Siapa yang Lebih Jahat, Putin atau Baghdadi?

Kisah ini jauh lebih berbahaya ketimbang Aleppo meskipun kejahatan perang sedang terjadi disana. Kisah ini lebih besar daripada Mosul meskipun kedudukan kota ini penting sebagai keseimbangan Turki-Iran di tanah Irak yang sedang bergolak. Kisah jauh lebih besar ketimbang runtuhnya sebuah negara atau rivalitas Sunni-Syiah. Lebih besar dari gelombang pembunuhan massal dan pengungsi. Kisah ini juga jauh lebih besar dari kisah Daesh.

Kita berada dalam titik awal Rusia versus Barat bagi hegemoni sehingga menempatkan ekonomi dan stabilitas dunia dalam pertaruhan. Tidak ada titik kesamaan jika dibandingkan dengan peristiwa di masa lalu ketimbang tak terhitung banyaknya tentara yang mati atau bahkan krisis misil Kuba pada era 60-an sekalipun. Kita sekarang berada dalam dunia yang benar-benar berbeda.

Saya tidak akan membuat asumsi yang terburu-buru atau mengklaim bahwa skenario emosioanl akan pecah. Saya akan berhenti dan mempertimbangkan kata-kata seorang pejabat yang tidak dengan membuat asumsi: “Ini adalah kesalahan jika berpikir bahwa ini adalah Perang Dingin baru,” kata Menlu Jerman Frank Walter-Steinmeir. “Namun waktu sekarang ini lebih sulit dan berbahaya.” 

Hal yang sama, Wolfgang Ochener, yang pada waktu menjadi penghubung bagi Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa selama krisis Ukrainia, menyatakan adanya resiko besar konfrontasi militer. “Resiko ini tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang pernah terjadi selama puluhan tahun antara Barat dan Timur.”

Apa yang terjadi di Dewan Keamanan, yang berkaitan dengan inisiatif Rusia dan Perancis dalam menyelesaikan krisis Aleppo, mendukung pernyataan para pejabat Jerman tersebut. Ini tidak sesederhana bagi negara-negara Barat untuk membuat tuduhan kuat kejahatan perang terhadap Rusia karena aksinya di Aleppo. Moskow dapat dengan mudah merespon dengan mengatakan bahwa inisiatif Perancis hanya akan memperkuat dan melindungi para teroris.

Rusia tidak akan membiarkan pihak manapun untuk menarik garis merah yang akan membatasi ruang manuver mereka di Aleppo dan Suriah secara lebih luas. Duta besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menggagalkan inisiatif Perancis dengan mengeluarkan hak vetonya. Ini menjadi veto Rusia kelima kalinya sejak 2011 untuk memblok inisiatif atas Suriah dengan cukup mengacungkan jarinya. Churkin adalah kepanjangan Putin yang sedang mengancam Barat.

Veto Rusia telah mendorong Barat kembali ke papan gambarnya. Barat tidak tergerak ketika Putin mengintervensi Suriah dan Barat melihatnya sebagai Suriah Rusia ketimbang Suriah Iran atau Suriah Daesh. Ada yang salah mengimajinasikan bahwa pemimpin Rusia akan menurunkan rejim Assad dan oleh karena itu Rusia bertanggung jawab atas kemenangan politik yang segaris dengan konperensi Jenewa atau sesuatu yang seperti itu.

Keputusan Barack Obama tentang isu Suriah jelas; dia menolak masuk kedalam konflik dan menganggapnya tidak cukup penting bagi AS untuk kehilangan nyawa pasukan AS disana. Washington tidak ingin bertanggung jawab untuk membangun kembali Suriah pasca perang. AS merasa cukup memaksa rejim Assad untuk menyerahkan senjata kimianya dan kemudian melenggang pergi.

Kini, Barat membuka bukunya kembali tentang politik agresif Putin dari Krimea, Ukraina hingga Suriah. Ketakutan atas Rusia kini berdampak dalam pemilu presiden AS.

Jelas bahwa Barat kini mengkalibrasi kembali perhitungannya. Dalam lingkaran pengambilan keputusan mereka, tidak ada yang menduga bahwa jari yang terangkat  milik Putin akan melanggengkan perang di Suriah dan merusak rencana intervensi. Presiden Rusia sedang membangun piramid dengan batu batu nyawa penduduk Suriah hingga dia dapat menang seperti yang diinginkannya. Dia ingin memperpanjang migrasi massal ke Barat. Dia ingin menenggelamkan Eropa dengan para pengungsi sehingga menggoyang stabilitas dan keamanan Eropa dan negara-negara NATO. Dia ingin  presiden baru AS mendatang tidak punya pilihan, kecuali mengakui bahwa Rusia telah menang perang di Suriah dan bahwa kemenangan baru diperoleh dalam ketegangan dua negara adi kuasa.

 

 

Kemudian, siapa yang musuh utama Barat, Vladimir Putin atau Bahghdadi Daesh? Pertanyaan ini mungkin aneh, namun yang apa yang terjadi di dunia ini membutuhkan penjelasan.

Apa yang telah dilakukan Al Baghdadi adalah hal serius. Dia telah merusak lanskap kesejarahan dan kendali atas Mosul. Dia menghapus perbatasan Suriah-Irak dan menghancurkan perjanjian Sykes-Picot. Dia mengirim Daesh ke seluruh penjuru dan racunnya menyebar melintasi perbatasan dan benua. Pemimpin Daesh telah melakukan banyak kejahatan dan mengobarkan permusuhan antara Sunni dan Syiah, menebarkan garam diatas luka etnik minoritas sehingga menjadi ko-eksistensi (keharmonisan) menjadi hal tidak mungkin lagi.

Al Baghdadi menganggu dunia dan menjadi musuh utama dunia nomer satu. Siapa yang akan bertanya di ibukota-ibukota Barat sejatinya ancaman yang berbahaya? Putin telah mengambil keuntungan dengan naiknya Baghdadi dengan mengendalikan arah politik di Suriah. Dia ingin balas dendam kepada Eropa Baray yang telah menghancurkan Uni Soviet tanpa satu peluru sekalipun. Dia ingin balas dendam kepada NATO yang terus menerus membangun citra buruk Rusia. Waktunya telah dianggap tepat bagi Barat untuk menerima sang tsar baru dan memahami bahwa Suriah adalah model bagi apa yang datang di kawasan Timur Tengah dan dimanapun juga.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *