Siapa yang Diuntungkan Dengan Yaman Lemah dan Terpecah?

Provinsi Yaman selatan kini menyaksikan pergolakan politik dan kemaanan setelah gubernur Aden yang dipecat, Aidarous al Zubaidi mengumumkan pembentukan dewan transisi di wilayah ini.

Perkembangan ini dilihat banyak analis sebagai langkah baru menuju proses pemisahan antara Yaman selatan dan utara. 

Bukan langkah baru bagi Yaman selatan.

Gerakan selatan, yang dikenal dengan nama Al Hirak al Janoubi menyerukan pemisahan Yaman selatan. Gerakan ini tidak berhenti mewujudkan cita-citanya sejak didirikan pada 2007, selam era pemerintahan diktator Ali Abdullah Saleh. 

Seruan pemisahan terbaru telah menarik perhatian para pemimpin selatan yang tinggal di luar Yaman, termasuk mantan presiden Yaman selatan Ali Salim al Beidh, yang pernah menandatangani pakta persatuan dengan Saleh yang menandai bergabungnya Yaman selatan dan utara pada 1990.

Al Beidh melihat pembentukan dewan pemerintah transisi di Yaman selatan menjadi langkah besar menuju pembebasan Yaman selatan.

Pembentukan dewan transisi merupakan jawaban atas keputusan Hadi yang memecat dua pejabatnya yang dekat dengan Uni Emirat Arab, yakni Zubaidi dan menteri Hani bin Braik. hani memimpin kelompok keamanan yang terdiri atas ribuan milisi.

UEA menguasai pelabuhan dan bandara Aden,  yang dianggap sebagai salah satu pelabuhan paling penting, sejak direbut kembali dari pasukan Saleh-Houthi pada pertengahan 2015.

Dewan transisi selatan yang baru dibentuk terdiri dari 26 anggota. Tujuannya adalah mengelola Yaman selatan didalam Yaman dan merepresentasikannya di luar negeri, ungkap Zubaidi. 

Dewan separatis Selatan telah mengundang debat diantara para pengambil kebijakan di Yaman dan Teluk. Belum ada dukungan secara lokal maupun diantara negara-negara kerjasama Teluk (GCC) karena Yaman sendiri sekarang sedang berperang antara pemerintah yang didukung koalisi Saudi dengan pemberontak Houthi dan pasukan mantan presiden Saleh yang didukung Iran. 

Dalam menanggapi pembentukan dewan transisi, GCC menyatakan dukungannya kepada pemerintah Hadi dan persatuan Yaman serta menolak pemisahan. Namun, krisis ini jauh dari kata berakhir.

Pemisahan Yaman selatan akan memperlemah otoritas pemerintah di Yaman dan akan mengakibatkan kegagalan operasi militer koalisi Saudi, sebaliknya menjadi kemenangan sekutu Iran, yakni Houhti dan pasukan yang loyal kepada Saleh. 

Penting bagi koalisi Saudi untuk terus menyelesaikan targetnya membebaskan Yaman dari pemberontak, perang melawan “teror” dan menjamin keamanan perbatasan Arab Saudi, terlebih Saudi kini tengah menghadapi perang brutal melawan pasukan Houthi-Saleh di dekat perbatasan di sebelah selatan. 

Karena AS menyatakan keinginannya untuk berpartner dengan Arab Saudi dalam perang melawan teror, seperti dalam KTT yang dihadiri Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin Arab dan dunia Islam, maka seruan bagi kemitraan baru untuk menghadapi ekstrimisme dan terorisme menjadi isu penting dalam mempertahankan stabilitas Yaman. 

Penting pula mendorong pemerintah Yaman menegakkan kedaulatannya dan membangun pasukan militer dan keamanan sendiri agar dapat menghadapi pasukan bersenjata yang tersebar di seluruh Yaman selatan, khususnya eksistensi Al Qaeda di semenanjung Arabia (AQAP) yang dipimpin Qassim al Raymi, menyusul tewasnya Nasser al Wuhaysi dalam serangan udara AS dan juga kelompok ISIS.

Sejak Houthi dan pasukan Saleh melancarkan kudeta pada 21 September 2014, kelompok-kelompok bersenjata ini melancarakan sejumlah serangan di kota-kota Yaman menarget Houthi, koalisi pimpinan Saudi dan pasukan pemerintah Yaman. 

Raymi baru-baru ini mengancam presiden Yaman Abd Rabbu Mansur Hadi lewat media mereka, Malahem Media.

Dia menuduh Hadi sebagai kaki tangan AS. Raymi menambahkan bahwa AS ingin mengeksploitasi Hadi setelah dipermalukan dalam operasi di provinsi Bayda akhir Januari. 

Setidaknya 10 warga sipil dan 1 tentara AS tewas dalam operasi tersebut, beberapa prajurit juga terluka dan 1 pesawat jatuh.

Ancaman Raymi tidak pelak menunjukkan bahwa kelompok bersenjata seperti AQAP dan ISIS menunggu waktu tepat untuk mengambil alih kendali provinsi-provinsi Yaman ketika pasukan pemerintah lemah. 

Video yang dipublikasikan oleh lembaga berita ISIS menunjukkan bahwa operasi yang dilakukan oleh kelompok ini di provinsi Bayda di Timur Yaman menjadi contoh lain eskalasi ancaman kelompok bersenjata ini. 

Para pengamat yakin bahwa kelemahan pemerintah Hadi dan kegagalan mereka untuk mengendalikan Yaman selatan akan memberi jalan bangkitnya kelompok-kelompok bersenjata di kawasan ini, memberikan dasar bagi tumbuhnya AQAP dan ISIS serta membuka pintu pelbagai kelompok ini menebar teror dan kekacauan di kawasan ini. 

Kondisi ini akan memberi dampak negatif dalam keamanan negara-negara Teluk dan keamanan dunia karena kelompok ini berupaya mengambil keuntungan dari negara-negara yang lemah dan mengeksploitasi sebagai basis aksi terorisme mereka di negara-negara lain, seperti AS dan Eropa.

Banyak pakar Yaman percaya bahwa Iran akan menjadi pengambil keuntungan terbesar dari kekacauan ini, sebagaimana Iran membantu sekutunya, Houthi mendapatkan kekuasaan setelah sebelumnya dikalahkan di pantai barat Yaman dan kawasan lainnya. 

Oleh karena itu, menjadi penting bagi negara-negara Teluk dan barat untuk bersatu mendukung pemerintah Hadi, membantu menegakkan kedaulatannya atas kawasan ini serta membebaskan diri dari para pemberontak Houthi dan pasukan Saleh di utara. Mereka juga mencegah setiap upaya untuk melemahkan pemerintahan Hadi dan setiap upaya pemisahan yang dilakukan di bagian selatan.

Setiap ancaman atas pemerintahan Hadi juga menjadi ancaman bagi Arab Saudi, karena terbukanya perbatasan Yaman akan membuka pintu teror bagi Arab Saudi dan negara-negara tetangga lainnya. 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *