. 

Namun dalam praktiknya, “menunjukkan bahwa AS telah berulang kali mengalihkan pengiriman senjata yang dibuat oleh Uni Eropa ini ke pihak-pihak lain, sehingga pada akhirnya ISIS mendapatkan senjata tersebut dalam jumlah besar,” beber CAR.

Sekitar 90 persen senjata dan amunisi yang digunakan oleh ISIS berasal dari China, Rusia dan Eropa Timur, mengalahkan jumlah senjata dari negara-negara lain. 

“Temuan ini mendukung asumsi yang tersebar luas bahwa kelompok ini pada awalnya mendapatkan senjata rampasan dari pasukan Irak dan Suriah,” tulis laporan tersebut.

Kelompok monitor ini mengatakan bahwa senjata dan amunisi dari negara-negara Barat sekitar 10 persennya.

Infomasi ini menjadi “pengingat atas banyaknya kontradiksi dalam penyaluran senjata kepada pelbagai kelompok bersenjata yang saling tumpang tindih dan berebut satu sama lain.”

Organisasi ini telah melaporkan tahun lalu bahwa ISIS telah memproduksi senjata standar militer di Irak.

Sabtu, Irak menyatakan berakhirnya perang melawan ISIS setelah merebut Rawa, salah satu basis terakhir mereka. 

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan untuk menarik mundur pasukannya dari Suriah dalam kunjungannya ke pangkalan militer Rusia di Suriah, Senin. 

Perang sipil di Suriah telah berlangsung 6 tahun lebih.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *