Setelah Tuduh Qatar, Trump Tawarkan Mediasi

Presiden Donald Trump menelpon Amir Qatar dan menawarkan bantuannya untuk mengatasi krisis diplomatik dengan negara-negara tetangganya di Teluk. 

Dalam telponnya kepada Amir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad Al Thani, Trump mengatakan “kesiapan dirinya untuk mencari solusi atas krisis diplomatik di Teluk dan menekankan pentingnya stabilitas Teluk”.

Trump sebelumnya memperkeruh ketegangan setelah terang-terangan mendukung Arab Saudi dan menuduh Qatar mendanai kelompok teroris. Dalam twitnya, Trump menyebut semua telunjuk mengarah kepada Qatar sebagai pemberi dana kelompok ekstrimis, sebuah tuduhan yang mengejutkan mengingat Qatar menjadi pangkalan angkatan udara AS terbesar di Timur Tengah.

Namun tampaknya kemudian Trump berbalik arah, menyerukan persatuan negara-negara Teluk dan menawarkan bantuan kepada Qatar untuk menyelesaikan konflik. 

Mediasi Amir Kuwait

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dan menutup akses udara, laut dan darat yang menghubungkan Qatar. Keempat negara itu juga memberikan waktu 2 pekan kepada warga Qatar untuk keluar dari negara mereka. 

Perselihan tersebut menjadi krisis diplomatik terbruruk di dunia Arab dan mengundang kecemasan akan semakin meningkatkan instabilitas di wilayah yang rentan ini. 

Sementara itu, Kuwait menjalankan upaya diplomasi untuk mencari solusi damai. 

Amir Kuwait, Syeikh Sabah al Ahmad al Sabah bertemu dengan penguasa Dubai Syeikh Mohammed bin Rashid al Maktoum dan beberapa pejabat senior lainya di Dubai, Rabu setelah sebelumnya bertemu dengan Raja Salman, Arab Saudi. 

Setelah itu, Amir Kuwait itu dijadwalkan bertolak menuju Qatar. 

Sebelumnya, Syeikh Sabah pernah memainkan peran penting dalam memfasilitasi penyelesaian perselihan diplomatik antara Arab Saudi, Qatar dan negara-negara Teluk lainnya pada 2014. 

AS, Perancis dan Rusia juga menyerukan penyelesaian dialog, sementara Turki membela Qatar dan mengatakan akan “meningkatkan” hubungannya dengan negara  tersebut. 

Parlemen Turki menyetujui penempatan tentara Turki di pangkalan militer di Qatar, langkah yang dilihat sebagai tanda dukungan terhadap Doha. 

Menlu Jerman Kritik Trumpifikasi Timur Tengah

Sebelumnya, Menlu Jerman Sigmar Gabriel menyatakan bahwa “upaya Trumpifikasi hubungan dengan negara lain berbahaya di kawasan yang telah mengalami krisis,” pernyataan yang mengacu model kepemimpinan Trump yang memicu krisis. 

Menlu Jerman mengaku merasa terkejut dengan perkembangan konflik di Timur Tengah. 

“Qatar tampaknya akan sedikit banyak terisolasi dan menjadi sasaran secara eksistensial,” tambahnya. “Eskalasi lebih lanjut tidak akan menguntungkan siapapun. Timur Tengah telah menjadi bubuk mesiu militer dan politik.”

 

Gabriel juga mengecam Trump atas penjualan senjata AS ke arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. 

Qatar sejak lama dikenal sebagai negara yang independen dalam kebijakan luar negerinya, diantaranya menjadi suaka bagi para pemimpin Ikhwanul Muslimin dan Hamas. dan mendukung kelompok oposisi moderat di Suriah. Langkah ini menimbulkan kemarahan Arab Saudi dan negara-negara tetangga lainnya.

Arab Saudi dan sekutu Teluknya mengambil langkah keras terhadap Qatar pasca kunjungan Trump ke Riyadh sebulan lalu, yang dianggap sebagai lampu hijau AS bagi tindakan diplomatik yang lebih keras terhadap Qatar yang dituduh mendukung terorisme dan bersahabat dengan Iran.

Riyadh pernah menghadapi tudingan mendukung terorisme, khususnya setelah peristiwa 11 September 2001. Dari 19 pembajak pesawat, 15 diantaranya berasal dari Arab Saudi, sementara penggagas Al Qaeda yang menjadi otak serangan berasal dari Arab Saudi.  

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *